MOROTAI Festival (Morofest) tetap berlangsung di tengah kepungan asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara. Di tengah kemeriahan agenda festival, ancaman gangguan kesehatan akibat paparan asap menjadi persoalan yang tidak bisa diabaikan.
Asap Karhutla yang menyelimuti sejumlah wilayah di Pulau Morotai berpotensi mengganggu saluran pernapasan dan menyebabkan iritasi mata. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran, terutama bagi masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara belum membaik, termasuk mereka yang menghadiri atau terlibat dalam kegiatan Morofest.
Direktur RSUD Ir. Soekarno Pulau Morotai, Christie Kartika S.S. Mamarimbing, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap Karhutla. Ia mengimbau warga mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak memiliki keperluan mendesak.
“Untuk asap, dia bisa berpengaruh ke saluran napas dan menyebabkan iritasi mata,” ujarnya Cristie kepada awak media, Senin (12/10/2026).
Menurut Christie, masyarakat sebaiknya tetap berada di dalam rumah ketika kondisi udara dipenuhi asap. Pintu dan jendela juga dianjurkan untuk ditutup guna mengurangi masuknya asap ke dalam ruangan.
Selain membatasi aktivitas di luar rumah, penggunaan masker yang sesuai standar perlindungan juga penting untuk mengurangi paparan partikel asap. Ia menyebut masker N95 sebagai salah satu pilihan yang dianjurkan untuk menyaring partikel berukuran kecil.
“Masker yang disyaratkan itu sebenarnya masker standar N95 karena partikelnya kecil. Kalau masker biasa, perlindungannya tidak sampai 100 persen,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar memperbanyak konsumsi air putih dan menjaga kondisi tubuh selama kualitas udara belum membaik. Warga yang mengalami sesak napas, batuk berkepanjangan, iritasi mata, atau keluhan kesehatan lainnya diimbau segera mencari pertolongan medis.
Di sisi lain, tetap berlangsungnya Morofest di tengah kondisi Morotai yang diselimuti asap Karhutla memunculkan pertanyaan mengenai langkah antisipasi pemerintah daerah terhadap risiko kesehatan masyarakat. Sebab, penyelenggaraan festival yang melibatkan aktivitas di ruang terbuka perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan dan keselamatan pengunjung.
Paparan asap menjadi risiko yang patut diperhatikan, terutama apabila masyarakat harus beraktivitas di luar ruangan dalam waktu lama. Anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan juga perlu mendapat perhatian khusus karena berpotensi lebih rentan terhadap dampak buruk kualitas udara.
Situasi ini menempatkan pemerintah daerah pada dua kepentingan yang perlu dikelola secara cermat, yakni pelaksanaan agenda festival dan perlindungan kesehatan masyarakat yang terdampak Karhutla. Langkah antisipasi, seperti pemantauan kualitas udara, penyampaian informasi risiko kesehatan, penyediaan layanan medis, serta evaluasi kegiatan luar ruangan, menjadi penting untuk memastikan keselamatan warga tetap terjaga.
Sebab, dampak Karhutla bukan hanya persoalan api yang membakar hutan dan lahan, melainkan juga asap yang dapat mengancam kesehatan masyarakat. Karena itu, di tengah berlangsungnya Morofest, perlindungan terhadap warga semestinya menjadi perhatian utama agar kemeriahan festival tidak mengesampingkan risiko kesehatan yang sedang dihadapi masyarakat Morotai.
Imbauan Direktur RSUD Ir. Soekarno Pulau Morotai menjadi pengingat bahwa masyarakat perlu membatasi aktivitas di luar ruangan jika tidak mendesak, menggunakan masker yang sesuai, dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap. Sementara itu, pemerintah daerah perlu memastikan langkah penanganan Karhutla dan mitigasi dampak asap berjalan optimal selama kondisi udara belum dinyatakan aman.(*)
Penulis : Moh : Editor : S.S.Suhara






