Hijau yang Menjaga Dapur Tetap Mengepul: Rumput Laut Jadi Penopang Ekonomi Warga Kolorai

Nampak seorang petani rumput laut saat memanen hasil rumput laut

DI pagi hari, di balik pasir putih dan hamparan laut biru yang tenang di Desa Kolorai, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, laut tampak begitu bersahabat. Riak kecil menyapu bibir pantai, sementara matahari perlahan muncul dari ufuk timur, memantulkan cahaya ke hamparan air biru yang membentang luas. Namun, bagi masyarakat Kolorai, laut bukan sekadar panorama indah yang memanjakan mata wisatawan.

Bagi Hamid Baba, seorang pemuda Desa Kolorai, laut adalah ruang hidup yang tak bisa dipisahkan dari denyut keseharian masyarakatnya. Sejak kecil, ia tumbuh menyaksikan warga menggantungkan hidup dari hasil laut, termasuk budidaya rumput laut yang kini menjadi salah satu penopang ekonomi utama masyarakat.

“Rumput laut di Kolorai ini bukan cuma mata pencaharian, tapi sudah jadi harapan masyarakat untuk bertahan hidup,” ungkap Hamid saat ditemui di sela aktivitas warga pesisir.

Di sela keindahan pulau kecil yang dikenal sebagai destinasi wisata bahari itu, warga tampak sibuk menjalani rutinitas yang telah menjadi keseharian. Sebagian menyiapkan tali bentangan di laut, sebagian lainnya memeriksa bibit, sementara para ibu rumah tangga terlihat menjemur hasil panen di halaman rumah menggunakan para-para sederhana agar tidak tercampur pasir.

Rumput laut telah menjadi denyut ekonomi masyarakat Kolorai. Komoditas hijau dari laut itu bukan hanya penghasilan tambahan, tetapi sumber kehidupan bagi banyak keluarga.

“Kalau cuaca bagus dan hasil panen baik, kebutuhan rumah tangga bisa tertutupi dari rumput laut,” ujar seorang warga sambil merapikan hasil jemuran.

Hamid menjelaskan, masyarakat Kolorai umumnya menggunakan dua metode budidaya rumput laut, yakni metode lepas dasar dan metode tali bentang (long line). Metode lepas dasar biasanya digunakan untuk pembibitan. Bibit rumput laut dengan berat sekitar 100 hingga 300 gram diikat pada tali yang direntangkan di dalam air dengan bantuan patok bambu atau kayu sepanjang satu meter yang ditancapkan ke dasar laut.

Sementara metode tali bentang atau long line digunakan untuk pembesaran hingga panen. Bibit diikat pada tali nilon sepanjang 30 meter dengan jarak antar simpul sekitar 15 sentimeter, lalu dipasang pelampung agar tetap stabil di bawah permukaan laut.

“Kalau untuk bibit biasanya 25 sampai 35 hari sudah bisa dipanen, tapi kalau untuk dijual atau kebutuhan usaha biasanya sekitar 45 sampai 55 hari,” jelas Hamid.

Saat masa panen tiba, warga akan mengangkat seluruh tanaman bersama tali penggantungnya ke darat. Setelah itu rumput laut dijemur selama tiga hingga empat hari saat cuaca cerah hingga berubah warna menjadi ungu keputihan dan dilapisi kristal garam tanda siap dijual ke pengepul.

Meski demikian, tantangan tidak sedikit. Cuaca ekstrem, ombak tinggi, hingga harga jual yang naik turun menjadi persoalan tahunan yang harus dihadapi petani rumput laut.

“Kadang saat musim kurang bagus, bibit juga susah didapat. Banyak yang rusak kalau hujan terus atau ombak besar,” katanya.

Karena itu, Hamid berharap ada perhatian lebih serius dari pemerintah daerah terhadap kelompok nelayan budidaya rumput laut, terutama dalam penyediaan bibit dan dukungan sarana produksi.

Menurutnya, sektor budidaya rumput laut di Kolorai memiliki potensi besar jika dikelola dan didukung secara maksimal. Selain menopang ekonomi keluarga, usaha ini juga menjadi sumber pendapatan masyarakat pesisir yang berkelanjutan.

Di Desa Kolorai, rumput laut bukan sekadar hasil panen. Ia adalah simbol ketekunan masyarakat dalam menghadapi kerasnya hidup di pesisir. Dari laut yang tenang itu, harapan tumbuh perlahan menjaga dapur tetap mengepul di tengah tantangan yang datang silih berganti.(*)

Penulis : Moh : Editor : S.S.Suhara

banner banner banner banner banner banner banner banner banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *