BELAKANGAN ini, singkatan MBG sering kali menjadi bahan perbincangan di ruang publik. Banyak orang memiliki tafsirnya masing-masing. Namun bagi saya, MBG memiliki makna yang berbeda. MBG adalah Mas Bahlil bukan Gnaeus.
Tentu yang saya maksud bukan sekadar perbedaan nama antara Bahlil Lahadalia dan Gnaeus Pompeius Magnus, tokoh besar dalam sejarah Romawi kuno yang lebih dikenal sebagai Pompey Agung. Yang saya maksud adalah perbedaan jalan hidup, proses kepemimpinan, dan cara keduanya memperoleh posisi dalam sejarah.
Saya mengenal Kanda Bahlil Lahadalia jauh sebelum beliau menjadi Menteri, jauh sebelum memimpin investasi nasional, dan jauh sebelum dipercaya menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Saya mengenalnya ketika beliau masih menjadi senior Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Papua. Saat itu, jabatan besar belum melekat pada dirinya. Yang ada hanyalah semangat perjuangan, optimisme, dan keyakinan bahwa masa depan dapat dibangun melalui kerja keras.
Bagi kader-kader HMI di Jayapura pada masa itu, Kanda Bahlil bukan hanya seorang senior organisasi. Beliau adalah simbol bahwa keterbatasan ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah. Beliau menunjukkan bahwa pendidikan, organisasi, dan keberanian mengambil peluang merupakan jalan untuk mengubah nasib.
Saya masih mengingat salah satu momentum pada tahun 2007 dalam kegiatan Pleno I BKPRMI Provinsi Papua. Saat itu saya mendapat amanah untuk membacakan hasil sidang komisi.
Kanda Bahlil menjabat sebagai Bendahara Umum BKPRMI Provinsi Papua, sedangkan Kanda Hasbi Suaib menjadi Ketua Umum. Seingat saya, periode 2006-2011.
Pada masa itu, kegiatan organisasi sering berlangsung hingga tengah malam. Ketika sebagian besar masyarakat sedang terlelap dalam tidurnya, kami para aktivis masih berkumpul dalam forum-forum organisasi. Ada yang menyusun rekomendasi, membahas program kerja, berdebat mengenai gagasan, hingga merumuskan langkah-langkah strategis untuk organisasi dan pembangunan daerah.
Di ruang-ruang sederhana itulah karakter kepemimpinan banyak tokoh dibentuk, termasuk Kanda Bahlil. Beliau bukan tipe pemimpin yang muncul secara tiba-tiba. Tidak ada karpet merah yang membentang di hadapannya. Tidak ada jalan pintas menuju kesuksesan. Yang ada adalah proses panjang yang ditempa oleh pengalaman organisasi, dinamika kehidupan, dan kerja keras yang konsisten.
Di sinilah saya kemudian melihat perbedaan menarik antara perjalanan hidup Kanda Bahlil dan kisah-kisah yang banyak tercatat dalam sejarah dunia.
Dalam sejarah Romawi, nama Gnaeus Pompeius Magnus menjadi sangat besar karena keberhasilannya sebagai negarawan dan jenderal. Pengaruh keluarga Pompeius kemudian menjadi bagian dari percaturan politik Romawi pada zamannya. Nama besar keluarga menjadi aset politik yang diwariskan dan terus dikenang oleh generasi berikutnya.
Namun Kanda Bahlil menempuh jalan yang berbeda.
Beliau tidak lahir dari keluarga elite politik nasional. Beliau bukan keturunan penguasa. Beliau tidak dibesarkan dalam lingkungan yang menyediakan akses langsung menuju pusat kekuasaan. Sebaliknya, beliau memulai semuanya dari bawah.
Dari seorang anak daerah yang tumbuh dalam keterbatasan ekonomi, menjadi aktivis mahasiswa, kemudian membangun usaha, memimpin organisasi pengusaha, hingga akhirnya dipercaya menduduki berbagai posisi strategis dalam pemerintahan.
Perjalanan tersebut dibangun langkah demi langkah.
Tidak diwariskan.
Tidak diberikan.
Tetapi diperjuangkan.
Karena itu, ketika saya menyebut MBG sebagai Mas Bahlil bukan Gnaeus, yang saya maksud bukanlah membandingkan dua tokoh dari zaman yang berbeda. Saya hanya ingin menegaskan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari proses pembelajaran yang panjang, bukan semata-mata dari nama besar atau warisan yang telah tersedia sebelumnya.
Bagi saya, pribadi Kanda Bahlil merupakan salah satu contoh bagaimana organisasi menjadi sekolah kepemimpinan yang sesungguhnya. HMI, BKPRMI, PMII, IMM, GMKI, PMKRI, GEMAPI dan berbagai ruang kaderisasi lainnya, sesungguhnya menjadi tempat beliau dan pemuda-pemudi Indonesia dapat belajar memimpin, berdiskusi, membangun jejaring, dan memahami dinamika masyarakat.
Ketika kemudian beliau berhijrah ke Jakarta untuk mengemban amanah sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat HIPMI, banyak di antara kami yang melihat bahwa fase tersebut merupakan awal dari perjalanan yang lebih besar. Dunia usaha menjadi arena pengabdian berikutnya yang berhasil beliau lalui dengan baik.
Kesuksesan demi kesuksesan kemudian hadir. Dari pengusaha nasional, Ketua Umum HIPMI, Kepala BKPM, Menteri Investasi, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, hingga Ketua Umum Partai Golkar.
Namun bagi saya, jabatan-jabatan tersebut bukanlah bagian yang paling penting dari cerita ini.
Bagian yang paling penting adalah proses panjang yang mendahuluinya.
Karena dari proses itulah lahir pengalaman, kematangan, dan kapasitas kepemimpinan yang sesungguhnya.
Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin yang memahami bagaimana rasanya memulai dari bawah. Pemimpin yang mengerti tantangan masyarakat kecil. Pemimpin yang pernah berjuang membangun usaha. Pemimpin yang memahami daerah, memahami investasi, memahami birokrasi, dan memahami politik dalam satu kesatuan pengalaman.
Atas dasar itulah, saya memandang Kanda Bahlil Lahadalia sebagai salah satu figur nasional yang layak diperhitungkan dalam kepemimpinan Indonesia ke depan, termasuk dalam kontestasi politik nasional menuju tahun 2029.
Tulisan ini bukan kampanye politik. Ini adalah catatan seorang junior yang pernah menyaksikan secara langsung perjalanan seorang senior organisasi. Dari ruang-ruang rapat sederhana di Papua hingga ruang-ruang pengambilan keputusan di tingkat nasional.
Perjalanan itu mengajarkan satu hal penting.
Bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang mewarisi kekuasaan. Sejarah juga ditulis oleh mereka yang berani memperjuangkannya.
Karena itu, bagi saya, MBG bukan sekadar singkatan.
MBG adalah Mas Bahlil bukan Gnaeus.
Sebuah simbol tentang kepemimpinan yang lahir dari proses, ditempa oleh perjuangan, dan dibangun melalui kerja keras yang panjang.
Sebuah pelajaran bahwa anak-anak daerah pun dapat berdiri di panggung nasional apabila memiliki keberanian untuk bermimpi, kemauan untuk belajar, dan keteguhan untuk terus berjuang.(Penulis : Anhar Tan AlfataniPresidium MD KAHMI Raja Ampat)






