DI tengah carut-marut kehidupan berbangsa dan bernegara, mulai dari pemerintah pusat hingga pemerintahan desa, kita dihadapkan pada berbagai persoalan yang semakin kompleks. Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme, kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat, konflik sosial, konflik politik, serta berbagai bentuk ketimpangan lainnya menjadi realitas yang membutuhkan perhatian serius. Situasi tersebut menuntut kehadiran kelompok intelektual yang mampu membaca, menganalisis, mengkritisi, dan menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat. Salah satu kelompok yang memiliki tanggung jawab historis dan sosial tersebut adalah mahasiswa.
Namun, persoalan yang perlu kita pertanyakan adalah bagaimana jika mahasiswa justru kehilangan peran dan tanggung jawab sosialnya? Bagaimana jika organisasi mahasiswa yang semestinya menjadi ruang kaderisasi intelektual, pembentukan kesadaran kritis, dan pengorganisasian gerakan sosial justru kehilangan orientasi perjuangannya? Pertanyaan ini menjadi penting ketika kita melihat kondisi Himpunan Pelajar Mahasiswa Maba Tengah (HIPMMAT), yang seharusnya memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran intelektual, mengawal kebijakan, serta memperjuangkan kepentingan masyarakat.
HIPMMAT tidak boleh sekadar menjadi organisasi yang hidup melalui struktur kepengurusan, pergantian kepemimpinan, kegiatan seremonial, dan rutinitas administratif. Sebab, keberadaan organisasi tidak cukup diukur dari seberapa lama ia bertahan atau seberapa banyak agenda yang diselenggarakan, melainkan dari sejauh mana organisasi mampu menjalankan fungsi intelektual dan sosialnya. Organisasi mahasiswa harus menjadi ruang produksi pengetahuan, pertarungan gagasan, pembentukan karakter, serta penguatan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat. Jika aktivitas organisasi hanya berputar pada urusan internal tanpa keterlibatan nyata dalam membaca dan merespons persoalan sosial, maka kehilangan arah perjuangan merupakan sesuatu yang patut dipertanyakan.
Kehilangan kiprah perjuangan juga tidak semata-mata ditandai dengan berkurangnya demonstrasi atau aksi turun ke jalan. Gerakan mahasiswa tidak boleh dipersempit hanya pada demonstrasi. Perjuangan dapat diwujudkan melalui berbagai ruang, seperti membaca, menulis, diskusi, penelitian, pendidikan politik, advokasi, pengorganisasian masyarakat, hingga pengawasan terhadap kebijakan publik. Justru, seluruh aktivitas tersebut merupakan fondasi yang membentuk gerakan mahasiswa agar tidak terjebak dalam tindakan yang emosional dan kehilangan landasan argumentasi. Gerakan yang kuat harus dibangun melalui perpaduan antara pengetahuan, kesadaran, keberanian, dan tindakan nyata.
Di sisi lain, perkembangan zaman memperlihatkan bahwa berbagai filsafat sosial, ideologi, dan isme semakin memengaruhi kehidupan masyarakat. Pertarungan pemikiran tidak lagi terbatas pada ruang akademik, tetapi telah memasuki berbagai dimensi kehidupan sosial dan politik. Setiap ideologi memiliki landasan pemikiran, argumentasi, serta pendukungnya masing-masing. Dalam situasi seperti ini, mahasiswa dituntut memiliki kemampuan untuk memahami, menguji, dan mengkritisi berbagai aliran pemikiran secara rasional. Mahasiswa tidak boleh menjadi pengikut ideologi secara membabi buta, apalagi menjadikan perbedaan pandangan sebagai alasan untuk membangun permusuhan. Sebab, esensi pengetahuan bukanlah mempertahankan fanatisme terhadap suatu pemikiran, melainkan mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam memahami realitas dan menemukan kebenaran melalui argumentasi.
Oleh karena itu, HIPMMAT perlu menghidupkan kembali tradisi intelektual sebagai fondasi perjuangan organisasi. Kaderisasi tidak cukup hanya menghasilkan individu yang mampu berbicara dalam forum, tetapi harus melahirkan kader yang memiliki kemampuan membaca realitas, menguasai pengetahuan, menyusun argumentasi, dan memahami persoalan masyarakat secara objektif. Kritik terhadap pemerintah, misalnya, harus didasarkan pada data, fakta, dan analisis kebijakan, bukan sekadar prasangka, kepentingan politik, atau kebencian personal. Sebab, keberanian tanpa pengetahuan berpotensi melahirkan kegaduhan, sementara pengetahuan tanpa keberanian mengambil sikap hanya akan melahirkan intelektual yang pasif.
Namun, sebelum terlalu jauh mengkritik keadaan di luar organisasi, HIPMMAT juga harus berani melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri. Jangan sampai kita menuntut pemerintah bersikap transparan, sementara organisasi sendiri tidak mampu membangun transparansi dalam pengelolaannya. Jangan sampai kita menuntut pertanggungjawaban pemerintah kepada masyarakat, tetapi kepengurusan organisasi tidak mampu mempertanggungjawabkan program dan arah gerakannya kepada kader. Jangan sampai kita berbicara tentang keberpihakan terhadap rakyat, tetapi justru kehilangan kedekatan dengan realitas kehidupan masyarakat. Dengan demikian, kritik terhadap kekuasaan harus berjalan beriringan dengan kesediaan mengoreksi kelemahan internal.
Momentum ini seharusnya menjadi ruang refleksi kolektif bagi seluruh keluarga besar HIPMMAT, baik senior, alumni, pengurus, maupun kader. Kita perlu mempertanyakan kembali untuk apa organisasi ini didirikan, kepada siapa perjuangannya diabdikan, apa kontribusi nyata yang telah diberikan kepada masyarakat Maba Tengah, dan sejauh mana organisasi ini mampu melahirkan kader yang memiliki kapasitas intelektual, integritas moral, serta keberanian sosial. Pertanyaan tersebut bukan untuk menyudutkan individu atau kepengurusan tertentu, melainkan sebagai upaya membangun kesadaran bersama bahwa organisasi membutuhkan evaluasi, pembaruan, dan keberanian untuk keluar dari stagnasi.
Pada hikayatnya HIPMMAT harus kembali menegaskan identitasnya sebagai organisasi perjuangan dan ruang produksi pengetahuan. Semangat kepemudaan tidak boleh berhenti sebagai romantisme sejarah atau seremoni tahunan, tetapi harus diwujudkan melalui kesadaran berpikir, keberanian bersikap, dan tindakan nyata. Mahasiswa tidak boleh alergi terhadap kritik, apalagi bungkam ketika menyaksikan ketidakadilan. Kita tidak membutuhkan organisasi yang hanya ramai ketika menyelenggarakan kegiatan seremonial, tetapi kehilangan suara ketika masyarakat menghadapi persoalan.
HIPMMAT tidak boleh kehilangan kiprah perjuangan dan gerakannya di tengah kompleksitas persoalan zaman. Organisasi ini harus kembali hidup dalam tradisi membaca, berdiskusi, menulis, mengkaji, mengadvokasi, dan bergerak bersama masyarakat. Sebab, ukuran keberhasilan organisasi bukan sekadar keberlangsungan kepengurusan atau banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, melainkan kontribusi nyata terhadap perkembangan pengetahuan, kesadaran kritis, dan perubahan sosial. Jika mahasiswa kehilangan keberanian untuk berpikir, bersikap, dan bergerak, lalu siapa yang akan mengambil tanggung jawab intelektual dalam mengawal kepentingan masyarakat?.(*)






