PRESTASI mahasiswa FEBI IAIN Ternate, Nurlaela Sarif, yang berhasil melaju ke Grand Final UMi Youthpreneur 2025 mewakili Maluku Utara, bukan hanya kabar gembira, tetapi juga pantulan harapan bagi dunia pendidikan kita. Dari sekian banyak kompetitor di seluruh Indonesia, hadirnya nama Nurlaela di panggung nasional menunjukkan bahwa potensi besar tidak pernah ditentukan oleh lokasi kampus, melainkan oleh semangat, kreativitas, dan dukungan lingkungan akademik yang tepat.
Sebagai bagian dari Alumni IAIN Ternate yang mengikuti perkembangan pendidikan tinggi di daerah, saya melihat prestasi ini sebagai momentum penting yang layak mendapat perhatian publik. Mahasiswa IAIN Ternate—yang sering kali dipandang sebagai kampus dengan segmentasi keislaman—ternyata mampu tampil dalam kompetisi wirausaha nasional dengan produk inovatif dan berorientasi keberlanjutan: sambal cakalang dengan kemasan ramah lingkungan. Ini bukan sekadar produk, tetapi identitas kuliner Maluku Utara yang dibawa naik kelas ke panggung nasional.
Dalam konteks pembangunan SDM, keberhasilan ini memiliki nilai strategis. UMi Youthpreneur bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi ruang pembelajaran intensif: mulai dari penyusunan rencana usaha, laporan keuangan, marketing, hingga presentasi bisnis di hadapan juri profesional. Artinya, mahasiswa tidak lagi hanya dibentuk sebagai akademisi, tetapi sebagai calon entrepreneur yang siap bersaing di dunia nyata. Di sinilah nilai tambah pendidikan tinggi seharusnya bergerak: melahirkan generasi kreatif, inovatif, dan mampu membaca peluang dari potensi lokal.
Namun, prestasi ini juga harus dibaca sebagai tantangan. Kita tidak boleh hanya berhenti pada momen kebanggaan sesaat. Maluku Utara membutuhkan ekosistem yang mampu memastikan bahwa talenta seperti Nurlaela tidak berjalan sendiri setelah kompetisi usai. Kampus harus memperkuat program inkubasi bisnis; pemerintah daerah perlu melihat ini sebagai peluang membangun jejaring UMKM muda; dan sektor swasta dapat terlibat melalui pendampingan, pemasaran, hingga kolaborasi produk.
Lebih jauh lagi, keberhasilan ini memberi sinyal bahwa produk lokal Maluku Utara dapat bersaing bila dikemas dengan nilai tambah modern. Sambal cakalang kemasan ramah lingkungan ini dapat menjadi prototipe usaha baru yang menyatukan tradisi kuliner, inovasi kemasan, dan keberlanjutan—tiga unsur yang sekarang sangat relevan di dunia usaha nasional.
Pada akhirnya, capaian Nurlaela bukan hanya milik dirinya atau kampusnya, tetapi milik seluruh masyarakat Maluku Utara. Ini adalah pengingat bahwa generasi muda kita punya kemampuan untuk menempatkan daerah di peta nasional, asalkan diberikan ruang, kesempatan, dan dukungan yang memadai.
Mari menjadikan prestasi ini sebagai titik awal untuk membangun budaya baru: budaya apresiasi, budaya mendukung talenta muda, dan budaya meyakini bahwa Maluku Utara bisa bersaing bukan hanya di sektor politik, tetapi juga di sektor inovasi dan wirausaha. Semoga Nurlaela dan mahasiswa lainnya menjadi inspirasi bagi gelombang baru entrepreneur muda yang lahir dari tanah kita sendiri.
_” Penulis adalah Alumni IAIN Ternate, kini sebagai Kordinator Presidium MD KAHMI dan Ketua ORDA ICMI kepulauan Sula_”






