Habar dari Ternate; Kampus Hijau Menuju Pusat Keunggulan Indonesia Timur

Abu Sahman Nasim. (dosen sosiologi hukum). 

BAGI sebagian orang, perubahan tersebut mungkin hanya dipahami sebagai perubahan nomenklatur kelembagaan. Namun, bagi mereka yang memahami perjalanan panjang IAIN Ternate, alih bentuk menuju UIN merupakan bagian dari mata rantai sejarah yang telah dimulai sejak puluhan tahun silam. Ia merupakan kelanjutan dari perjuangan para pendahulu yang dahulu membangun pendidikan tinggi Islam di wilayah Maluku Utara dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.

Sejarah IAIN Ternate adalah sejarah tentang cita-cita. Cita-cita itu bermula dari keinginan menghadirkan pendidikan tinggi Islam di tengah masyarakat kepulauan yang pada masa itu memiliki keterbatasan akses terhadap pendidikan tinggi. Dari gagasan tersebut lahirlah sebuah institusi yang kemudian mengalami berbagai perubahan status dan perkembangan kelembagaan. Perjalanan panjang dari Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin di Ternate sejak 31 Agustus 1966, dinegerikan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 1966, kemudian berubah menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Ternate berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1997, menjadi STAIN Ternate 1997, Kemudian Momentum penting akhirnya tiba. Melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2013, STAIN Ternate berubah menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) pada tanggal 10 Januari 2014, sampai saat ini 31 Agustus 2026 Genap berusia 60 Tahun, merupakan bukti bahwa sebuah institusi dapat tumbuh ketika ada kesungguhan, kesabaran, dan visi yang jauh ke depan.

Akhirnya, habar tentang alih bentuk IAIN Ternate menjadi UIN Sultan Baabullah Ternate adalah habar tentang harapan. Harapan bahwa dari sebuah kota di kepulauan Maluku Utara dapat tumbuh sebuah universitas yang memiliki kontribusi besar bagi bangsa. Habar itu juga menjadi pesan bahwa pembangunan Indonesia Timur tidak boleh hanya dilihat dari pembangunan jalan, pelabuhan, bandara, kawasan ekonomi, dan infrastruktur fisik. Pembangunan manusia harus ditempatkan sebagai fondasi utama. Dari Ternate, pendidikan tinggi dapat menjadi kekuatan perubahan. Dari kampus, ilmu pengetahuan dapat bergerak menuju masyarakat. Dari ruang kelas, gagasan dapat berkembang menjadi inovasi. Dari penelitian, solusi dapat lahir. Dan dari mahasiswa, masa depan Indonesia Timur dapat dipersiapkan. Maka, alih bentuk IAIN Ternate menuju UIN Sultan Baabullah bukanlah sekadar perubahan status. Ia adalah napak tilas yang bergerak menuju masa depan.

Para pendiri telah meninggalkan jejak. Para pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, alumni, dan masyarakat telah meneruskan perjalanan tersebut. Kini tiba saatnya generasi berikutnya menulis halaman baru. Halaman itu harus lebih besar daripada halaman sebelumnya. Sebab, yang sedang dibangun bukan hanya sebuah universitas. Akan tetapi Yang sedang dibangun adalah masa depan manusia Indonesia Timur. Dan dari Ternate, dari bumi Moloku Kie Raha, sebuah habar patut dikumandangkan:

Alih bentuk IAIN menjadi UIN harus menjadi momentum untuk memperkuat posisi Ternate sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi di kawasan Timur Indonesia. Ternate memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan, kebudayaan, dan pertemuan berbagai komunitas. Posisi tersebut dapat dikembangkan menjadi kekuatan akademik. UIN Sultan Baabullah Ternate dapat membangun keunggulan berbasis karakter wilayah. Sebagai daerah kepulauan, Maluku Utara memiliki laboratorium alam dan sosial yang sangat kaya. Laut, pulau-pulau kecil, masyarakat pesisir, tradisi kesultanan, keragaman budaya, sejarah perdagangan rempah, serta kehidupan keagamaan masyarakat dapat menjadi sumber penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.

Perguruan tinggi dapat mengambil peran sebagai pusat studi kemaritiman dan kepulauan, pusat kajian Islam dan masyarakat pesisir, pusat kajian sejarah dan kebudayaan Moloku Kie Raha, pusat pengembangan ekonomi masyarakat, serta pusat penelitian tentang lingkungan dan keberlanjutan wilayah kepulauan. Dengan demikian, universitas tidak perlu selalu mengikuti arus keilmuan yang dikembangkan oleh perguruan tinggi di wilayah lain. UIN Sultan Baabullah Ternate justru dapat menawarkan perspektif yang lahir dari pengalaman masyarakat kepulauan Indonesia Timur.

“IAIN Ternate sedang melangkah menuju UIN Sultan Baabullah Ternate, bukan untuk sekadar menjadi lebih besar, tetapi untuk menjadi lebih berarti bagi agama, masyarakat, daerah, bangsa, dan masa depan Indonesia Timur”.(*)

 

banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *