BANJIR yang melanda Desa Muhajirin, Morotai selatan Pulau Morotai, hingga pagi ini masih belum surut dan semakin mengkhawatirkan warga, pada Selasa (13/1/2026).
Air masih tergenang di belakang rumah warga dengan debit yang terus meningkat hingga meluap ke halaman rumah. Bahkan, air telah masuk ke ruang belakang rumah dan kamar gudang warga.
Sementara itu, genangan air di depan rumah warga, tepatnya di ruas jalan depan rumah Imam Masjid Al Muhajirin, telah terjadi selama beberapa hari terakhir tanpa penanganan berarti.
Banjir juga berdampak serius terhadap akses pendidikan dan pelayanan publik. Jalan menuju Sekolah PAUD tergenang air, sehingga kegiatan belajar mengajar terpaksa kembali diliburkan seperti beberapa hari sebelumnya. Kondisi ini turut melumpuhkan pelayanan di Kantor Desa Muhajirin yang berada di samping sekolah PAUD dan ikut terendam banjir.
Hingga pukul 08.47 WIT, kantor desa belum membuka pelayanan. Belum diketahui secara pasti penyebab keterlambatan aktivitas pemerintahan desa tersebut, apakah karena akses jalan yang masih tergenang banjir atau faktor lain. Namun, situasi ini menambah kekecewaan masyarakat yang membutuhkan pelayanan publik.
Warga juga menyoroti berbagai persoalan kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada masyarakat, termasuk penurunan Alokasi Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD) yang berdampak pada tunjangan dan gaji aparat desa, sebagaimana diberitakan oleh sejumlah media beberapa hari terakhir.
Masyarakat Desa Muhajirin menegaskan bahwa mereka membutuhkan solusi konkret, bukan sekadar janji politik seperti yang sering disampaikan saat masa kampanye.
Pembangunan, menurut warga, harus direalisasikan terlebih dahulu, bukan sekadar diwacanakan atau dijadikan bahan pencitraan di media.
“Stop pencitraan. Realisasikan pembangunan dulu, baru bicara apresiasi,” tegas salah satu perwakilan warga.
Warga mengusulkan sejumlah langkah konkret, di antaranya pengadaan mesin pompa pembuangan air baru sambil memperbaiki pompa yang ada, serta pembangunan jalur drainase khusus menuju Empang Mangrove Desa Gotalamo. Mereka menolak jika aliran air dari Gotalamo dan Darame terus diarahkan ke penampungan Muhajirin yang hanya mengandalkan satu mesin pompa.
Selain itu, wacana pembangunan drainase dari kawasan Telkom hingga Tugu Bintang juga dinilai berpotensi memperparah kondisi banjir karena debit air akan semakin besar dan meluncur deras ke wilayah Muhajirin.
Warga mengingatkan bahwa meski mesin pompa masih berfungsi, banjir tetap terjadi setiap kali hujan deras. Kondisi ini telah berulang kali menyebabkan kerugian besar, termasuk rusaknya ratusan buku dan koleksi buku langka dengan nilai kerugian mencapai ratusan juta rupiah.
“Apakah pemerintah daerah mau mengganti kerugian tersebut?” ujar Indra, selasa (13/01/2026
Masyarakat menegaskan bahwa setiap kebijakan publik dan pelayanan yang dilakukan Pemerintah Daerah Morotai akan tetap diapresiasi jika tepat sasaran. Namun jika tidak, kritik akan terus disuarakan dan dikawal.
Warga juga menolak anggapan bahwa kritik yang disampaikan berkaitan dengan ketidakpuasan politik pasca Pilkada. Mereka menilai anggapan tersebut dangkal dan berpotensi menimbulkan konflik sosial.
Masyarakat Desa Muhajirin menyatakan masih percaya Pemerintah Daerah memiliki itikad baik untuk menyelesaikan persoalan banjir ini. Terlebih, Bupati Morotai disebut berasal dari Desa Muhajirin dan diharapkan dapat melihat langsung serta memberi perhatian serius terhadap kondisi desanya sendiri.(*)
Penulis : Moh
Editor. : S.S.Suhara






