Morofest 2026 di Tengah Asap, KNPI Minta Karhutla Jadi Prioritas

Lokasi Panggung Utama Morofest 2026 di depan gedung Morotai Mall.

MOROTAI Festival (Morofest) 2026 mulai digelar di tengah persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang masih dirasakan masyarakat Kabupaten Pulau Morotai, selasa (6/10/2026).

Di satu sisi, Morofest 2026 menjadi agenda promosi pariwisata dan diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat. Namun di sisi lain, kabut asap masih mengganggu aktivitas warga, bahkan berdampak pada kegiatan belajar mengajar.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pulau Morotai sebelumnya menerbitkan Surat Edaran Nomor 000.1.5/112/SETDA-PM/2026 tertanggal 2 Oktober 2026. Dalam surat tersebut, pembelajaran tatap muka jenjang SMP, SD, serta PAUD/TK se-Kabupaten Pulau Morotai diliburkan mulai 5 hingga 10 Oktober 2026 akibat kondisi kabut/asap.

Kebijakan itu diambil untuk melindungi kesehatan dan keselamatan peserta didik, pendidik serta tenaga kependidikan. Sekolah juga diminta menerapkan pembelajaran dari rumah apabila memungkinkan dan menginstruksikan penggunaan masker secara benar dan konsisten.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Ketua DPD II KNPI Pulau Morotai, Julkifli Samania. Ia meminta pemerintah daerah memastikan pelaksanaan Morofest tidak mengurangi perhatian terhadap penanganan karhutla dan kabut asap.

“Agenda pariwisata tetap penting, tetapi penanganan karhutla dan kabut asap juga harus menjadi prioritas karena dampaknya sudah dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Julkifli, Selasa (6/10/2026).

Menurut dia, pelaksanaan Morofest dan penanganan persoalan lingkungan pada dasarnya dapat berjalan beriringan. Namun, ketika kabut asap sudah berdampak terhadap aktivitas pendidikan, langkah pencegahan dan penanganan karhutla perlu diperkuat.

“Kalau sampai sekolah diliburkan karena kondisi asap, ini menunjukkan persoalannya bukan lagi sekadar isu lingkungan. Pemerintah perlu memperkuat langkah pencegahan dan penanganan di lapangan,” katanya.

Julkifli juga menyoroti kesiapan pemerintah dalam mencegah kebakaran meluas. Di antaranya melalui penguatan patroli di kawasan rawan, kesiapan personel dan peralatan pemadam, serta percepatan penanganan ketika ditemukan titik api.

Sebelumnya, pemerintah daerah menyebut kondisi kabut asap di Morotai berkaitan dengan kekeringan, kebakaran dan fenomena El Nino. Karena itu, perhatian terhadap pencegahan karhutla dinilai tetap penting meski daerah sedang menjalankan agenda besar seperti Morofest 2026.

Morofest dapat menjadi ruang promosi pariwisata sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat. Namun, ketika kabut asap sampai membuat sekolah diliburkan, perhatian publik juga tertuju pada sejauh mana pemerintah memperkuat langkah konkret untuk mencegah kebakaran dan melindungi masyarakat dari dampaknya.(}

banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *