Upaya Lestarikan Warisan Budaya, Jailolo Adakan Workshop Tenun Tradisional “Singkap Motif Sahu”

DESA Worat-Worat, Kecamatan Sahu, 13 Juli 2026, di tengah hamparan hasil bumi yang didominasi oleh padi ladang yang dikelola melalui tradisi budidaya lokal, serta berbagai komoditas perkebunan dan hasil hutan seperti kelapa, durian, langsat, aren, hingga pisang hutan di kaki bukit Kecamatan Sahu, Kabupaten Halmahera Barat, Desa Worat-Worat kini bukan hanya menyuguhi hasill bumi melimpah, melainkan juga berbau benang kapas yang disiapkan tangan-tangan terampil. Selama tiga hari, mulai hari ini Senin hingga Rabu besok, desa ini menjadi pusat pertemuan bagi para pengrajin, pemuda, dan pemerhati budaya dalam kegiatan Workshop Tenun Tradisional bertajuk “Singkap Motif Sahu”.

Kegiatan dengan tema: Workshop Tenun Tradisional “Singkap Motif Sahu” yang digelar di Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, resmi dibuka oleh Sekda Julius Marau turut dihadiri oleh stackholder lainnya. Dan diikuti 50 peserta.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya lokal yang kian terpinggirkan di tengah arus modernisasi. Tenun Sahu adalah salah satu warisan budaya yang sangat berharga di Maluku Utara, khususnya di kawasan Sahu, Jailolo. Motif-motif yang terkandung dalam kain tenun ini tidak sekadar corak estetika, tetapi juga sarat makna filosofis yang merepresentasikan identitas, sejarah, dan nilai-nilai masyarakat setempat.

Namun, keberadaan tenun tradisional ini semakin terancam punah akibat minimnya regenerasi perajin dan rendahnya minat generasi muda untuk melestarikan serta mengembangkan tradisi tenun tersebut.

Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi telah membawa perubahan besar dalam gaya hidup masyarakat, termasuk dalam hal berpakaian dan memilih produk tekstil. Produk-produk tekstil modern yang diproduksi secara massal dan dijual dengan harga terjangkau kerap menjadi pilihan utama, sehingga menurunkan daya saing kain tenun tradisional. Selain itu, kurangnya eksposur serta dukungan dari berbagai pihak juga menjadi tantangan tersendiri bagi eksistensi tenun Sahu. Jika tidak ada upaya serius untuk mengenalkan kembali keunikan dan keindahan motif Sahu kepada masyarakat luas, terutama generasi muda, dikhawatirkan keahlian menenun yang telah diwariskan secara turun temurun ini akan hilang ditelan waktu.

Oleh karena itu, pelaksanaan workshop ini menjadi sangat penting sebagai sarana edukasi, promosi, dan transfer pengetahuan. Workshop ini dirancang tidak hanya untuk memperkenalkan teknik dasar maupun lanjutan dalam menenun, tetapi juga menggali makna di balik setiap motif Sahu yang kaya akan cerita dan filosofi.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat memahami pentingnya pelestarian tenun tradisional sebagai bagian integral dari kebudayaan lokal, serta belajar langsung dari para perajin yang telah berpengalaman menjaga tradisi ini. Kegiatan ini juga membuka ruang dialog antara generasi tua dan muda agar terjadi alih pengetahuan secara efektif.

Selain aspek edukasi, workshop ini juga berorientasi pada pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal. Dengan meningkatnya keterampilan menenun dan pemahaman akan nilai jual produk tenun, diharapkan para peserta dapat mengembangkan potensi ekonomi kreatif berbasis budaya. Kain tenun Sahu memiliki potensi besar untuk menjadi produk unggulan daerah yang mampu menembus pasar nasional bahkan internasional jika dikelola dengan baik. Upaya ini tidak hanya akan meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga semakin memperkuat identitas budaya Halmahera Barat di mata publik.

Penyelenggaraan workshop ini juga merupakan wujud kolaborasi antara Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara, Pelaku Budaya dan pemerintah daerah, komunitas budaya, serta pihak-pihak pemerhati pelestarian warisan budaya. Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi model sinergi dalam menjaga, mengembangkan, dan mempromosikan kebudayaan lokal secara berkelanjutan. Diharapkan pula, kegiatan ini mampu memicu munculnya inisiatif serupa di wilayah lain, sehingga semakin banyak warisan budaya yang bisa diangkat dan dikenalkan kepada khalayak luas.

Lebih jauh, pelestarian motif tenun Sahu melalui workshop ini juga relevan dengan agenda nasional dalam rangka perlindungan kekayaan intelektual serta penguatan ekonomi berbasis budaya. Pemerintah Indonesia telah menempatkan industri kreatif sebagai salah satu sektor penggerak perekonomian bangsa. Kegiatan seperti workshop tenun ini selaras dengan upaya pemerintah dalam mendukung produk-produk kerajinan lokal agar dapat bersaing di era globalisasi, sekaligus melindungi hak kekayaan intelektual masyarakat adat atas motif-motif tradisional yang mereka ciptakan.

Kegiatan workshop yang telah dilaksanakan mendapatkan antusiasme tinggi dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, hingga para pelaku usaha kecil menengah (UKM). Hal ini menunjukkan bahwa masih ada harapan besar untuk melestarikan dan mengembangkan tenun Sahu sebagai identitas budaya sekaligus sumber penghidupan. Partisipasi aktif peserta dan dukungan berbagai pihak selama pelaksanaan kegiatan menjadi modal penting untuk terus memajukan tradisi menenun di Halmahera Barat.

Dengan demikian, Workshop Tenun Tradisional “Singkap Motif Sahu” diharapkan menjadi langkah awal yang strategis dalam upaya pelestarian warisan budaya lokal yang kaya akan nilai sejarah, seni, dan ekonomi. Kegiatan ini menegaskan pentingnya sinergi lintas generasi dan lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan tradisi sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah berbasis budaya. Melalui laporan kegiatan ini, diharapkan dapat menjadi inspirasi dan referensi bagi pelaksanaan kegiatan serupa di masa mendatang.

“Tujuan workshop ini merupakan salah satu upaya kita untuk melestarikan dan memperkenalkan warisan budaya daerah, khususnya tenun tradisional motif Sahu yang merupakan kekayaan khas Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat,”kata ketua Panitia Awaludin Rizal

Selain itu, panitia juga berharap kegiatan ini dapat memberikan banyak manfaat diantaranya sebagai berikut:

1. Workshop ini berperan penting dalam melestarikan serta memperkenalkan tenun tradisional motif Sahu kepada masyarakat luas. Dengan lebih banyak orang yang mengenal dan memahami nilai budaya di balik kain tenun ini, identitas khas Jailolo dan Kabupaten Halmahera Barat dapat terus hidup dan dikenal lintas generasi.

2. Kegiatan ini memberikan manfaat sebagai upaya mendokumentasikan sekaligus menghidupkan kembali kekayaan motif khas Sahu. Peserta tidak hanya belajar teknik menenun, tetapi juga diajak memahami filosofi dan sejarah di balik setiap motif, sehingga warisan budaya tidak sekadar diwariskan secara fisik, tetapi juga secara makna dan cerita.

3. Dengan melibatkan generasi muda dalam kegiatan ini, workshop diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta, bangga, dan kepedulian terhadap budaya lokal. Generasi muda yang terlibat akan lebih termotivasi untuk menjaga, mengembangkan, dan melanjutkan tradisi tenun, sehingga keberlanjutan warisan budaya tetap terjaga di masa mendatang.

Kemudian diharapkan dapat memberikan dampak signifikan yakni :

1. Meningkatnya pengetahuan dan apresiasi masyarakat terhadap tenun motif Sahu membawa dampak pada semakin kuatnya identitas budaya Jailolo dan Halmahera Barat. Hal ini mendorong keberlanjutan tradisi menenun sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat serta dikenal lebih luas di tingkat nasional maupun internasional.

2. Dengan adanya dokumentasi dan penggalian makna di balik setiap motif, kekayaan budaya masyarakat Sahu dapat diwariskan secara utuh, baik secara visual maupun naratif. Dampaknya, nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tenun Sahu tetap terjaga, menjadi sumber inspirasi, serta dapat dipelajari dan dikembangkan oleh generasi berikutnya.

3. Keterlibatan generasi muda dalam workshop menimbulkan efek jangka panjang berupa hadirnya kader-kader baru pelestari budaya. Generasi muda yang termotivasi akan lebih aktif berinovasi dalam mengembangkan tenun Sahu, sehingga tradisi ini tidak sekadar bertahan, tetapi juga mampu beradaptasi dan berkembang sesuai perkembangan zaman.

“Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 hari yaitu dimulai sejak senin, 13 Sampai dengan 15 Juli 2026. Penyampaian materi dilaksanakan selama satu hari dan hari kedua dan ketiga dilaksanakan praktek tenun yang langsung dipandu oleh Maestro dan didampingi oleh beberapa karyawan tenun yang telah memiliki keahlian dalam bidang tenun sejak puluhan. Dengan demikian, kegiatan ini benar-benar dipandu dan didampingi oleh tenaga professional berpengalaman dalam bidang tenun,”pungkasnya.(*)

 

 

 

 

banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *