REKTOR Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ternate Dr Adnan Mahmud secara resmi mengukuhkan sebanyak 523 wisudawan dan wisudawati menjadi Sarjana dan Pascasarjana tahun 2026 pada acara wisuda sekaligus Dies Natalis ke 60 yang dipusatkan di Auditorium IAIN Ternate, Pada Ahad (6/9/2026).
Pengukuhan itu berdasarkan SK Rektor IAIN Ternate Nomor : 307 Tahun 2026 Tentang Nama-Nama Wisudawan-Wisudawati sarjana dan Pascasarjana pada Fakultas FTIK, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Fakultas Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Ternate tahun akademik 2026-2026.
Dari 523 wisudawan dan wisudawati yakni terdiri Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan sebanyak 209 orang , kemudian Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) sebanyak 148 orang, sedangkan Fakultas Syariah dengan 76 orang, Program Pascasarjana 52 lulusan, serta Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) dengan 38 orang.
Sementara dari sekian wisudawan tersebut, sebanyak 5 wisudawan yang telah resmi ditetapkan sebagai lulusan terbaik, yakni atas nama Nurmala Sinen dari Program Pascasarjana dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,87, kemudian Arif Aries dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) dengan IPK 3,98, Khalishah Dayana Rochmat dari Fakultas Syariah yang mengantongi IPK 3,91, Surahman Rusli dari Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) yang meraih IPK 3,93, serta Nurul Azzahra Abdul keterwakilan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) dengan IPK 3,97.
Rektor IAIN Ternate Dr. Adnan Mahmud pada sambutannya mengatakan tepat pada tanggal 31 Agustus 2026, IAIN Ternate mencapai usianya yang ke-60 tahun. Tepatnya pada tahun 1966, satu tahun setelah pergolakan nasional yang nyaris meruntuhkan ideologi dasar negara, Pancasila, beberapa tokoh di Ternate berpikir dan memutuskan untuk mendirikan sebuah perguruan tinggi Islam. Tujuan mereka adalah mengatasi kelangkaan (jika bukan ketiadaan) guru-guru agama Islam pada saat itu, yang dapat menyiarkan dan mengajarkan ajaran Islam kepada para penganutnya. Ketiadaan sumberdaya manusia dan fasilitas pendidikan tinggi diatasi dengan mendirikan perguruan tinggi agama Islam di Kabupaten Maluku Utara.
” Tanpa mengurangi rasa hormat dan terima kasih kepada para tokoh dan pihak lain yang berperan merintis dan mendirikan Fakultas Tarbiyah IAIN Filial Ujungpandang di Ternate, yang merupakan cikal bakal IAIN Ternate saat ini. Dalam kesempatan terbatas ini kami menyebutkan beberapa di antaranya, yaitu Menteri Agama R.I Prof. KH. Saifuddin Zuhri, Busoiri, Komandan Kodim Maluku Utara Letkol. Suwignyo, Bupati KDH.Tkt.II Maluku Utara, M.S Jahir, Drs. Jasin Muhammad, Baharuddin Lopa, SH, M. Adnan Amal SH, dan Drs. Husen Alhadar,”tandasnya
Lebih jauh ia memaparkan bahwa dari hasil jerih dan peluh para tokoh tersebut merupakan anteseden dari kehadiran semua sivitas akademika IAIN Ternate pada hari ini. Para tokoh tersebut telah mendirikan IAIN Ternate sebagai sebuah pilar dan pusat peradaban bagi kaum muslim dan umat manusia di Maluku Utara. Mulanya adalah Fakultas Tarbiyah Filial Alauddin Ujungpandang di Ternate (tahun 1966), berubah menjadi STAIN Ternate tahun 1997, kemudian berubah status menjadi IAIN Ternate pada tahun 2013 hingga saat ini.
“Pilar dan pusat peradaban yang lahir dari visi, pemikiran dan peluh para pendiri enam puluh tahun silam, kini menjadi sebuah “tradisi”, yakni sesuatu yang kita warisi, dan akan kita wariskan kepada generasi-generasi berikutnya.,”ucapnya.
Mantan Warek 1 itu menjelaskan bahwa menggunakan klasifikasi Robert Redfield, IAIN Ternate merupakan pusat “tradisi besar”, pusat dimana pengajaran ilmu pengetahuan dalam artian sains, dan ilmu-ilmu Ke-Islam-an yang diajarkan oleh para sarjana reflektif dengan keahlian dari berbagai bidang ilmu. Di pihak lain, terdapat “tradisi kecil”, dimana pengetahuan (knowledge), praktik-praktik budaya, sistem kepercayaan dan keagamaan sebagaimana wujud tanpa refleksi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat di Pulau-pulau, Desa dan Kota.
Menurut Redfield (ibid:58) kedua tradisi tersebut saling bergantung, sudah lama saling mempengaruhi, dan selanjutnya masih demikian. Tetapi muncul pertanyaan tak terhindarkan: bagaimana keduanya saling bergantung dan saling mempengaruhi? Apa yang dapat dilakukan IAIN Ternate untuk menjembatani dirinya sebagai “tradisi besar” dengan “tradisi kecil” yang hidup di dalam masyarakat Pulau, Desa dan Kota?.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, lebih lanjut kata dia, IAIN Ternate mengetengahkan visinya, yaitu: Menjadi Perguruan Tinggi Islam yang profesional dan andal dalam membangun Masyarakat Islam Kepulauan yang saleh, moderat, cerdas, dan unggul. Visi ini menciptakan ruang gerak bagi IAIN Ternate untuk “berdialog” secara reflektif dan dapat menghasilkan penemuan-penemuan secara ilmiah melalui penelitian, menyumbangkan pengetahuan baru untuk pendidikan/pengajaran, dan memberikan kerangka untuk praktik pengabdian kepada masyarakat secara terstruktur dan terukur.
Syarat utama yang harus dipenuhi untuk mewujudkan visi tersebut yaitu keterlibatan partisipatif berbagai bidang ilmu sosial humaniora (di dalamnya ilmu-ilmu Ke-Islam-an) dan ilmu kealaman dalam suatu gerakan yang terintegrasi pada tingkat kurikulum pendidikan/pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
” Prasyarat yang harus dipenuhi untuk wujudnya kondisi tersebut adalah pengembangan kelembagaan dari Institut sehingga tercipta ruang bagi kehadiran bidang-bidang ilmu pengetahuan yang disyaratkan. Dengan cara itu, dan hanya dengan cara itu, tradisi yang kita warisi hari ini dapat dikembangkan secara kuantitatif dan kualitatif, yang akan kita wariskan untuk generasi-generasi berikutnya,”tuturnya.
Rektor yang juga Ketua FKUB Maluku Utara, menyebutkan perayaan Dies Natalis ke-60 Tahun IAIN Ternate dengan Tema Berkhidmat kepada Kebajikan, sebuah penegasan bahwa integrasi antara iman, riset dan kepedulian pada lingkungan dan alam semesta sepenuhnya diabdikan untuk membawa kemaslahatan serta kedamaian bagi masyarakat dan alam semesta, begitu juga bagi civitas akademika dan alumni IAIN Ternate teruslah berbuat untuk kemaslahatan umat dan bangsa.
Kini, dalam kurun 60 tahun, IAIN Ternate baru memiliki empat Fakultas dan Pascasarjana; Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Fakultas Syariah, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah, dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. Oleh karena itu, dibutuhkan pengembangan lebih jauh dalam aspek kelembagaan, yaitu melalui alih bentuk menjadi UIN Sultan Baabullah Ternate.
“Kepada para wisudawan, hari ini kita merayakan capaian akademik saudara-saudara sebagai Sarjana dan Pascasarjana. Sejak saat ini, saudara-saudara memikul tanggungjawab yang melekat dalam gelar akademik yang telah dipilih. Rektor dan sivitas akademika IAIN Ternate menyampaikan selamat dan sukses selalu menyertai anda semua,”harapnya
Pada acara wisuda dan Dies Natalis ke 60 IAIN Ternate tahun 2026 ini turut dihadiri oleh Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe, Bupati Haltim, Kakanwil Kemenag Malut Amar Manaf, dan stackholder lainnya. Perlu diketahui sejatinya Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar hadir pada acara wisuda hanya saja berhubung terjadi bencana gunung anak Krakatau meletus dan abu vulkanik dapat mengganggu penerbangan sehingga mengakibatkan pesawat yang ditumpangi menteri batal berangkat menuju Ternate. (*)
Penulis : Redaksi : Editor : S.S.Suhara






