KETIKA membaca kata “Bakusedu” kita mungkin akan mengira, bahwa ini hanyalah sekadar gurauan, tapi siapa sangka, dalam landscape antropologi ‘bakusedu’ bukanlah kata sederhana, sebab ia menunjukkan sebuah tindakan yang menyimpan arti penting kemanusiaan.
Dalam beberapa waktu kedepan akan datang momentum paling ramai sepanjang tahun. Bukan karena stadion-stadion di Amerika Serikat, Kanada atau Meksiko dipenuhi suporter, tetapi karena di sudut-sudut dunia paling senyap sekalipun termasuk di ruang-ruang keluarga, cafe-cafe, Facebook atau bahkan WhatsApp, sebuah ritual sosial tak berhenti membunyikan ribuan notifikasi yang sedang atau akan berlangsung, yaa sebuah fenomena yang sering kita sebut dengan ‘Bakusedu’.
Kata ‘bakusedu’ jika dipadankan dalam Bahasa Indonesia yang baku, maka artinya ‘bergurau’ . Atau dapat juga berarti ‘Saling ejek’ dengan senyum (tidak ada maksud untuk menjatuhkan). Atau ‘Menggoda’ tanpa menyakiti. Bahkan kadang tertawa bersama meski berbeda kubu. Namun jika kita telaah lebih dalam frasa ‘bakusedu’ bukan sekadar candaan, tetapi bahasa komunikasi paling jujur. Victor Turner, misalnya, berpendapat bahwa humor adalah kontrak sosial yang dinegosiasikan ulang setiap kali dua orang melepas tawa bersama.
Jika anda membaca Implicit Meanings karya monumentalnya Mary Douglas, maka anda akan mengetahui, bahwa ‘lelucon’ adalah tindakan yang paling murni dari sebuah ekspresi. Dua orang yang saling bergurau, misalnya, sebenarnya mereka sedang mengukur batas dari sebuah hubungan — apakah dekat? Apakah mereka merasa aman antar satu sama lain? Atau sejauh mana kekuatan ikatan antar keduanya. Dalam konteks ini kita mesti memahami, bahwa ‘Bakusedu’ adalah ungkapan kepercayaan yang ditunjukkan lewat tawa.
Momentum Piala Dunia yang nantinya digelar Juni mendatang, akan memunculkan fenomena paling khas. Di mana Pendukung Brasil menggoda pendukung Argentina. Fans Jerman meledek fans Inggris atau yang lainnya. Semua ini adalah bentuk perayaan dari apa yang kita sebut dengan kedekatan, semuanya dilingkupi dengan ‘Bakusedu’. Hal yang paling menarik, berikutnya, adalah Fenomena ‘bakusedu’ tidak hanya di ruang nyata. Ya, kini sudah menjalar sampai ke ruang-ruang media sosial, seperti yang diamati oleh Sherry Turkle Sosiolog dan Psikolog yang konsen pada interaksi teknologi, ia melihat adanya ruang baru yang tercipta dengan adanya komunitas digital yang itu memunculkan ekspresi emosi sosial. WhatsApp, Facebook, Instagram, Tiktok, X (Twitter), kini menyediakan medium Bakusedu yang tak mengenal batas geografis.
Anda bisa membayangkannya, jika suatu tim yang nantinya akan kalah dalam momentum Piala Dunia akan menjadi bahan lawakan kemudian dikirim ke grup-grup WhatsApp dan disambut dengan deretan emoji tertawa, stiker-stiker animasi suporter yang bersedih juga sudah siap dilayangkan di grup-grup itu. Bagi saya ini bukanlah Vandalisme, ini sebuah ritual untuk merayakan kebersamaan. Kini, ‘bakusedu’ bukan lagi ekspresi analog dari sebuah interaksi, dengan jangkauan luas yang disediakan teknologi yang ada ‘bakusedu’ diekspresikan dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.
Clifford Geertz, dalam sebuah karyanya pernah menjelaskan soal sabung ayam di Bali, menurutnya kebiasyitu bukanlah kekerasan, melainkan teks budaya (cultural text ). Dan jika kita menggunakan logika ini untuk melihat fenomena ‘bakusedu’ Piala Dunia sebagai teks budaya kontemporer: cara kita, sebagai komunitas global, membaca relasi sosial kita sendiri.
Namun dalam hal ‘bakusedu’ ada batasan paling tipis yang jika salah mengolahnya akan menjadi gurauan yang mempermalukan. face-work (pengelolaan wajah sosial), sebenarnya sedang mengingatkan kita, bahwa setiap interaksi sosial (termasuk ‘bakusedu’) adalah permainan di mana setiap pihak sedang menjaga harga dirinya masing-masing, begitulah Goffman dalam memandang realitas ini. Dengan begitu, kita akan bersepakat, ‘bakusedu’ yang layak, adalah yang menghargai batasan yang tidak bisa dilanggar agar semua pihak merasa dihormati sekalipun itu dilakukan di tengah gelak tawa. Di era media sosial, tantangan ini menjadi lebih nyata.
Pada akhirnya, ketika kita berbeda dalam mendukung tim dan saling ‘bakusedu’ dengan mengirim emoji, GIF Maupun Stiker di grup-grup WhatsApp, Antara pendukung Brazil dan Argentina misalnya, sebenarnya kita sedang menyaksikan sesuatu yang lebih besar bukan sekadar Sepakbola, tetapi Sebuah interaksi yang harmonis walau berada di tengah-tengah perbedaan dan persaingan.
Jadi, mari sambut Juni dengan penuh semangat. Bela timmu dengan sepenuh hati. Dan ketika saatnya tiba untuk saling bakusedu di grup chat maupun di ruang publik, lakukanlah dengan hangat, dengan hormat, dan dengan kesadaran bahwa di balik semua itu, yang sedang kita rayakan bukan hanya gol atau kemenangan, melainkan hal yang paling berharga: kebersamaan manusia.(*)






