BAHARUDDIN LOPA: Negosiator Jalan Panjang Pendirian IAIN Ternate

By Wajo, AR.,

SEJARAH tidak hanya berbicara mengenai fakta-fakta yang berdiri sendiri, tetapi juga mengait perjumpaan antara manusia, masa dan peristiwa yang mengitarinya. Demikian ungkapan E.H. Carr (2001) dalam What is History?. Sejarah dengan demikian, acapkali mencatat seorang guru dapat tumbuh menjadi pemimpin masyarakat, seorang ulama dapat menjelma menjadi diplomat, seorang birokrat dapat tampil sebagai penggerak perubahan dan begitu seterusnya.

Pun demikian dengan IAIN Ternate, tidak sekadar lahir dari tanggal yang tercatat dalam dokumen, Surat Keputusan yang ditandatangani Pejabat, ataupun pergantian periodisasi kepemimpinan. Namun dibalik setiap tanggal dan keputusan, selalu ada manusia yang mengusung gagasan, mengetuk pintu-pintu kekuasaan, menempuh jalan perundingan yang rumit dan panjang, hingga mengemban tanggung jawab di setiap keputusan yang diambil.

Karena itu dalam perspektif histiografi, perjalanan IAIN Ternate sesungguhnya bukan hanya sejarah sebuah institusi, melainkan juga risalah tentang orang-orang yang pernah berkomitmen bahwa Pendidikan Tinggi Islam harus hadir di bumi Maluku Utara. IAIN Ternate adalah buah perjuangan kolektif, dan dalam kolektifitas itu, berderet nama-nama seperti M.S. Djahir, Muhammad Albugis, M. Adnan Amal, Husen Alhadar, H.A. Drakel serta tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintahan lainnya. Diantara para tokoh tersebut terselip pula nama mendiang Baharuddin Lopa, S.H., Beliau datang dari dunia yang tampaknya jauh dari ruang akademik, namun kontrbusinya menentukan peta jalan perkembangan IAIN Ternate.

Lopa, pria asal Polewali Mandar – Sulawesi Selatan ini lahir pada 27 Agustus 1935. Lopa kecil tumbuh dalam kekerabatan yang religius dan terikat pada norma dan istiadat yang syarat nilai. Spirit beragama dan kearifan keluarga tersebut kemudian menjadi “nilai yang hidup”, dalam membentuk karakteristiknya sebagai insan hukum yang dikenal kharismatik serta tegak lurus pada kebenaran dan keadilan. Karirnya bermula sebagai Jaksa Muda, lalu terus berjenjang sampai menjadi Kepala Kejaksaan Negeri, seterusnya Kepala Kejaksaan Tinggi di sejumlah daerah hingga mencapai puncak kepemimpinan sebagai Jaksa Agung RI. Bagi para pegiat hukum, nama Lopa paling tersohor dalam adigium, “Kalaupun esok langit akan runtuh, saya akan tetap menegakkan hukum dan keadilan”. Sementara dalam urusan pemberantasan korupsi, Lopa dikenal menerapkan asas “Pembuktian Terbalik” (Adulhanaa, 2018). Dimana terdakwa harus membuktikan sendiri bahwa harta bendanya adalah legal. Suatu asas hukum yang pernah dipelopori oleh Khalifah Umar bin Khattab, yakni “Muhasabatul ‘Ula” (audit para pejabat), bertujuan mengaudit pejabat negara (amil) yang mengalami lonjakan kekayaan tidak wajar untuk membuktikan sendiri asal-usul kehalalan hartanya. (al-Sallabi, 2019).

Lopa datang dalam tugas sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Ternate pada 1964. Beliau bukan putra daerah yang sejak awal memiliki ikatan geneologis dengan Maluku Utara. Juga tidak datang dengan profesi sebagai akademisi, melainkan aparat negara yang bertugas dalam bidang penegakan hukum. Lopa hadir bukan sebagai ulama yang sejak awal hidup di lingkungan pendidikan Islam. Namun, sejarah sering kali mempertemukan seseorang dengan panggilan yang melampaui batas jabatan yang melekat pada dirinya.

Saat berada di Maluku Utara, Lopa membaca tata norma masyarakat dengan karakter sosial dan keagamaan yang kuat. Islam merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat, bukan hanya dalam praktik ritual, tetapi juga dalam pembentukan nilai, identitas sosial, dan kehidupan komunitas. Dalam masyarakat seperti ini, Lopa berpandangan, kebutuhan akan pendidikan agama yang memadai memiliki arti penting dan strategis. Begitulah alas pikir yang menghantarkan dirinya untuk terlibat dalam proses pendirian IAIN Ternate.

Selain sebagai salah satu inisiator, kontribusi penting Lopa pada tahap awal pendirian IAIN Ternate adalah ketika beliau ditunjuk oleh M.S. Jahir bersama Drs. Jasin Muhammad dan Drs. Salim Assagaf untuk menindaklanjuti saran Anton Timur Jailani, M.A., (Kepala Biro Perguruan Tinggi Departemen Agama RI) agar berkonsultasi dengan pimpinan IAIN Alauddin Ujung Pandang – Makassar. Disinilah keuletan dan kearifan seorang Lopa semakin bermakna. Lopa tidak sekadar melakukan perjalanan, juga tidak sekadar membawa surat. Beliau membawa sebuah aspirasi – aspirasi masyarakat Maluku Utara yang ingin memiliki lembaga Pendidikan Tinggi Islam.

Lopa datang ke Ujung Pandang (Makassar) untuk bernegosiasi dengan pimpinan IAIN Alauddin tentang kemungkinan pembukaan Fakultas Tarbiyah di Ternate menjadi Filial (Cabang) dari IAIN Alauddin Ujung Pandang. Saat mana IAIN Alauddin juga belum lama diresmikan dan masih dalam tahapan pembenahan internal kelembagaan. Sementara di Ternate, belum ada gedung kuliah, tenaga pengajar (dosen) tidak memadai, demikian pula fasilitas perkuliahan lainnya belum tersedia. Namun melalui ketekunan dan upayanya bernegosiasi, rencana tersebut pun disetujui oleh pihak IAIN Alauddin. Kesuksesan negosiasi Lopa tersebut, mencatatkan nama Ternate sebagai yang pertama dalam pembukaan Cabang dari IAIN Alauddin di Indonesia Timur.

Sekembali dari Ujung Pandang, Lopa disambut hangat sekaligus diangkat menjadi Ketua Panitia Persiapan Pendirian Fakultas Tarbiyah IAIN Ternate. Selajutnya Panitia menyusun laporan lengkap mengenai berdirinya Fakultas Tarbiyah IAIN Ternate untuk diajukan kepada Menteri Agama sebagai syarat penegerian. Baharuddin Lopa, sekali lagi diemban amanah sebagai Pjs. Dekan Pertama. Dalam jabatan tersebut, Lopa selanjutnya berangkat ke Jakarta untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat Maluku Utara. Keseriusan Lopa dalam menahkodai lembaga baru yang masih swasta ini berbuah hasil. Dalam waktu lebih kurang 1 tahun kepemimpinannya, Fakultas Tarbiyah IAIN Ternate memperoleh persetujuan untuk dinegerikan sebagai Filial (Cabang) dari IAIN Alauddin Ujung Pandang dan diresmikan pada 3 November 1966. Beberapa bulan kemudian, untuk kepentingan keberlanjutan pengembangan IAIN Ujung Pandang Filial Ternate, Lopa menunjukkan kebijaksanaannya dengan menyerahkan jabatan Pjs. Dekan kepada Drs. Husen Alhadar. Husen pun dilantik pada 31 Agustus 1996, yang saat ini menjadi penanda Dies Natalis IAIN Ternate.

Baharuddin Lopa bukanlah tokoh tunggal. Namun perannya sangat signifikan dalam menentukan legalitas kelembagan IAIN Ternate. Oleh karenanya, semangat egalitarian, kerjasama dan kesamaan persepsi para pendahulu ini hendaknya menjadi refleksi dan evaluasi bagi sivitas akademika, sebagai gerakan kolektif untuk membangun IAIN Ternate menjadi lebih unggul dan kompetitif. Robert Putnam (1996) menyebut hal tersebut sebagai modal sosial (social capital) masyarakat dalam membangun jaringan, norma, dan kepercayaan untuk mencapai tujuan bersama.

Jika dahulu Baharuddin Lopa dan tokoh-tokoh lain membuka jalan dengan melakukan perjalanan, membangun komunikasi, dan bernegosiasi, maka generasi IAIN Ternate sekarang harus melanjutkan semangat itu melalui penguatan akademik, pembangunan sumber daya manusia, pengembangan riset, perluasan jejaring, pembukaan ruang dialog, dan keberanian melakukan transformasi. Semoga. Selamat berulang Tahun IAIN Ternate 31 Agustus 2026. Wajo, AR., (Dekan FEBI IAIN Ternate)

banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *