SETIAP tanggal 2 Juni, bangsa Indonesia memperingati hari lahir Tan Malaka, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namun ironisnya, di tengah penghormatan terhadap para pendiri bangsa, nama Ibrahim Datuk Tan Malaka justru sering kali tenggelam dan kurang mendapat tempat dalam ingatan kolektif masyarakat. Padahal, kontribusinya terhadap perjuangan kemerdekaan dan perkembangan pemikiran bangsa sangat besar.
Tan Malaka lahir pada 2 Juni 1897 di Pandan Gadang, Sumatera Barat. Jika dihitung hingga 2 Juni 2026, tepat 129 tahun telah berlalu sejak kelahirannya. Lebih dari satu abad setelah ia dilahirkan, gagasan dan perjuangannya masih menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan dan kedaulatan. Ia dikenal sebagai seorang revolusioner, intelektual, pendidik, dan pejuang kemerdekaan yang memiliki pandangan jauh melampaui zamannya.
Ketika sebagian besar tokoh pergerakan masih berbicara mengenai perbaikan nasib pribumi dalam kerangka kolonial, Tan Malaka telah menyerukan kemerdekaan penuh bagi Indonesia. Melalui bukunya Naar de Republiek Indonesia yang diterbitkan pada tahun 1925, Tan Malaka menjadi salah satu tokoh pertama yang secara terang-terangan menggagas Indonesia sebagai sebuah republik merdeka. Gagasan tersebut muncul dua dekade sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pemikiran itu menunjukkan betapa visionernya Tan Malaka dalam melihat masa depan bangsa Indonesia.
Kontribusi Tan Malaka tidak hanya berhenti pada gagasan politik. Ia juga aktif membangun kesadaran rakyat melalui pendidikan. Baginya, kemerdekaan sejati tidak cukup hanya dengan mengusir penjajah, tetapi juga harus dibarengi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, ia terlibat dalam berbagai aktivitas pendidikan yang bertujuan mencerdaskan rakyat dan membangun kesadaran nasional.
Dalam perjalanan revolusi, Tan Malaka dikenal sebagai tokoh yang konsisten memperjuangkan kemerdekaan seratus persen tanpa kompromi terhadap kepentingan kolonial. Sikapnya yang tegas sering kali membuatnya berbeda pandangan dengan kelompok politik lainnya. Namun perbedaan tersebut tidak mengurangi kecintaannya terhadap Indonesia. Sebaliknya, hal itu menunjukkan komitmennya terhadap cita-cita kemerdekaan yang benar-benar bebas dari segala bentuk penjajahan.
Selain sebagai pejuang, Tan Malaka juga meninggalkan warisan intelektual yang sangat berharga. Salah satu karya terbesarnya adalah Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika) yang ditulis pada tahun 1943. Dalam buku tersebut, ia mengajak masyarakat Indonesia untuk berpikir rasional, ilmiah, dan kritis. Hingga saat ini, Madilog masih dianggap sebagai salah satu karya filsafat paling penting yang pernah lahir dari seorang pemikir Indonesia.
Tan Malaka juga merupakan salah satu tokoh pergerakan yang sangat produktif dalam menulis. Sejak masa pergerakan nasional hingga revolusi kemerdekaan, ia melahirkan berbagai karya yang menjadi rujukan penting dalam sejarah pemikiran Indonesia. Di antaranya Parlemen atau Soviet? (1921), SI Semarang dan Onderwijs (1921), Massa Actie/Massa Aksi (1926), Naar de Republiek Indonesia (1925), Madilog (1943), Muslihat (1945), Pandangan Hidup (1948), Gerpolek atau Gerilya, Politik, dan Ekonomi (1948), Merdeka 100 Persen, serta autobiografi monumentalnya Dari Pendjara ke Pendjara yang terdiri dari beberapa jilid.
Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa Tan Malaka tidak hanya berjuang dengan senjata, tetapi juga dengan gagasan. Melalui tulisan-tulisannya, ia berusaha membangun fondasi berpikir bagi bangsa yang baru merdeka. Perjuangan panjang Tan Malaka berakhir tragis. Ia gugur pada Februari 1949 di tengah masa revolusi kemerdekaan. Bertahun-tahun kemudian, negara akhirnya mengakui jasa-jasanya dengan menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1963. Pengakuan tersebut menegaskan bahwa perannya dalam sejarah bangsa tidak dapat dihapuskan.
Sayangnya, perjalanan sejarah membuat nama Tan Malaka tidak sepopuler tokoh-tokoh nasional lainnya. Perbedaan pandangan politik dan dinamika kekuasaan pasca-kemerdekaan membuat sosoknya kerap terpinggirkan dari narasi resmi sejarah Indonesia. Akibatnya, banyak generasi muda yang mengenal namanya hanya sepintas, tanpa memahami besarnya jasa dan pemikiran yang telah ia sumbangkan bagi bangsa ini.
Lebih dari itu, pemikiran Tan Malaka sesungguhnya memiliki relevansi yang sangat kuat dengan kondisi sosial Indonesia saat ini. Di tengah maraknya korupsi, kesenjangan ekonomi, politik transaksional, penyebaran hoaks, serta rendahnya budaya literasi dan berpikir kritis, gagasan-gagasan Tan Malaka terasa semakin penting untuk dihidupkan kembali. Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik, tetapi juga bebas dari kebodohan, ketergantungan, dan ketidakadilan sosial.
Bangsa Indonesia hari ini menghadapi tantangan yang berbeda dari masa kolonial. Penjajahan tidak lagi hadir dalam bentuk kekuatan militer asing, melainkan dapat muncul dalam bentuk ketimpangan ekonomi, penguasaan sumber daya oleh segelintir elite, serta melemahnya kesadaran kritis masyarakat. Dalam situasi seperti ini, semangat yang diwariskan Tan Malaka menjadi sangat relevan: keberanian berpikir merdeka, keberpihakan kepada rakyat kecil, dan komitmen terhadap keadilan sosial.
Tan Malaka percaya bahwa rakyat harus menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek kebijakan. Pemikiran ini masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Di saat sebagian masyarakat masih bergulat dengan kemiskinan, akses pendidikan yang belum merata, tingginya angka pengangguran, serta terbatasnya kesempatan ekonomi, cita-cita tentang kemerdekaan yang mensejahterakan seluruh rakyat belum sepenuhnya terwujud.
Di tengah rendahnya minat baca dan melemahnya budaya berpikir kritis saat ini, karya-karya Tan Malaka seharusnya kembali menjadi bahan bacaan penting bagi generasi muda. Sebab di dalamnya tersimpan gagasan tentang kemerdekaan, keadilan sosial, pendidikan, dan keberanian berpikir yang masih relevan bagi Indonesia abad ke-21.
Padahal, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai seluruh pejuangnya tanpa memandang latar belakang politik maupun perbedaan pandangan. Sejarah tidak boleh hanya menjadi milik mereka yang menang dalam perebutan kekuasaan, tetapi juga harus menjadi ruang penghormatan bagi semua tokoh yang telah mengorbankan hidupnya demi kemerdekaan Indonesia.
Hari lahir Tan Malaka seharusnya menjadi momentum untuk kembali mengenalkan pemikiran dan perjuangannya kepada generasi muda. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, semangat berpikir kritis, keberanian melawan ketidakadilan, dan kecintaan terhadap bangsa yang diwariskan Tan Malaka tetap relevan untuk dijadikan teladan.
Pada usia kelahirannya yang ke-129 tahun pada 2 Juni 2026, Tan Malaka tidak hanya layak dikenang sebagai seorang pahlawan nasional, tetapi juga sebagai pemikir besar yang mendahului zamannya. Ia adalah simbol keberanian intelektual, keteguhan prinsip, dan pengabdian tanpa batas kepada tanah air.
Tan Malaka mungkin pernah dilupakan dalam lembaran sejarah, tetapi jasa dan gagasannya tidak boleh hilang dari ingatan bangsa. Sebab, tanpa orang-orang seperti Tan Malaka, jalan menuju Indonesia merdeka mungkin tidak akan pernah terbuka sebagaimana yang kita nikmati hari ini. Dan selama Indonesia masih berjuang mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya, pemikiran Tan Malaka akan tetap hidup sebagai cahaya yang mengingatkan bangsa ini tentang arti kemerdekaan yang sesungguhnya.(*)






