Cerita Inspiratif Empat Mahasiswa IAIN Ternate yang Sukses Meraih Predikat Lulusan Terbaik di Tahun 2026

Kolase Foto Arif Aries, Surahman Rusli, Khalishah Dayanah Rochmat, dan Nurul Azzahra Abdul

SETIAP pelaksanaan wisuda sarjana dan pascasarjana di IAIN Ternate, selalu menghadirkan kisah tentang perjalanan mahasiswa dari latar belakang sederhana maupun dari anak seorang ASN, TNI Polri yang berhasil membuktikan bahwa kerja keras dan ketekunan mampu meraih predikat lulusan terbaik. Dan’ pada wisuda kali ini, kisah inspiratif datang dari empat mahasiswa peraih predikat lulusan terbaik pada program sarjana, yakni Arif Aries, Surahman Rusli, Khalishah Dayanah Rochmat, dan Nurul Azzahra Abdul. Simak cerita mereka dan ambil inspirasinya

Setiap mahasiswa jika pertama kali menancapkan langkahnya ke halaman kampus, pasti yang terlintas dalam benak adalah tekad kuat untuk meraih gelar sarjana, sehingga apapun rintangan yang dihadapi sepanjang menjalani perkuliahan, pikiran tetap tertuju pada tujuan yang telah ditetapkan, yakni menuntaskan pendidikan tepat waktu, agar menghadirkan senyum kebahagiaan di wajah orangtua.

Hal ini seperti dituturkan Arif Aries, 22, ketika resmi mendaftar di IAIN Ternate, target yang diusung adalah giat belajar demi menggenggam gelar sarjana dan membuat orangtuanya bangga.

Ia sadar bahwa perjuangan menempuh pendidikan tinggi tanpa sang ayah adalah sebuah perjalanan yang penuh perjuangan, air mata, sekaligus pembuktian kedewasaan.

Saban hari ia bukan hanya konsentrasi belajar di kampus, melainkan membagi waktu antara membantu orangtua berjualan di pasar, serta menyelesaikan tugas kuliah tepat waktu, agar target yang diusung benar-benar tercapai.

“Ayah saya telah berpulang saat saya masih berada di kelas III SMP, jadi biaya pendidikan saya sejak berada di bangku SMA hingga perguruan tinggi ditanggung oleh ibu,” ujar Arif saat ditemui di kampus IAIN Ternate, Jum’at (4/6/2026).

Mahasiswa program studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) yang ditetapkan sebagai lulusan terbaik tingkat Institut di tahun 2026 dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,98 itu mengungkapkan, motivasi menjalani aktivitas perkuliahan semakin berlipat, ketika ia dan teman-temannya kerap kali mendapat suntikan semangat dari dosen mereka saat berlangsungnya proses pembejalaran di kelas.

Lontaran motivasi yang diterima membuat ia makin dewasa dalam menyikapi hidup, bahwa mencetak sukses harus membutuhkan pengorbanan besar dan ketekunan yang konsisten.

Untuk itu, ia membuat jadwal terstruktur serta menentukan prioritas, agar kesibukan di pasar tidak menghalangi ia untuk belajar, serta menunaikan salat tepat waktu. Semuanya ia lakukan demi meraih sukses sebagai seorang mahasiswa.

Dan’ benar saja, apa yang telah ditetapkan dan dijalani akhirnya berbuah manis, yakni tatkala beranjak ke semester III (tiga), ia diganjar beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) kuliah oleh pihak fakultas setelah ia mengantongi IPK maksimal.

“Saya mulai mendapat beasiswa KIP-K saat berada di semester III hingga di semester akhir, dengan bantuan beasiswa dapat meringankan beban ibu saya,” ucapnya.

Anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Idris Aries (Alm) dan Asfa Hari itu mengatakan selain menjalani aktivitas kuliah, keinginan untuk berorganisasi juga sangat tinggi seperti ia berada di bangku SMP Ulul Albaab kota Ternate dan SMAN 8 kota Ternate, hanya sayangnya impian tersebut tidak dapat dituntaskan, lantaran menjalani hidup tanpa sang ayah membuat ia berpikir keras belajar di kampus dan membantu sang ibu di pasar.

Aktivitas berdagang di pasar dilakukan secara shift, yakni seusai menunaikan salat subuh ia harus bergegas dari rumahnya di lingkungan Tabahawa kelurahan Salahuddin, Ternate Tengah, ke pasar Gamalama.

Di pasar, ia mulai siaga di tempat jualan dari pukul 6.30 – 7.30 wit, kemudian lanjut ke kampus mengikuti aktivitas perkuliahan, dan kembali pulang dari kampus melanjutkan tugasnya menjaga tempat jualan sang ibu.

“Sejak berada di bangku SMP dan SMA, saya gemar berorganisasi yakni menjadi sekretaris Osis di SMP Ulul Albaab, dan pengurus Rohis SMAN 8 kota Ternate, serta terlibat mengikuti berbagai event perlombaan nonakademik, tapi saat berada di bangku kuliah, keinginan berorganisasi tak bisa dituntaskan karena konsentrasi membantu orangtua di pasar,” katanya.

“Karena kedua orangtua saya berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara, dan mereka membangun bisnis jualan pakaian di pasar, tepatnya di lantai II pasar Barito, Gamalama,” imbuh remaja kelahiran Ternate, 14 Agustus 2004.

Sadar bahwa prestasi akademik yang ia raih dapat menginspirasi mahasiswa di IAIN Ternate, sehingga ia menyampaikan bahwa untuk meraih sukses, setidaknya langkah awal yang dilakukan adalah tekun belajar, rajin salat, serta senantiasa mempelajari hal-hal baru melalui teknologi digital.

Menurut dia, sebagai generasi muda penerus bangsa, aktivitas hedonisme harus dihindari, lantaran saat ini persaingan di dunia kerja makin kompetitif, sehingga harus menyiapkan diri sebaik mungkin, agar dapat berkompetisi untuk meraih sukses di dunia kerja.

“Untuk adik-adik mahasiswa, jangan pernah berhenti belajar, manfaatkan waktu semaksimal mungkin mengasah cara berpikir, agar kelak kita menjadi generasi unggul dan memberi kontribusi untuk kemajuan Maluku Utara,” katanya.

Alumni SDN 7 kota Ternate itu mengungkapkan, keinginan terbesar setelah meraih gelar sarjana adalah memanfaatkan kesempatan untuk mengikuti seleksi beasiswa LPDP, agar dapat melanjutkan studi ke jenjang pascasarjana demi menuntaskan impiannya menjadi seorang akademisi di IAIN Ternate.

“Impian saya adalah menjadi seorang akademisi,” tandasnya.

Jika Arif Aries menjalani aktivitas kuliah sambil berbagi waktu membantu sang ibu berjualan di pasar, Surahman Rusli lebih berkonsentrasi sebagai guru ngaji di lingkungan tempat tinggalnya di kelurahan Dufa-Dufa Ternate Utara.

Surahman adalah mahasiswa program studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) yang ditetapkan sebagai lulusan terbaik pada fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) setelah ia mengantongi IPK 3,93.

Anak kedua dari empat bersaudara dari pasangan Rusli Hi Adnan dan Sulasmi Tauda itu mampu meraih prestasi akademik di tengah kesibukan di organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) komisariat FUAD IAIN Ternate.

Prestasi akademik yang ia kantongi sekaligus menepis stereotip bahwa seorang aktivis mahasiswa yang terlalu sibuk berdemonstrasi atau berorganisasi hingga mengabaikan nilai akademiknya.

Ia mengakui bahwa prestasi akademik dapat diraih sepanjang membagi waktu sebaik mungkin di kampus dan kesibukan di organisai. Dengan begitu langkah yang ditentukan yakni menyelesaikan studi tepat waktu serta meraih prestasi akademik dapat dituntaskan.

Kisah Surahman di IAIN Ternate memang agak sedikit berbeda dengan mahasiswa kebanyakan, lantaran sepanjang menjalani aktivitas sebagai mahasiswa bukan hanya ia sendiri yang mendapat subsidi dari orangtua.

Karena ia dan adik kembarnya, Surahmin Rusli sama-sama memutuskan kuliah di waktu yang bersamaan. Kondisi inilah membuat ia harus berpkir keras agar keduanya menyelesaikan studi tepat waktu.

Walaupun sebagai anak kembar, namun berbeda nasib saat berada di semester awal, yakni sang adiknya berhasil lulus seleksi beasiswa KIP-K dan diberi kesempatan untuk menetap di asrama mahasiswa. Sementara dirinya harus rela hidup berpisah sepanjang menjalani aktivitas sebagai mahasiswa di IAIN Ternate.

“Adik saya di program studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, dan dia tinggal di Asrama Mahasiswa, sementara saya tinggal di kontrakan,” terangnya, saat ditemui di kampus IAIN Ternate, Jum’at (4/6/2026).

Kondisi inilah memaksa ia harus giat belajar serta memutar otak untuk mencari pekerjaan sampingan demi mendongkrak biaya pendidikan, lantaran ia sadar bahwa memiliki orangtua dengan latar belakang pekerjaan sebagai seorang petani, pasti kerap terantuk dengan masalah keuangan.

Sehingga, selain menyibukan diri di kampus dan organisasi, ia kerap kali terjun ke jalan mengais rezeki, yakni memanfaatkan waktu sebagai tukang ojek. Selain itu, pada malam hari ia menyibukan diri sebagai guru ngaji di lingkungan yang ia tinggali demi mendongkrak biaya hidup sepanjang berada di kota Ternate.

“Walaupun berbeda tempat tinggal, tapi kami saling support, dan terus bertekad untuk rajin kuliah agar lulus di waktu yang bersamaan,” ucapnya.

Ia mengungkapkan, dengan tekad yang kuat raih prestasi, sehingga di tengah kesibukan, ia tetap menaruh perhatian untuk belajar. Dengan begitu, IPK-nya di setiap semester mulai terdongkrak sehingga pada semester 6, namanya ditetapkan sebagai penerima beasiswa KIP-K.

“Kalau UKT dari semester 1-5 disubsisi oleh orangtua dan kakak, tapi dari semester 6-8 sudah ter-cover dari beasiswa KIP-K,” ungkapnya.

“Cendera mata dari beasiswa KIP-K yang saya peroleh adalah satu unit laptop, ini sebagai bukti dan menjadi cerita tentang perjalanan saya menimba ilmu di IAIN Ternate,” sambungnya alumni MAN 1 Halmahera Utara.

Untuk organisasi, selain aktif di HMI Komisariat FUAD, ia juga aktif di himpunan mahasiswa program studi (HMPS) SPI, bahkan pada periode 2024-2025 ia terpilih sebagai nahkoda HMPS SPI.

“Kalau di HMI Komisariat FUAD, saya menjabat Kabid PTKP,” katanya.

Dengan pengalaman yang didapatkan pada organisasi, membuat ia makin leluasa mengisiasi menggelar kegiatan-kegiatan sosial keagamaan; baik di kampung halamannya di desa Papaceda, kecamatan Gane Barat, Halmahera Selatan, maupun di Ternate.

Selain itu, ia juga sering tampil bersama dosen di program studi SPI untuk melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM). Dia mengaku dengan terlibat pada kegiatan akademik maupun nonakademik, dapat melatih mentalnya, serta menjadi modal berharga jika lulus kuliah dan berkiprah sebagai tenaga pendidik.

“Sejak menjadi ketua HMPS SPI, program yang saya gulirkan adalah menghadirkan manfaat bagi semua mahasiswa SPI, seperti menggelar kegiatan di setiap malam jumat; melakukan yasinan bersama dan dilanjutkan kultum,” ungkapnya.

“Bahkan di kami juga menggelar latihan khutbah yang dibimbing oleh dosen kami, Usman Nomay, S,Ag., M.Pd,” sambungnya.

Dengan raihan predikat lulusan terbaik fakultas dan berksempatan tampil di hadapan Menteri Agama saat proses berlangsungnya acara wisuda, membuat dirinya bangga, lantara ia mampu membuat kedua orangtuanya senyum bangga.

Alumni MTs Al-Bab Ori Galela Selatan itu mengaku bahwa walaupun telah resmi menyandang status alumni, namun perhatian dan kecintaan terhadap prodi SPI tetap tertancap kuat di hati.

Untuk itu, ia bakal senantiasa mempromosikan prodi SPI dan mengajak anak-anak muda untuk melanjutkan studi di IAIN Ternate dan memantapkan pilihan di prodi SPI. Selain itu, ia berpesan kepada adik-adiknya di prodi SPI, agar harus giat belajar demi meraih prestasi akademik dan membuat orangtua bangga.

“Untuk mahasiswa di prodi SPI, harus belajar dengan giat dan mempunyai orientasi yang jelas untuk mencapai tujuan yang di inginkan. Selain itu, harus aktif di berbagai bidang untuk mensosialisasikan prodi di sekolah, maupun kepada masyarakat untuk menarik perhatian siswa-siswi untuk lanjut kuliah di IAIN Ternate,” pintanya.

“Dan juga harus menggelorakan literasi; baik di kampus maupun di setiap kampung halaman, dan harus menjaga nama baik almamater dan harus menunjukkan akhlakulkarimah yang baik di tengah-tengah masyarakat,” tandasnya.

Jika Arif Aries memiliki orangtua berprofesi sebagai wiraswasta dan Surahman Rusli adalah anak petani, maka kisah meraih prestasi akademik dan mendapat predikat lulusan terbaik juga datang dari dua mahasiswa yang memiliki orangtua berlatar belakang pekerjaan sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), yakni Khalishah Dayanah Rochmat dan Nurul Azzahra Abdul.

Walaupun kedua tidak menemui kendala sepanjang menempuh pendidikan di IAIN Ternate, melainkan memilik semangat yang sama: giat belajar demi mencatatkan prestasi akademik dan menuntaskan pendidikan tepat waktu.

Seperti diakui Khalishah Dayanah Rochmat, 22, bahwa menuntut ilmu memang harus butuh kedisiplinan, yakni disiplin mengikuti proses pembelajaran, mengerjakan tugas kuliah hingga disiplin menjalankan salah lima waktu.

Menurut dia, dengan disiplin, praktis segala hal yang direncanakan dapat berjalan secara baik, terlebih target menuntaskan pendidikan tepat waktu. Dia mengungkapkan, walaupun pada awalnya tidak mengusung ambisi meraih IPK tertinggi, tapi karena konsisten belajar dan rajin kuliah lah membuat namanya tercatat sebagai lulusan terbaik di Fakultas Syariah.

Dia menyatakan, awal mula tertarik belajar ilmu hukum berawal dari motivasi yang dilontarkan kedua orangtua, karena mereka semua merupakan jebolan dari fakultas Hukum.

Walaupun begitu, ia mendapat anjuran agar melanjutkan studi di kampus keagamaan, agar dapat belajar hukum berbasis syariah Islam, sehingga saat medaftar di IAIN Ternate, ia tak ragu langsung menentukan pilihan pada prodi Hukum Keluarga Islam (Ahwal Al-Syakhshiyah).

“Di prodi inilah saya mempelajari tentang hukum perdata Islam terkait pernikahan, perceraian, waris, dan perwalian,” katanya saat ditemui di kampus IAIN Ternate, Jum’at (4/6/2026).

Gadis kelahiran Ternate, 27 Juli 2004 itu mengungkapkan, dirinya memang giat belajar hingga tercatat sebagai mahasiswa berprestasi di Fakultas Syariah, lantaran terbawa kebiasaan dari Pondok Pesantren Islamic Centre Bin Baz Yogyakarta.

 

Karena di ICBB Yogyakarta, dirinya ditempah untuk giat belajar, bahkan mencatatkan prestasi sebagai juara I saat berada di bangku kelas satu ICBB Yogyakarta.

Sebagai mahasiswa fakultas Syariah, alumni SMP Albina Ternate ini bukan hanya konsentrasi pada kegiatan perkualihan, melainkan juga menyibukan diri di organisasi intra kampus, yakni di HMPS Hukum Keluarga Islam dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas.

Dia menjelaskan, setiap mahasiswa yang aktif di organisasi, praktis mengasah kemampuan individu, serta membangun relasi atau networking yang nantinya memberi keuntungan saat berada di dunia kerja.

Selain itu, menurut dia, menimba ilmu di perguruan tinggi merupakan privilege bagi setiap orang, sehingga harus gunakan kesempatan sebaik mungkin untuk memudahkan langkah dalam meraih kesuksesan di masa mendatang.

“Karena setiap langkah kita di kampus menjadi bagian dari perjalanan menuju masa depan yang lebih baik dan berdampak bagi masyarakat,” kantanya

Dia berharap, prestasi akademik yang diraihnya, nantinya menginspirasi mahasiswa di fakultas syariah maupun seluruh mahasiswa di IAIN Ternate, agar senantiasa konsisten belajar untuk mencatatkan prestasi demi mengharumkan nama kedua orangtua pada momentum pelaksanaan wisuda.

“Untuk mahasiswa di fakultas Syariah IAIN Ternate, jadikan ilmu yang dipelajari sebagai bekal untuk memahami hukum dan persoalan kehidupan, dan harus berpegang pada nilai-nilai Islam. Jadi, mahasiswa itu harus kritis dalam berpikir, namun santun dalam bersikap,” ujar peraih IPK 3,91 dari 76 lulusan Fakultas Syariah di tahun 2026.

Setelah menuntaskan pendidikan Sarjana di IAIN Ternate, Khalishah memilih profesi yang berbeda dengan sang ayah sebagai seorang ASN, ia mengaku lebih tertarik menjadi seorang Advocat atau Notaris.

“Saya lebih tertarik menekuni pekerjaan sebagai Advocat atau Notaris,” tandasnya.

Sementara itu Nurul Azzahra Abdul, 23, merupakan lulusan terbaik dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) yang mengantongi IPK 3,97 dari 148 lulusan menuturkan bahwa sebagai anak seorang ASN, sepanjang menimba ilmu di IAIN Ternate dirinya tidak menemui kendala berarti; baik dalam aktivitas perkuliahan maupun dari segi financial.

Untuk itu, ia selalu memusatkan perhatian pada aktivitas belajar serta menyibukkan diri di organisasi intra kampus dan ektra kampus, yakni bersama HMPS Akuntansi Syariah dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Persiapan FEBI.

Sebagai anak dengan orang tua yang berlatar belakang pekerjaan sebagai ASN, walaupun meraih prestasi akademik, namun ia tak bisa ditetapkan sebagai penerima beasiswa KIP-K.

Walaupun begitu, pada setiap semester ia mencatatkan IPK dan membuka jalan untuk meraih beasiswa dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara. Dengan begitu, namanya tercatat sebagai salah satu mahasiswa berprestasi di FEBI IAIN Ternate.

“Saat mendapat beasiswa BI, saya resmi bergabung bersama GenBI Malut di Devisi Keweirausahaan,” terang Nurul di kampus IAIN Ternate, Jum’at (4/6/2026).

“Kalau di fakultas, saya sebagai sekretaris umum HMPS AKS,” imbuhnya.

Selain mencatatkan namanya sebagai mahasiswa dengan IPK sempurna pada setiap semester, putri dari pasangan Abdul Ahmad dan Ica Ambarak ini juga sering terlibat di berbagai event yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi lainnya di kota Ternate.

Prestasi akademik dan nonakademik di IAIN Ternate yang ia raih, tak terlepas dari jejak rekam prestasinya di saat berada di bangku sekolah; baik SD maupun MTs Harisul Khairaat Ome Tidore.

“Kalau di SDN Negeri Ome Tidore, saya meraih juara I dari kelas 1-6, dan mengikuti OSN Matematika, kemudian di bangku MTs mengikuti lomba KSM Matematika,” terangnya.

Jika di kampus, selain konsentrasi mengikuti aktivitas perkuliahan dan terlibat pada organisasi, gadis yang memiliki impian menjadi seorang Akuntan itu, ketika kembali pulang di kampung halamannya di kota Tidore Kepulauan dan tampil sebagai guru ngaji serta terlibat pada berbagai kegiatan sosial.

Ditetapkan sebagai lulusan terbaik FEBI di tahun 2026, ia mengaku bangga, terlebih tampil menggenggam tangan orangtua dan merayakan kelulusan di hadapan Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.

Untuk itu, ia berpesan kepada mahasiswa FEBI bahwa selalu mengusung target meraih prestasi; baik akademik maupun nonakademik, agar dapat mengharumkan nama orangtua.

“Bangku kuliah itu Istimewa, tidak semua orang punya Privilege itu, jadi jalani dan berikan yang terbaik,” katanya.

“Untuk teman-teman yang masih berjibaku dengan makalah, rumus, tabel, neraca dan juga ekspektasi di mana-mana, tetap yakin bahwa apa yang kita kerjakan sekarang pasti akan mengantarkan kita pada versi terbaik di masa mendatang,” ujarnya

“FEBI IAIN Ternate mengajarkan kita bahwa neraca bukan hanya soal balance, ekonomi bukan hanya tentang uang dan bisnis bukan hanya untung rugi, tapi tentang bagaimana kita teru

s memberi dampak, yakni menciptakan solusi, serta bertindak dengan perhitungan yang terbaik,” tandasnya.(*)

Penulis : HMS : Editor : S.S.Suhara

 

banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *