KONSEP Sekolah Rakyat (SR) yang lahir pada masa awal kemerdekaan Indonesia adalah manifestasi filosofi pendidikan yang mendalam, berakar pada nilai kemandirian komunitas, partisipasi masyarakat, kesetaraan akses, dan relevansi pendidikan dengan kehidupan sehari-hari. SR lahir sebagai gerakan sosial, bukan sekadar bangunan fisik, bertujuan memberdayakan masyarakat lokal dari keterbatasan akses pendidikan di era kolonial.
Namun, memasuki abad ke-21, nilai-nilai luhur SR dihadapkan pada tantangan yang jauh lebih kompleks: kesenjangan akses pendidikan yang melebar, perkembangan teknologi yang eksponensial, dan kebutuhan kritis terhadap keterampilan abad ke-21 seperti literasi digital, kreativitas, berpikir kritis, dan kolaborasi (4C).
Pertanyaannya kini: Mungkinkah SR direvitalisasi? Opini ini meyakini bahwa Sekolah Rakyat Abad 21 adalah model adaptif yang mampu menjawab tantangan tersebut. Model ini memadukan basis komunitas yang kuat dengan pemanfaatan teknologi strategis, menjadikannya solusi untuk menciptakan pendidikan yang setara, relevan, dan berdaya.
Tiga Pilar Sekolah Rakyat Abad 21
Untuk bertransformasi menjadi lembaga pendidikan yang adaptif, SR Abad 21 harus dibangun di atas tiga pilar utama: kurikulum kontekstual, sinergi guru dan komunitas, dan sistem evaluasi holistik.
Pilar I: Pengembangan Kurikulum Berbasis Konteks dan Proyek
Kurikulum SR modern harus menjadi jembatan antara kearifan lokal dan kebutuhan global. Pembelajaran tidak boleh lagi hanya berfokus pada teori dalam buku teks, melainkan harus dihidupkan melalui Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning/PjBL) yang mengintegrasikan pemecahan masalah (problem solving), inovasi, dan literasi digital.
Pendekatan ini memastikan bahwa pendidikan tidak hanya relevan, tetapi juga langsung menghasilkan kontribusi nyata bagi komunitas. Misalnya, siswa di daerah agraris dapat mengembangkan proyek digitalisasi pengelolaan hasil panen, sementara siswa di pesisir dapat merancang solusi teknologi sederhana untuk masalah sampah laut. Kurikulum yang kontekstual ini akan membekali siswa dengan keterampilan penting (4C) sambil berbuat nyata.
Pilar II: Sinergi Guru, Komunitas, dan Infrastruktur Digital
Prinsip partisipasi dan kemandirian SR harus diperkuat dalam ekosistem pembelajaran. Guru bertransformasi menjadi fasilitator, desainer, dan inovator yang merancang pengalaman belajar interaktif. Peran guru kini harus didukung oleh keterlibatan aktif masyarakat. Masyarakat lokal, dengan beragam profesi dan pengalamannya, menjadi “perpustakaan hidup” yang menghubungkan teori di kelas dengan praktik di lapangan.
Selain itu, kendala infrastruktur harus disikapi secara kreatif. Sekolah Rakyat Abad 21 tidak perlu mewah, tetapi harus fungsional dan terintegrasi secara digital. Pemanfaatan sarana sederhana seperti pusat komunitas digital (digital community hub), penyediaan hotspot internet di area sekolah, atau penggunaan perangkat mobile yang umum, dapat menjamin bahwa siswa dari daerah terpencil sekalipun memiliki akses setara terhadap informasi dan alat belajar modern.
Pilar III: Evaluasi Holistik untuk Mengukur Dampak Nyata Sistem evaluasi di SR Abad 21 harus dirombak total. Penilaian tidak boleh hanya berfokus pada nilai akademik (kognitif), tetapi harus holistik dan mengukur kompetensi secara menyeluruh, mencakup tiga aspek:
Aspek Akademik dan Kritis: Penguasaan materi.
Kompetensi Sosial dan Kreativitas: Kemampuan kolaborasi, komunikasi, dan orisinalitas dalam proyek.
Kontribusi Komunitas: Mengukur sejauh mana solusi atau proyek yang dihasilkan siswa memberikan dampak positif dan berkelanjutan bagi lingkungannya.
Dengan demikian, ijazah atau sertifikat yang dikeluarkan oleh SR akan merefleksikan profil lulusan yang tidak hanya pandai secara teori, tetapi juga kompeten, beretika, dan berdaya di tengah masyarakat.
Model Sekolah Rakyat Abad 21 menawarkan jawaban yang seimbang terhadap dualisme tuntutan pendidikan modern. Model ini berhasil mempertahankan nilai historisnya—yaitu belajar untuk kehidupan dan pemberdayaan masyarakat—sekaligus bertransformasi menjadi institusi yang adaptif terhadap tuntutan global.
Implementasi model ini adalah investasi krusial untuk: (1) Mengatasi ketidakmerataan pendidikan melalui solusi kontekstual; (2) Mempersiapkan siswa menghadapi tantangan global dengan bekal keterampilan abad ke-21; dan (3) Menjaga akar budaya dan filosofi pendidikan bangsa dengan tetap berpegang pada basis komunitas.
Secara keseluruhan penulis berharap, Model Sekolah Rakyat Abad 21 merupakan solusi adaptif dan seimbang bagi pendidikan Indonesia. Model ini berhasil mempertahankan nilai historis SR—yaitu belajar untuk kehidupan dan pemberdayaan masyarakat—sekaligus bertransformasi menjadi institusi yang relevan terhadap tuntutan global. Implementasi model ini adalah investasi krusial karena menghasilkan tiga dampak utama: mengatasi ketidakmerataan akses melalui solusi kontekstual, mempersiapkan siswa global dengan keterampilan abad ke-21 (4C), dan menjaga filosofi bangsa dengan memperkuat basis komunitas.”.(*)






