Gebe di Persimpangan: Antara Eksploitasi dan Masa Depan

Kecamatan Pulau Gebe Halmahera Tengah Provinsi Maluku Utara

PULAU Gebe hari ini berdiri di sebuah persimpangan sejarah. Di satu sisi, tanahnya mengandung kekayaan nikel yang menjadi incaran industri besar. Di sisi lain, di atas tanah yang sama, hidup masyarakat adat dan warga desa yang menggantungkan masa depan pada tanah, laut, dan hutan yang diwariskan turun-temurun.

Gebe bukan sekadar titik tambang di peta investasi. Ia adalah ruang hidup. Di sinilah anak-anak lahir, nelayan melaut, petani menanam, dan leluhur dimakamkan. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, arah pembangunan pulau ini seolah ditentukan oleh kepentingan ekstraksi, bukan kepentingan masyarakatnya.

Tambang datang dengan janji kesejahteraan. Jalan dibuka, alat berat berdatangan, dan angka produksi meningkat. Tetapi pertanyaan paling mendasar jarang dijawab dengan jujur: apakah masyarakat benar-benar sejahtera?
Banyak desa masih berjuang dengan fasilitas kesehatan yang terbatas. Pendidikan belum merata. Akses air bersih dan lapangan kerja yang layak belum sepenuhnya tersedia.

Di tengah geliat tambang, kesenjangan justru terasa semakin nyata. Pulau Gebe kini menghadapi risiko klasik daerah tambang:
Lingkungan yang rusak.
Ketergantungan ekonomi pada satu sektor.
Konflik lahan dan hak adat.
Generasi muda yang kehilangan arah setelah tambang selesai.

Padahal, sejarah telah berkali-kali mengingatkan: tambang itu sementara, tetapi kerusakan bisa berlangsung puluhan tahun. Ketika nikel habis, perusahaan pergi. Yang tertinggal adalah lubang, tanah yang kehilangan kesuburan, dan masyarakat yang harus memulai dari nol.
Di sinilah persimpangan itu terasa nyata. Apakah Gebe akan terus berjalan sebagai pulau ekstraksi?
Atau mulai membangun fondasi kemandirian sejak sekarang?
Masa depan Gebe tidak boleh hanya ditentukan oleh harga nikel dunia. Ia harus ditentukan oleh kesadaran kolektif masyarakatnya.

Desa-desa perlu memperkuat ekonomi lokal, membangun inovasi, menghidupkan UMKM- UMKM dan mendorong komunitas kreatif. Pendidikan dan kesehatan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar program pelengkap. Tambang bisa menjadi bagian dari sejarah Gebe, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya cerita.

Pulau ini memiliki potensi lain: perikanan, pertanian, pariwisata bahari, dan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian untuk mengubah arah. Bukan menolak pembangunan, tetapi memastikan pembangunan berpihak pada masyarakat.
Bukan hanya menggali tanah, tetapi juga menumbuhkan manusia.

Gebe harus mulai mempersiapkan diri untuk masa depan tanpa tambang. Karena pulau yang bijak bukanlah pulau yang paling banyak menghasilkan mineral, tetapi pulau yang paling mampu menjaga kehidupan warganya.
Persimpangan itu sudah di depan mata.
Pertanyaannya tinggal satu: Gebe mau memilih jalan yang mana?.(*)

banner banner banner banner banner banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *