Duka Intelektual: Mengenang Jejak dan Pengabdian Hadija Karim

Oleh: Mohtar Umasugi.

KEPERGIAN selalu datang tanpa aba-aba. Ia tidak pernah menunggu kita siap, apalagi selesai dengan segala kenangan yang belum sempat dituntaskan. Hari ini, kabar itu datang dari sebuah ruang yang begitu akrab grup WhatsApp KAHMI. Sebuah kabar yang singkat, namun menghantam batin dengan begitu dalam, Hadija Karim, yang akrab kami sapa Dji, telah pergi menghadap Sang Rabb. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Saya mengenal almarhumah bukan sekadar sebagai bagian dari organisasi, tetapi sebagai bagian dari perjalanan hidup yang membentuk cara pandang, sikap, dan idealisme. Di HMI Cabang Ternate, kami digodok dalam satu kawah candradimuka yang sama tempat di mana intelektualitas diasah, militansi diuji, dan komitmen terhadap umat serta bangsa dipertaruhkan. Meski secara struktur dan waktu saya lebih senior, relasi kami tidak pernah kaku. Kami berteman, bahkan lebih dari sekadar saudara dalam ikatan formal organisasi.

Dji adalah representasi kader HMI yang utuh: berpikir kritis, bersikap tenang, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Dalam setiap forum diskusi, ia tidak selalu menjadi yang paling vokal, tetapi selalu menghadirkan kedalaman argumentasi yang matang. Ia memahami bahwa intelektualitas bukan sekadar retorika, tetapi tentang kemampuan membaca realitas dan merumuskan solusi.

Jejak intelektual dan kepemimpinan Dji mulai tampak sejak masa pengkaderan. Ia pernah mengemban amanah sebagai Ketua Bidang Litbang HMI Cabang Ternate periode 2000–2001, sebuah posisi strategis yang menuntut ketajaman berpikir sekaligus kemampuan merumuskan arah gerak intelektual organisasi. Di tangan Dji, Litbang bukan sekadar bidang formal, tetapi menjadi ruang dialektika gagasan yang hidup.

Perjalanan itu kemudian berlanjut dalam ruang pengabdian publik yang lebih luas. Dji pernah menjabat sebagai Anggota Komisioner KPU Halmahera Utara, dan selanjutnya dipercaya sebagai Anggota Komisioner KPU Provinsi Maluku Utara. Dalam posisi ini, ia tidak hanya bekerja secara administratif, tetapi turut menjaga marwah demokrasi sebuah tugas yang menuntut integritas, keteguhan prinsip, dan keberanian menghadapi berbagai tekanan. Dalam konteks ini, Dji adalah contoh nyata bagaimana kader HMI mampu bertransformasi dari ruang kaderisasi menuju ruang pengabdian publik tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.

Namun, seperti halnya banyak dari kita yang terpisah oleh ruang dan waktu, setelah saya kembali ke Sanana, intensitas pertemuan kami semakin berkurang. Aktivitas masing-masing menyita perhatian. Kehidupan berjalan dengan ritmenya sendiri. Dan ternyata, tanpa kita sadari, waktu juga diam-diam menggerus kesempatan untuk sekadar menyapa, bertanya kabar, atau mengulang tawa yang dulu begitu mudah hadir.

Pertemuan terakhir kami terjadi pada Musyawarah Wilayah ke-III MW KAHMI Maluku Utara tahun 2022. Sebuah pertemuan yang kini terasa begitu singkat, namun sarat makna. Saat itu, tidak pernah terlintas bahwa itu akan menjadi momen terakhir kami bertatap muka. Tidak ada firasat, tidak ada tanda. Hanya percakapan biasa, sebagaimana lazimnya dua sahabat yang lama tidak berjumpa.

Kepergian Dji menyisakan refleksi yang mendalam. Tentang bagaimana kita memaknai persahabatan, tentang bagaimana kita menjaga nilai-nilai yang pernah kita perjuangkan bersama, dan tentang bagaimana kita menempatkan hidup ini dalam kerangka yang lebih luas bahwa semua yang kita miliki pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.

Secara analitis, kehilangan figur seperti Hadija Karim bukan hanya kehilangan personal, tetapi juga kehilangan sosial-intelektual. Ia adalah bagian dari mata rantai kader yang menjaga kesinambungan nilai dalam ruang-ruang keumatan dan kebangsaan.

Pengalamannya di HMI hingga di Komisi Pemilihan Umum menunjukkan satu garis lurus konsistensi antara gagasan dan pengabdian. Ketika figur seperti ini berpulang, maka yang hilang bukan sekadar individu, tetapi juga teladan tentang bagaimana intelektualitas seharusnya bekerja dalam realitas.

Lebih jauh, kepergian ini juga menjadi kritik halus bagi kita semua—bahwa kesibukan seringkali menjadi alasan untuk menjauh, bahkan dari orang-orang yang pernah berkontribusi besar dalam hidup kita. Kita menunda silaturahmi, menunda komunikasi, seolah waktu selalu tersedia. Padahal, waktu tidak pernah menunggu.

Dji telah menuntaskan perjalanannya. Ia telah melewati fase-fase kehidupan dengan cara yang, saya kira, bermakna. Tugas kita hari ini bukan hanya mengenang, tetapi melanjutkan. Melanjutkan nilai-nilai intelektual, menjaga etika pergaulan, dan memperkuat komitmen terhadap masyarakat sebagaimana yang pernah ia jalani.

Selamat jalan, Adinda. Jejakmu tidak akan hilang, karena ia telah tertanam dalam ingatan dan perjuangan kami. Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadahmu, mengampuni segala khilafmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Dan bagi kami yang masih berjalan di dunia ini, kepergianmu adalah pengingat paling jujur: bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita ada, tetapi tentang seberapa bermakna kita memberi.(*)

banner banner banner banner banner banner banner banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *