TEPAT di menit ke-27 penjaga gawang Fenerbache, Ederson Morales menatap ke sisi kanan pertahanan Galatasaray, di sana Ismail Yuksek berdiri tanpa kawalan pemain Galatasaray, tanpa pikir panjang ia menendang bola ke arah Yuksek dan bola jatuh tepat di depan Yuksek.
Namun, dengan cekatan pemain sayap Galatasaray, Leroy Sane mendekati dan merebut bola dari kaki Yuksek, lalu menyodor ke Baris Yilmaz yang berdiri tanpa kawalan. Sentuhan Yilmaz dimaksimalkan Sane lalu menyodok ke depan kotak penalti dan mengecoh dua pemain bertahan Fenerbache lalu melepaskan tembakan keras ke arah gawang, bola sepakan gelandang timnas Jerman kemudian membentur paha Jayden Oosterwolde dan mengecoh Ederson Morales.Gol.
Gol Leroy Sane membakar mental bertanding anak asuh Okan Buruk, untuk terus menekan Nelson Semedo dkk di stadion Sukru Saracoglu – Istanbul – Turki sekaligus termotivasi menambah gol kemenangan.
Di kubu tuan rumah, tertinggal 0-1 bukan alasan untuk menyerah. Sebab, lawan yang dihadapi merupakan musuh abadi, sehingga jika tidak menyamakan kedudukan, praktis malu sekaligus dicemoh suporter saat pluit panjang dibunyikan wasit.
Hasrat menyamakan kedudukan menjadi pelecut semangat pasukan Domenico Tedesco, sehingga mereka makin ofensif meneror lini pertahanan lawan melalui Kerem Akturkoglu, Youssef En-Nesyri dan Dorgeles Nene.
Tapi, pertahanan Galatasaray makin kokoh membuat Marco Asensio dkk sulit menciptakan peluang untuk mencetak gol penyama kedudukan. Bahkan, sang tamu kerap merepotkan tuan rumah dengan umpan-umpan diagonal dan serangan balik cepat ke jantung pertahanan.
Hingga memasuki menit ke-40, sebanyak 44.836 penonton di Stadion Sukru Saracoglu menyaksikan jual beli serangan antara kedua tim belum berhasil membuahkan gol; baik gol penyama kedudukan maupun tambahan gol kemenangan bagi tim tamu, Galatasaray.
Dan’ tepat di menit ke-43 gol penyama kedudukan itu akhirnya diciptakan oleh Youssef En-Nesyri. Melalui skema corner kick yang cerdik, Kerem Akturkoglu mengirim umpan di depan kota penalti Galatasaray dan dihalau bek Galatasaray, Davinson Sánchez, bola halauan Davinson kemudian berbelok arah mengenai tangan pemain bertahan Fenerbache Milan Skriniar, dan disundul Kazimcan Karatas keluar dari kotak penalti.
Sebelum bola membentur tanah, dengan cekatan disambut tendangan Youssef En-Nesyri ke arah mulut gawang Galatasaray lalu membentur kaki Kazimcan Karatas dan Abdulkerim Bardakci kemudian memantul tepat di depan Edson Alvarez. Dengan sedikit sentuhan, bola bergulir mengelabui penjaga gawang Galatasaray, Ugurcan Cakir membuat skor berubah menjadi 1-1 di menit ke-43.
Gol penyama kedudukan yang ditunggu-tunggu itu memantik tribun penonton bergetar, sorak-sorai bergema dan dentuman adrenalin suporter Fenerbache membangkitkan kekuatan magis stadion Sukru Saraçoglu yang sempat redup saat Galatasaray membobol gawang Ederson Morales di menit ke-27.
Sayangnya, gol tersebut diprotes para penggawa Galatasaray, karena dinilai bola terlebih dahulu mengenai tangan pemain Fenerbache, Milan Skriniar. Sehingga, wasit Yasin Kol terpaksa harus berkonsultasi dengan Video Assistant Referee (VAR) dan membuat keputusan membatalkan gol tersebut. Dengan demikian babak pertama diakhiri dengan skor kemenangan buat tim tamu, Galatasaray (0-1).
Memasuki paruh kedua, Fenerbache terus tingkatkan intensitas serangan, begitupun sama halnya tim tamu, melalui skema serangan balik cepat yang dibangun dua pemain sayap, Baris Yilmaz dan Leroy Sané sekaligus membuka ruang bagi Victor Osimhen untuk meneror lini pertahanan tuang rumah.
Hingga memasuki penghujung babak kedua, Fenerbache makin frustasi lantaran tak kunjung menciptakan gol penyama kedudukan. Sementara sang tamu kembali bermain aman dengan menjaga keunggulan untuk menyudahi derby dengan skor 0-1.
Stadion Sukru Saraçoglu terus bergemuruh, sorot mata pendukung fanatik Fenerbache terganggu dengan angka satu di papan skor, sementara waktu terus bergulir menuju angka 90.
Wasit Yasin Kol akhirnya memberikan waktu tambahan 7 menit, dan Fenerbache terus mencoba menguasai jalannya pertandingan dan menekan sang musu abadinya di penghujung babak kedua. Demi gol penyama kedudukan, serangan demi serangan terus dilancarkan ke jantung pertahanan Galatasaray.
Menjelang akhir laga, gol penyama kedudukan itu akhirnya tercipta tepat pada menit 90+4, saat wing back Fenerbache, Jayden Oosterwolde mengirim umpan dari sisi kiri pertahanan ke Edson Alvarez, kemudian Edson memberi umpan diagonal ke Fred di posisi tengah.
Dengan cerdik pemain asal Barsil itu menyodor bola ke Milan Skriniar, dan Skriniar membalikan bola ke Edson, lalu Edson meneruskan ke Anderson Talisca, dan Anderson mendorong bola di sisi kiri pertahanan Galatasaray ke Levent Mercan.
Menerima bola dari Anderson, gelandang berkebangsaan Jerman itu langsung melakukan crossing ke jantung pertahanan lawan dan disambar dengan tandukan Jhon Duran menghujam ke dalam gawang Galatasaray membuat papan skor berubah menjadi 1-1 sekaligus disambut teriakan suporter membuat stadion Sukru Saraçoglu bergemuruh.
Gol dari pemain Kolombia 22 tahun itu, menyelamatkan muka tuan rumah sekaligus menutup Kitalarasi Derby di Stadion Sukru Saracoglu, Selasa (2/12/2025).
Hasil seri pada laga panas bertajuk derby Istanbul di kandang Fenerbache menghadirkan senyum di wajah pasukan Okan Buruk, karena dengan tambahan 1 poin menegaskan posisi mereka di puncak klasemen sementara Super Lig Turki edisi 2025/2026.
Sementara bagi sang tuan rumah, hanya meraih 1 poin di kandang bukanlah hasil yang sempurna, terlebih menghadapi musuh bebuyutannya di depan pendukung setia. Selain itu, hasil tersebut jauh dari ekspektasi para suporter, karena sepanjang laga, sorak-sorai bergema di tribun meneror sang tamu dengan harapan meruntuhkan mental Leroy Sane dkk agar tim kesayangan mereka, Fenerbache, dapat meraih hasil sempurna.
Mengapa suporter Fenerbache sangat berharap tim kesayangannya itu meraih kemenangan di derby perdana edisi 2025/2026? Karena mereka berharap Fenerbache terus memangkas jarak demi menjaga asa merengkuh gelar juara Liga Turki 2025/2026.
Sebab, di sepuluh edisi terakhir Super Lig Turki, Fenerbache selalu gagal meraih gelar juara. Mereka terakhir kali berpesta di edisi 2013/2014, dan setelah itu mereka hanya menguntit Galatasaray di posisi runner-up, bahkan di beberapa edisi yang lalu mereka tak mampu bersaing di papan atas klasemen.
Sementara bagi suporter Galatasaray, hasil seri yang didapatkan pada derby pertama setidaknya memberi kepuasan. Karena, meraih poin di kandang rival abadi merupakan hal yang paling Istimewa, sekaligus menjaga jarak demi menutup musim dengan gelar juara.
Satu Kota, Dua Benua dan Satu Kebencian Abadi
REVALITAS antara Galatasaray dan Fenerbache memang sangat unik, pasalnya perjalanan kedua klub sangat berbeda dengan Barcelona dan Real Madrid di La Liga Spanyol, maupun Inter Milan dan Juventus di Serie A Liga Italia.
Sebab, baik Galatasaray maupun Fenerbache merupakan klub se-kota di Istanbul, hanya saja kedua klub dipisahkan oleh selat Bosphorus. Galatasaray berada di kota Istanbul bagian Eropa, sementara Fenerbache berada di kota Istanbul bagian Asia.
Galatasaray yang berada di zona Eropa lebih kental dengan kultur bangsawan, atau dari sisi perkembangan sepak bola jauh lebih baik bila dibandingkan dengan Fenerbache yang berada zona Asia dan dikenal sebagai klub Rakyat, padahal kedua klub sama-sama bermukim di satu kota. Istanbul.
Walaupun perbedaan kultur bagi kedua klub karena dipisahkan selat Bosphorus, namun soal dukungan suporter; baik Fenerbache maupun Galatasaray merupakan klub yang paling banyak penggemar dari seluruh klub yang ada di Super Lig Turki. Padahal, jika dilihat dari letak geografis Fenerbache telah masuk di zona Asia yang secara loyalitas suporter jauh berbeda klub-klub di wilayah Eropa salah satunya Galatasaray.
Jika flashback ke sejarah klub di kota Istanbul, Galatasaray merupakan klub berdiri lebih awal bila dibandingkan Fenerbache. Galatasaray berdiri pada 1905 yang diprakarsai seorang mahasiswa dari Universitas Galata Sarayi Enderun-Humayun. Bahkan, konon nama klub disebut terinspirasi dari nama kampus tersebut.
Berbeda dengan Galatasaray, Fenerbache yang resmi berdiri pada 1907 diprakarsai oleh orang-orang pribumi di Istanbul, sehingga dalam perjalanan sejarah Fenerbache disebut sebagai klub rakyat, sedangkan Galatasaray lebih condong ke kultur bangsawan karena terpangaruh dengan kultur Eropa.
Bukan hanya soal kultur, melainkan sejak resmi terbentuk hingga kini, Galatasaray dinilai jauh lebih suskes bila dibandingkan dengan Fenerbache. Sebab, jika dihitung sejak berdiri hingga menjalani Super Lig Turki edisi 2025/2026, Galatasaray jauh mengungguli Fenerbache dari segi prestasi.
Galatasaray telah sukses merengkuh 25 gelar juara Super Lig Turki, bahkan menjuarai turnamen bergengsi seperti Piala UEFA pada tahun 2000 dan berlanjut pada Piala Super Eropa di tahun yang sama. Sementara Fenerbache hingga kini belum sekalipun menggondol trofi bergengsi di turnamen level Eropa, bahkan dari sisi koleksi gelar juara liga domestik, mereka baru meraih 19 gelar juara Super Lig Turki.
Begitupun untuk turnamen bergengsi seperti Liga Champions Eropa, Galatasaray mencatatkan prestasi mentereng, karena lima kali tampil di Quarter-finalist dan sekali tampil di semifinal, sementara prestasi Fenerbache di Liga Champions Eropa yakni hanya sekali lolos di Quarter-finalist.
Awal Permusuhan
Catatan perjalanan kedua klub hingga menjadi klub dengan rivalitas memanas di jagad sepak bola Turki disebut berawal pada 1934 tatkala berkahirnya perang di semenanjung Balkan. Kala itu, pada sebuah laga persahabatan yang mempertemukan kedua klub pada 23 Februari 1934. Di laga ini, keduanya berhasrat memenangkan pertandingan demi satu target: menasbihkan diri sebagai klub terbaik di kota Istanbul.
Fenerbache yang disebut sebagai klub rakyat, ingin membuktikan diri sebagai klub paling hebat, justru itu mengusung ambisi mengalahkan Galatasaray yang mewakili kaum bangsawan.
Karena ingin menasbihkan diri sebagai yang terbaik, maka kemenangan merupakan target yang diusung di laga persahabatan. Sayangnya, karena sama-sama menargetkan kemenangan, pertandingan justru menghadirkan tensi tinggi yang menjurus kasar sepanjang laga.
Dan’ tensi panas bukan hanya terjadi di atas lapangan, melainkan memantik suporter kedua klub pun berkonflik di tribun penonton, sehingga laga persahabatan dinilai bak perang di Semenanjung Balkan.
Dari konflik di laga persahabatan tersebut akhirnya terjaga dan terbawa hingga di era sepak bola modern saat ini. Bahkan, konflik yang dipicu di laga persahabatan disebut bergulir liar di berbagai cabang olahraga di Turki, jika tim olahraga dari wilayah Fenerbache bertemu dengan tim dari Galatasaray.
Bagi Fenerbache, mereka menilai secara head to head kala itu, mereka lebih mengungguli Galatasaray jika kedua klub saling bersua di Super Lig Turki. Namun, bagi kubu Galatasaray, jika kemenangan pada laga derby tanpa didukung gelar juara merupakan sebuah kekurangan.
Sebab, secara prestasi Galatasaray jauh lebih baik dan menasbihkan diri sebagai klub paling tersukses di Turki, terlebih mereka kerap menyindir Fenerbache bahwa jika belum mampu menjuarai kompetisi Eropa: Piala UEFA dan Piala Super Eropa, praktis masih tergolong sebagai klub gurem.
Menebar Ancaman via Tribun
Rams Park (Istanbul) merupakan kandang Galatasaray yang dinilai paling angker bagi musuh abadi mereka, Fenerbache. Ketika berlangsung derby, stadion ini tidak pernah sepi, dan teror-teror koreografi merupakan senjata utama bagi suporter Galatasaray.
Kala bertanding melawan Fenerbache, selain koreografi, teriakan-teriakan suporter menjadi amunisi super untuk meneror rival. Bahkan, disebut tensi di tribun kerap mempengaruhi pertandingan yang berujung bentrok antarpemain kedua klub.
Suporter Galatasaray bukan hanya menghidupkan stadion dengan teriakan-teriakan yang terus bergema sepanjang laga, melainkan mereka juga kerap meneror dengan koreografi dengan beragam tulisan, dan yang paling menghantui pemain Fenerbache adalah tulisan: Selamat Datang di Neraka! Hal ini mengindikasikan bahwa jika bertandang ke Rams Park sama halnya berkunjung ke Neraka!
Bagi setiap pemain yang pernah berkostum Fenerbache maupun Galatasaray, pasti merasakan nuansa seram di Rams Park. Karena suporter Galatasaray memang dikenal paling bringas di tribun saat meneror tim tamu.
Atmosfer di tribun Rams Park memang diakui oleh para pemain menghadirkan aura yang berbeda dengan stadion-stadion milik klub Super Lig Turki lainnya. Karena, Rams Park disebut sebagai stadion paling bising jika Galatasaray bertemu musuh abadinya itu.
Bisingnya Rams Park sepanjang laga derby, dinilai buah dari sepak terjang kelompok sayap suporter Galatasaray bernama The Lion’s Ultras. Mereka bukan hanya konsentrasi meneror pemain lawan di stadion, tapi kerap menghadirkan kekerasan; baik di luar maupun di dalam stadion.
Soal loyalitas The Lion’s Ultras kepada klub kesayangannya memang tak bisa diragukan. Sebab, mereka bukan hanya mengekspresikan hal-hal yang menyebabkan pemain lawan frustasi.
Melainkan kecintaan terhadap Galatasaray jauh melebihi diri mereka sendiri. Bahkan, konon disebut, Galatasaray pernah mengalami krisis financial dan menyebabkan klub oleng hingga menjurus bangkrut.
Kondisi tersebut, mendapat perhatian The Lion’s Ultras, karena kecintaan begitu tinggi terhadap klub kesayangan memaksa mereka menggalang donasi untuk membantu menyelamatkan klub dari ancaman kebangkrutan.
Untuk itu, saat berlangsungnya laga derby, Rams Park selalu bising karena ulah mereka, dengan tujuan memberi dukung penuh demi satu ambisi: meneror sang tamu. Sama halnya dengan atmosfer di stadion Sukru Saracoglu, suporter Fenerbache kerap membalas tindakan The Lion’s Ultras.
Jika The Lion’s Ultras di Rams Park hanya meneror di tribun, berbeda dengan suporter Fenerbache, mereka menciptakan nuansa yang jauh berbeda, bahkan lebih bringas, yakni kerap merangsek dekat pemain dan melancarkan teror. Kondisi inilah yang membuat Fenerbache pernah dihukum oleh federasi sepak bola Turki saat berlangsungnya laga derby.
Kontroversi “Bendera Graeme James Souness”
Sejarah rivalitas Galatasaray dan Fenerbache pernah dibumbui aksi kontroversi pelatih Galatasaray asal Inggris, Graeme James Souness pada 1996 silam. Aksi Souness merupakan luapan emosi mengenang momen final Piala Turki pada 1989.
Kala itu, laga final berlangsung di kandang Galatasaray, karena tampil di depan pendukung setianya, pemain Galatasaray melancar psywar untuk melemahkan nyali para penggawa Fenerbache.Bahkan, psywar yang dilancarkan suporter Galatasaray dinilai berhasil, yakni membuat tim tuan rumah tampil ngotot untuk menyudahi pertandingan dengan kemenangan di waktu normal.
Galatasaray bahkan menghukum tim tamu di babak pertama dengan tiga gol tanpa balas. Dan’ teriakan ejekan suporter tuan rumah kala itu, dinilai jauh lebih bising dari laga derby di Super Lig.Tertinggal 0-3 di babak pertama disertai teror yang dilancarkan suporter Galatasaray di tribun kala itu, sempat membuat sang tamu terusik dan tertekan. Tapi, saat memasuki babak kedua, suntikan semangat dari pelatih Fenerbache mempengaruhi jalannya laga di babak kedua.
Karena merasa bahwa masih bisa mengejar ketertinggalan, instruksi pelatih berjalan suskes. Sepanjang babak kedua, para pemain Fenerbache tampil disiplin; baik saat melancarkan serangan maupun bertahan. Karena bermain disiplin dan mengusung semangat tinggi meraih gelar juara Piala Turki 1989, akhirnya terwujud. Fenerbache berhasil comeback, mereka mencetak 4 gol sekaligus menyudahi laga dengan skor 3-4 bagi kemenangan Fenerbache di kandang Galatasaray.
Meraih kemenangan sekaligus merengguh trofi di kandang sang musuh abadi kala itu dinilai sangat istimewa, terlebih mereka menganggap kemenangan di Rams Park sekaligus membungkam suporter Galatasaray, karena sepanjang laga, para pemain Fenerbache selalu diteror suporter tuan rumah.
Kemenangan Fenerbache di Rams Park sekaligus membuat suporter Galatasaray tertunduk malu, dan sekaligus menyimpan dendam kesumat dari suporter Galatasaray untuk Fenerbache. Bayangkan, dendam kekalahan itu tetap terjaga dan berlangsung hingga tujuh tahun, dan puncaknya dari luapan dendam kekalahan final piala Turki 1989 itu akhirnya terwujud pada final Piala Turki tahun 1996.
Pada leg pertama final Piala Turki tahun 1996, Galatasaray berhasrat membalas dendam dan berhasil mengalahkan Fenerbache di Rams Park dengan skor tipis 1-0. Dan’ tak ingin momen kekalahan 1989 terulang kembali membuat Galatasaray tampil dengan penuh percaya diri di kandang Fenerbache pada leg kedua.
Leg kedua kala itu dinilai berlangsung cukup ketat dan penuh tekanan, karena Galatasaray bertandang di kandang Fenerbache. Walaupun mendapat tekanan dari suporter, tapi hasrat balas dendam momen 1989 tetap terjaga dengan baik.
Di tengah tekanan dan tensi tinggi sepanjang pertandingan leg kedua di kandang Fenerbache, akhirnya menghadirkan senyum di wajah suporter Galatasaray. Pasalnya, Galatasaray berhasil meladeni permainan sang tuan rumah dengan semangat tinggi.
Dan’ laga dengan tensi tinggi itu pun berakhir dengan skor seri 1-1, kendati berbagi angka, tapi pertandingan leg pertama dimenangkan Galatasaray dengan skor 1-0, sehingga Galatasaray unggul head to head dan merengkuh trofi juara.
Di momen ini, bukan hanya Galatasaray sukses membalas dendam, melainkan luapan emosi sang pelatih, Graeme James Souness dinilai memicu kontroversi dan kembali menyuburkan dendam klasik.
Saat wasit meniup pluit panjang menyudahi pertandingan babak kedua, Souness melakukan selebrasi kontroversi, ia meraih bendera Galatasaray di bench pemain berlarian ke tengah lapangan dan menancapkan bendera tepat di titik putih garis tengah lapangan.
Ekspresi kontroversi pelatih Galatasaray asal Inggris tersebut, memicu suporter tuan rumah gusar dan mencoba menerobos ke dalam stadion. Hanya saja, tensi panas kala itu berhasil diredam petugas keamanan dengan anjing pelacak, dan Souness berhasil diamankan dari aksi amukan suporter tuan rumah.
Momen final piala Turki 1996 memang memicu kontroversi sekaligus apresiasi kepada Souness, karena dinilai berhasil membayar kekalahan Galatasaray di tahun 1989. Tapi, di sisi lain, aksi Souness dinilai menyuburkan bara dendam dan kebencian bagi suporter Fenerbache terhadap Galatasaray.
Aksi nekat Souness menancapkan bendera Galatasaray di tengah Stadium Fenerbcahe Sukru Saracoglu, memang menghadirkan dua perspektif bagi kelompok suporter Fenerbache dan Galatasaray: dendam dan sanjungan.
Bagi suporter Fenerbache, Souness dinilai sebagai seorang provokator, karena mencoba memupuk kebencian dan memperuncing permusuhan bagi kedua klub. Sementara di mata suporter Galatasaray, aksi Souness merupakan bentuk ekspresi seorang pahlawan seperti yang dilakukan seorang serdadu kerajaan Turki Utsmani, Ulubatli Hasan setelah berhasil mengalahkan Konstantinopel.
Untuk itu, pasca kejadian di Stadium Fenerbcahe Sukru Saracoglu, Souness mendapat langsung mendapat julukan “Ulubatli Souness” dari suporter Galatasaray. Bahkan, saat ketika Souness tidak lagi membesut Galatasaray, tapi momen tancap bendera Stadium Fenerbcahe Sukru Saracoglu kerap menghiasi jaga maya, saat suporter Galatasaray kembali mengenang momen spesial tersebut.
Insiden “bendera Souness” pada 1996 silam memang semakin menguatkan sentimen negatif antarsuporter. Pasalnya, dari insiden tersebut makin menyuburkan aura kebencian tatkala kedua klub bersua; baik di Super Lig maupun Piala Turki.
Tepat pada 2000 silam seperti ditulis Rockin Marvin (2014: 163), menjelaskan bahwa dalam perebutan gelar juara pada tahun 2001 juga berakhir tragis, karena bentrok di luar stadion pasca pertandingan antara Fenerbache vs Galatasaray.
Pertandingan pamungkas Super Lig edisi 2000/2001 itu, menegaskan status Fenerbache sebagai juara dan memakan korban jiwa seorang suporter dilarikan ke rumah sakit akibat mengalami retak pada tengkorak kepala, sementara sejumlah suporter mengalami luka-luka.
Konflik demi konflik pada laga derby terus menerus terjadi, seperti konflik pada 2012 silam atau tepatnya 13 Mei 2012 yang dirilis kantor berita Turki, Anatolian, dan dikutip bola.net, 13 Mei 2020, menjelaskan atmosfer di Stadium Fenerbcahe Sukru Saracoglu yang awalnya berlangsung dingin saat kedua klub bertemu di final playoff Super Lig Turki 2012.
Kala itu, laga yang berakhir dengan skor kacamata (0-0) dengan tensi dingin tiba-tiba berubah menjadi panas setelah wasit mengakhiri laga, dan para pemain Galatasaray meluapkan ekspresi kegembiraan karena berhasil mengunci gelar juara Stadium Fenerbcahe Sukru Saracoglu.
Ekspresi kegembiraan pemain dan suporter Galatasaray terpaksa harus dibayar mahal, pasalnya kelompok suporter tuan berhasil menodai pesta juara sang musuh bebuyutan dengan aksi tak terpuji yang menyebabkan tewasnya salah seorang suporter dari Galatasaray.
Bukan hanya korban tewas, melainkan tercatat pasca kerusuhan di Stadium Fenerbcahe Sukru Saracoglu 36 suporter menderita luka-luka dan 59 orang lainnya berhasil ditangkap akibat bentrok dengan pihak keamanan. Sementara di sisi lain, efek dari kerusuhan pasca pertandingan, menyebabkan sembilan kendaraan milik polisi mengalami kerusakan dan 85 bus serta satu unit mobil pemadam kebarakan dirusak suporter.
Konflik pada tahun 2012 di Stadium Fenerbcahe Sukru Saracoglu, merupakan imbas dari akumulasi konflik derby kedua tim. Yang paling parah adalah bentorkan kedua suporter pada 2007 silam. Hal ini bukan hanya terjadi di luar stadion, melainkan terbawa hingga di dalam stadion dan menyebabkan 12 ribu kursi penonton di tribun mengalami kerusakan.
Konflik antarsuporter terjadi di tribun dan luar stadion memang sangat berpengaruh terhadap situasi di dalam lapangan.
Seperti pada derby di 2013 saat perkelahian di dalam lapangan antara kiper Fenerbache dan bek Galatasaray, yang memantik tribun penonton bergejolak hingga menyebabkan seorang remaja yang merupakan fans Fenerbache meregang nyawa akibat serang oleh kelompok suporter Galatasaray seusai laga.
Derby Istanbul antara Galatasaray vs Fenerbache memang selalu menghadirkan tensi tinggi dan berujung bentrok antara suporter. Sehingga, bagi pemain yang hijrah dari liga profesional di negara lain dan bergabung bersama kedua klub pasti merasakan hal yang sama.
Kini, Mauro Icardi (eks Inter Milan) yang berseragam Galatasaray, serta Marco Asensio, mantan penggawa Real Madrid yang kini memperkuat Fenerbache bakal kembali menyaksikan atmosfer panas di Rams Park saat berlangsungnya derby kedua edisi 2025/2026 pada Senin 27 April 2026.
Terlebih selisih poin kedua klub saat ini hanya berjarak 3 poin, kondisi ini jika berlangsung hingga menjelang penghujung kompetisi, praktis tensi panas pasti tersaji di laga derby. Dan’ bagi Galatasaray, perbedaan 3 poin pasti menjadi pelecut semangat untuk men-nutmeg sang Rival. Sebab, Tiga musim berturut: 2022/2023, 2023/2024, 2024/2025 Galatasaray mengukuhkan diri sebagai yang terbaik, sementara untuk Fenerbache merekai terakhir kali menjuarai Super Lig pada edisi 2013/2014.
Menariknya, jika derby kedua di Super Lig edisi 2025/2026 yang berlangsung di Rams Park berhasil dimenangkan sang tamu, Fernebache dan melampaui jumlah poin tuan rumah pasti menghadirkan cerita menarik! Atau di derby Istanbul jilid II nanti Galatasaray membungkam sang tamu, sekaligus terhindar dari kejaran di posisi puncak klasemen.
So, apapun hasil dari derby jilid II di April nanti, tapi satu hal yang sulit terhapus dibenak dan hati suporter kedua klub yakni dendam. Akankah derby Istanbul jilid II di Rams Park kembali memicu ketegangan? Well, menarik ditunggu!!!(*)





