MEMASUKI usia 60 tahun bukanlah usia yang baru beranjak dewasa bagi salah satu perguruan tinggi tertua diMaluku Utara, IAIN Ternate menjadi saksi sejarah perjalanan negeri ini dari masa ke masa, perubahan kepemimpinan daerah maupun para pemimpin kultur begitu juga perubahan politik dan sosial menjadikan IAIN Ternate lebih faham kondisi negeri yang kita kenal dengan sebutan Jaziratul Mulk atau Moloku Kie Raha.
Empat Kesultanan diProvinsi Maluku Utara yang berpijak pada Adat dengan Bersendikan Agama, dan Agama Bersendikan pada Kitabullah dan Sunnah walaupun dengan bahasa yang berbeda pada setiap Kesultanan namun pada dasarnya pijakan tersebut memiliki makna yang sama, dan menjadikan negeri ini memiliki corak prularisme yang patut dicontoh oleh daerah lainnya diNusantara.
Sejarah panjang Tanah ini sejak sebelum terbentuknya Kie Raha, lahirnya Kie Raha, masa kedatangan bangsa kolonial maupun dimasa kemerdekaan, ini merupakan modal utama bagi IAIN Ternate dalam merumuskan konsep Islam Kepulauan dalam Kultur Kie Raha, disaat masyarakat adat dan Negara tidak saling percaya akibat dari investasi maupun kebijakan dan sikap para elit Negara dalam menjalankan roda Pemerintahan saat ini.
Mungkin kita perlu melihat kembali sejarah awal negeri ini, seperti dakwa Islam oleh para pendakwa dari Persia didaratan Halmahera, kemudian para pendakwa berikutnya yang membentuk suatu komunitas masyarakat adat dan struktur Kerajaan/Kesultanan, diplomasi para Sultan dengan berbagai Kerajaan diNusantara, seperti pertemuan Sultan Ternate Zainal Abidin dengan Sunan Giri sekitar tahgun 1500 M, serta perjanjian dengan Kerajaan Tanah Hitu, dakwa Islam oleh para Sultan diwilayah Raja Ampat Papua, banggai dll, maupun surat menyurat dengan para petinggi Kerajaan – Kerajaan diEropa, sehingga keberadaan berbagai suku maupun agama dengan perpaduan budaya yang dapat hidup berdampingan dinegeri Moloku Kie Raha hingga saat ini.
Begitu juga dengan sejarah dunia, berbagai bangsa diEropa ke negeri rempah – rempah pasca jatuhnya Kota Konstantinopel, Konstantinopel merupakan wilayah penting bagi berbagai bangsa diEropa karena merupakan pintu utama perdagangan rempah – rempah yang berasal dari Asia, Kota ini sebagai penghubung diantara belahan dunia bagian barat dan timur, Kota dimana bertemunya berbagai pedagang baik rempah maupun sutera, rempah – rempah merupakan komoditi penting bagi kebutuhan bangsa Eropa untuk makanan, obat – obatan maupun pengawetan.
Konstantinopel diperkirakan berdiri sejak tahun 330 M oleh Kaisar Konstantinus Agung yang merupakan ibu Kota Romawi Timur / Bizantium sebagai pusat politik, ekonomi dan budaya yang cukup kuat pada zamannya, berbagai tembok kokoh melindungi Kota ini dari serangan musuh selama berabad – abad, pada 29 Mei 1453 M Kota yang kokoh dan tak terkalahkan selama berabad – abad ini akhirnya terkepung selama 53/55 hari dan kemudian jatuh ke tangan Muhammad Al Fatih dari Kesultanan Turki Utsmani.
Apa kaitannya dengan Moloku Kie Raha, jatuhnya Kota Konstantinopel mengakibatkan jalur perdagangan darat diEropa tertutup total harga rempah / cengkih melonjak naik, dua kekuatan besar Eropa Kerajaan Portugis/Portugal dan Spanyol kemudian mencari sumber rempah, Portugis melakukan penjelajahan dari semenanjung Liberia pada tahun 1511 M dibawah pimpinan Al Fonso de Albuquerque, mereka sampai diselat Malakka dan perangpun tak dapat dihindarkan, perlawanan bangsa Eropa dengan bangsa Melayu, Bugis, Jawa maupun Maluku terjadi, Malakka kemudian jatuh ke tangan Portugis jalur sutera maritimpun terputus, disinilah para pedagang Arab menyembunyikan informasi tentang sumber rempah/cengkih, pada pendudukan Portugis diMalakka terdapat seorang Apoteker dan Antropolg bernama Tome Pires, selama bertahun tahun ia melakukan penelitian dan pemetaan informasi dari berbagai sumber kedatangan kapal – kapal yang membawa rempah terutama cengkih.
Tome Pires kemudian melaporkan hasil penelitiannya kepada Raja Manuel I diPortugis tentang sumber rampah yang berasal dari beberapa pulau kecil yaitu Batjan, Matcan,Ternate, Tidore dan Jailolo, hasil penelitiannya diuraikan dalam bukunya “Suma Oriental”, setelah diketahui keberadaan pusat rempah – rempah tersebut, Portugis maupun Spanyol bersiap untuk merebutnya, agar tidak terjadi sengketa diantara keduanya mereka kemudian membawa masalah ini kepada pimpinan tertinggi agama diRoma, pada tahun 1493 M keputusan tertinggi Romapun keluar yang menarik jalur dari kutub utara hingga kutub selatan melalui kepulauan Tanjung Verde, Portugis merasa dirugikan karena menutup akses mereka ke barat, untuk meredakan ketegangan diantara kedua bangsa tersebut beberapa kelompok yang terdiri dari para navigator berkumpul diutara Spanyol tepatnya diKota kecil Tordesillas, dan pada 7 Juni 1494 M perjanjian ini disepakati yang membagi dunia menjadi dua bagian, yaitu belahan dunia bagian barat kepada Spanyol dan belahan dunia bagian timur kepada Portugis.
Dua bangsa Eropa yang membagi dunia menjadi dua bagian tanpa pengetahuan dan persetujuan dari para Sultan dan Raja dinegeri asal rempah, pencaplokan tanah, adudomba serta intervensi dalam internal istana akhirnya perang saudara dan penghianatan terjadi dimana – mana dinegri rempah.
Dari gambaran tersebut diatas IAIN Ternate dengan status Negeri suda saatnya berani tampil sebagai jembatan penghubung diantara Masyarakat Adat dan Negara dengan pendekatan kultur yang religius, yaitu dengan peningkatan SDM internal, tidak terpaku pada aktifitas yang monoton dan melahirkan konsep serta inovasi terbaru, penambahan wadah pendidikan yang berkaitan dangan ; Sejarah Perdaban Islam, Antropologi (S.Ant/S,Sos), Filologi (S.Filol) (keberadaan Empat Kesultanan yang melakukan diplomasi dengan berbagai bangsa, maka perlu adanya SDM dalam bidang Antropologi dan filologi), Sastra (S.S), maupun Ekonomi (SE-ME), penambahan wadah pendidikan tersebut baik dalam bentuk Fakultas/Prodi ditingkat Strata 1 maupun Strata 2 yang akan melahirkan pemikir/konseptor/Solusi, maupun pengambil kebijakan yang faham terhadap negerinya, dan akan menjadi bahan pertimbangan bagi Negara sebelum pengambilan keputusan berkaitan dengan hajat hidup Masyarakat Adat diMoloku Kie Raha pada masa kini maupun yang akan datang.
Kepada Almamater yang telah membesarkan kami, suda saatnya ramaikan public Moloku Kie Raha dengan berbagai Konsep dan Solusi, “ Islam Kepulauan dalam Bingkai Kie Raha” akhirnya saya tutup dengan Dola Bololo dan sebuah pantun Ternate ; “Oti ma hera, Kananga hodu – hodu gina ua, maske rihera doro, to si doniru ri kalulu” artinya : perahu yang berlunaskan kayu, kananga tidak pernah menolak muatan, meskipun lunasku terlepas, buritanku tetap kupermainkan, bermaknanya ; landasan ilmu pengetahuan yang telah dikuasai dan diamalkan, walau diterpa tantangan/godaan tetap mampu mempertahankan diri.
“Kie gudu gam gudu, ma nonako kamo – kamo, biar ilmu itego gudu, ri jojoko ka ri nonako”, artinya, gunung jauh negeri nan jauh, tanda kenalnya adalah awan, walaupun ilmu dinegeri nan jauh, pendirianku tetap ku kenal, bermakna ; orang yang memiliki pendirian yang kokoh dalam mencari ilmu betapapun jauhnya.(*)






