ALAM kami indah dan kaya membuat anak Maluku Utara gemar bermain di luar rumah dan menikmati indahnya alam, disaat yang lainnya menikmati internet dan fasilitas pembangunan yang memadai, memainkan permainan yang modern, kami di desa-desa terpencil Maluku Utara kerap kali menghitari pegunungan dan hutan, bercengkrama dengan alam, bermain dan bercerita, mandi di sungai yang mengalir deras, tentunya menyegarkan. Tidak jarag juga kami memasang jerat burung untuk sekedar memelihara ataupun untuk dijadikan lauk. Namun dengan perbedaan ini tidak menggoyahkan kami dalam berjuang mencapai cita-cita. Kekayaan kami yang sungguh indah, membuat kami sangat menikmati kehidupan.
Semuanya kemudian tak sama lagi, Ketika suatu waktu terdapat sebuah helikopter yang terbang menghitari langit Taliabu dan di bagian bawahnya terdapat alat seperti kamera yag tergantung yang konon katanya itu adalah alat yang digunakan untuk merekam potensi alam atau biasa di sebut sebagai sistem penginderaan jauh (aktivitas survei geofisika udara/airborne geophysics), kabarnya merupakan aktifitas resmi dari kementrian ESDM untuk memetakan formasi batuan taliabu (formasi buya/bobong-lede sama formasi granit banggai/bijih besi). Awalnya kami sangat berbahagia dengan wajah polos kami menatap helikopter tersebut karena sangat jarang bagi kami melihat kendaraan baja tersebut. Dan tak lama setelah aktifitas itu, kemudian hadirlah beberapa tambang biji besi yang masuk ke salah satu pulau di Maluku Utara tersebut, hingga kini geoportal ESDM mencatat terdapat 22 ijin usaha pertambangan (IUP) didalam kabupaten mungil itu.
Kita yakini Bersama bahwa masuknya tambang diharapkan dapat memajukan suatu daerah, membuka lapangan kerja baru dan masyarakatnya dapat bekerja dan akan mencapat penghidupan yang layak, mungkin itulah yang ada dalam benak pemerintah dan kita semua, namun hal ini belum sepenuhnya terjadi, kemakmuran masih jauh dari kata sampai, sebab dari awal hadirnya pertambangan dengan rata-rata aktifitasnya berjalan dari tahun 2018-2034 itu belum memberi dampak yang maksimal, ini tidak saja terjadi di Taliabu, namun ini terjadi di seluruh Maluku Utara. Bagaimana mungkin sektor dengan sumbangan terbesar dalam pertumbuhan ekonomi daerah ini belum mampu memberi dampak yang signifikan? Namun inilah faktanya.
Pertumbuhan ekonomi maluku utara dalam kuartal II-2026 mencapai 15,35 dan merupakan pertumhun yang tertinggi dari 38 provinsi di Indonesia dan sektor pertambangan adalah penyumbang terbesar, hal ini merupakan petunjuk bahwa kekayaan alam maluku utara merupakan faktor penting dalam mendukung pertumbuhan nasional, ini juga merupakan angka positif yang dapat mengantarkan maluku utara sebagai provinsi yang maju dan Berjaya, tidak hanya sebagai angka statistik, namun harapan kita semua adalah hal ini akan menjadi pengejawantahan dari kekayaan alam untuk masyarakat didalam negeri para raja-raja.
Namun roda kadang berputar tak sesuai, kendaraan akan berjalan baik jika didukung dengan jalan yang baik pula, misalnya dari kasus beberapa perawat yang harus tergelincir bersama mobilnya di kecamatan lede, jatuh tak berdaya di tengah tanjakan yang tinggi dan bebatuan yang tak simetris, kadang juga para perawat di Taliabu harus menerjang ombak untuk mengantarkan pasien ke luwuk Sulawesi tengah, mengantarkan pasien rujukan yang kadang kala harus pulang hanya dengan nama dan duka. Membuat kita bertanya-tanya, kemana mengairnya mata air pertumbuhan ekonomi yang kita agung-agungkan diatas.
Kasus lain yang tak kalah pentingnya adalah, meninggalnya lansia yang berupaya menyambung hidupnya dengan mencari kerang laut di bebatuan dan pesisir pantai langganu Kecamatan Lede, buaya laut memang tak mengenal pertumbuhan ekonomi yang sedang dialami warga, sehingga tanpa kompromi pria paruh baya itu digigit, diseret tak berdaya, dan meminta tolong, dua orang keluarga sekaligus merupakan teman dalam mencari nafkah juga tak bisa berbuat banyak, karena pergerakan reptil tersebut sangatlah cepat, suara demi suara hilang ditelan waktu dan laut. Tak ada hal yang lain selain kepergian yang memiluhkan, hanya doa yang bisa kita panjatkan. Kasus diatas hanyalah Sebagian kecil kasus yang ada di Maluku Utara.
Masalah-masalah kemudian berlalu namun tidak membuat kita lupa bahwa dari kejanian-kejadian diatas kemudian mengantarkan kita pada pertanyaan bahwa, pertumbuhan ekonomi macam apa yang sedang kita alami? Seharusnya pertumbuhan ekonomi menyentuh sektor yang paling dibutuhkan, minimal kebutuhan primer warga terpenuhi, kita tidak sedang mencari sorotan nasional dan angka tinggi yang membuat mata terbelalak. Namun yang kita butuhkan adalah pertumbuhan ekonomi yang menyentuh hajat hidup orang banyak sehingga kejadian-kejadian seperti yang disebutkan diatas tidak perlu terjadi lagi.
Permasalahan ekonomi maluku utara yang timpang terebut kemudian memecah lamunan diantara waktu bersantai sambal membuka meda sosial, sepanjang tanggal 10-14 Agustus 2026 ramai-ramai masyarakat, mahasiswa, ekonom, bahkan gubernur Maluku Utara sekalipun mengeluhkan ketidakseimbangan ekonomi ini, sehingga ketimpangan ekonomi maluku utara menjadi sorotan publik sehingga barulah di tanggapi oleh pusat, seperti biasa, no viral no justice, inilah rumus baru dalam berbangsa dan bernega saat ini, kebisingan media sosial dapat membuka ruang-ruang yang memaksa keadilan disalurkan, walaupun upaya ini telah direspon, dan membuahkan hasil dengan sekitar 397,8 miliar uang dari pusat disalurkan untuk Maluku Utara sebagai respon pemerintah pusat. Namun tetp saja ini masih belum cukup.
Sampai disini kita mungkin paham, pada kran yang mana pengaturan jalannya aliran keadilan ini, walau demikian tenntunya ini tidak adil, karena terkesan tuan tanah sedang mengemis pada pekerjanya. Sebab dalam bisnis yang dijalankan oleh tiga kelompok, yaitu suasta sebagai pemilik modal dan peralatan, pemerintah provinsi sebagai pemilik kekayaan dan aset tetap (tanah/lahan) dan pemerintah pusat sebagai konsultan yang mempertemukan keduanya (pemprov dan suasta) sepatutnya pembagiannya harus manusiawi dan adil. Karena teori yang digunakan adalah bagi hasil dan Dalam teori bagi hasil yang sering kali kita pelajadi dalam ekonomi islam merupakan sisi lain dari teori ekonomi kapitalis yang selama ini dinganggap tidak adil. Bagi hasil itu merupakan kompromi teradil yang seharusnya membuat ketiga pengelola aset diatas mendapatkan bagiannya, sehingga kehidupan bernegara kitab isa saling mendukung dan saling memajukan, antara pusat dan daerah dan sebalikya sehingga kita terhindar dari pertikaian yang dapat memicu perpecahan.
Mungkin dengan banyaknya peristiwa yang terjadi akhi-akhir ini dapat membuka kembali mata kita semua, bahwa kita masih belum cukup belajar dari masa lalu, dimana seperti yang dituliskan oleh Mohammad Hatta dalam dokumen pidato radio pada tahun 1948 bahwa kebanyakan pemberontakan yang terjadi adalah buah dari kekecewaan warga negara atas pemerintah yang dianggap telah kehilangan nilai keadilan dan kebajikan dalam bernegara.
Kita harus belajar lagi, karena ini masa yang terulang, sejata-senjata penjajah telah berubah menjadi kekuatan ekonimi, kekuatan narasi dan, kekuatan politik, kita hanya perlu bangkit sekali lagi, mengubah bambu runcing menjadi, ide, aksi, inovasi yang mampu bersaing. Mari menjaga kebinekaan, dengan tidak menganggap kita lebih benar dari orang lain, atau dengan tidak menganggap kita lebih nasionalis dan pancasilais dari orang lain, kelompok lain, ormas lain. Mari kita Bersama-sama beranggapan bahwa kita bisa saja salah dan orang lain bisa saja benar dan sebaliknya, sehingga kita hidup dalam satu kesatuan dapat berdamai dengan pikiran-pikiran kita, saling memberi masukan produktif dalam menyongsong Indonesia emas 2045. Merdeka!!!






