PELAKSANAAN kegiatan kuliah kerja nyata (KKN) mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate, Maluku Utara, pada tahun 2026 ini sedikit berbeda dengan KKN di tahun sebelumnya.
Perbedaan tersebut terpotret dari lokasi yang bakal ditempati mahasiswa KKN, pada tahun 2025 lalu, pelaksanaan KKN berlangsung di kota Ternate, serta pada 3 kabupaten, yakni kabupaten Halmahera Barat, Halmahera Selatan dan Pulau Morotai.
Namun, di tahun 2026 ini, pihak penyelenggara hanya menentukkan tiga lokasi, yakni kota Ternate, Pulau Hiri serta Pulau Kayoa Kabupaten Halmahera Selatan.
Seperti diakui Kepala Pusat Pengabdian Masyarakat, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat IAIN Ternate, Yani Djawa, S.Pd., M.Pd.Si bahwa penentuan lokasi tersebut tak terlepas dari efisiensi anggaran yang digulirkan pemerintah, sehingga sebelumnya pelaksanaan KKN dipusatkan pada 35 lokasi, di tahun 2026 hanya pada 29 lokasi.
“Kami telah mensurvei dan menetapkan lokasi KKN tahun 2026, yaitu di kecamatan Ternate Utara, Tengah, Selatan dan Ternate Barat,” terangnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (4/8/2026).
“Ada penambahan 6 desa di Pulau Hiri dan 6 desa di Pulau Hiri,” imbuhnya.
Mantan Wakil Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Ternate itu mengungkapkan, pelaksanaan KKN di tahun 2026 diikuti sebanyak 455 mahasiswa, jumlah tersebut kata dia, jauh lebih banyak dari pelaksanaan KKN 2025 lalu yang hanya mencatat 389 mahasiswa.
Dia menjelaskan, penetapan lokasi dilakukan secara acak berdasarkan program studi dan fakultas, untuk itu pihaknya tidak menerima permintaan lokasi yang diajukan mahasiswa untuk menempati lokasi sesuai keinginan mahasiswa.
Selain itu, lanjut dia, pihaknya telah menetapkan pelaksanaan pembekalan KKN dilakukan selama 2 hari, yakni 7-8 Agustus 2026.
“Kalau pelaksanaan KKN berlangsung pada 10 Agustus sampai 21 September 2026,” akunya.
Dia menambahkan, teman yang diusung pada pelaksanaan KKN di tahun 2026 ini yakni KKN untuk Negeriku: Harmoni, Lestari dan Mandiri. Tema tersebut, kata dia, menghadirkan makna positif sekaligus mengimplementasikan program ekoteologi Kementerian Agama.
“Harmoni, yaitu Membangun kehidupan masyarakat yang rukun melalui penguatan moderasi beragama, toleransi, dan persatuan. Sedangkan Lestari adalah Menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan hidup melalui pendekatan ekoteologi dan pelestarian alam sebagai amanah Tuhan,” jelasnya.
“Kalau Mandiri, yakni Mendorong kemandirian masyarakat melalui penguatan ekonomi umat, kewirausahaan, dan pemberdayaan potensi lokal,” tandasnya.(*)
Penulis : Hil : Editor : S.S.Suhara






