“Sejarah tidak pernah diam. Ia mencatat setiap tetes keringat, setiap jerit yang dipendam dan setiap perjuangan yang seringkali tak terdengar.”
MARI kita menepi sejenak. Di sela ributnya mesin kendaraan dan angka-angka pertumbuhan yang terus diumumkan, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur: siapa yang sesungguhnya menopang semua kemajuan ekonomi ini?Jawabannya tidak rumit, cukup katakan “mereka adalah butuh”. 01 Mei bukan sekadar tanggal. Ia adalah ingatan.
Tentang mereka yang bekerja ketika kita masih terlelap, tentang tangan-tangan yang menggerakkan ekonomi tanpa banyak bicara. Mayday bukan seremoni. Ia adalah cermin, kadang retak yang memantulkan wajah keadilan kita hari ini. Kita sering bangga pada pembangunan. Kita merayakan investasi, memuja angka pertumbuhan dan berlomba menyebut kemajuan. Tetapi, apakah buruh ikut tumbuh di dalamnya?
Ataukah mereka hanya menjadi angka kecil dalam laporan besar? Seorang pemikir perburuhan, Karl Marx, dalam bukunya “Das Kapital”, ia menjelaskan tentang nilai lebih (surplus value): bagaimana buruh menghasilkan nilai yang lebih besar dari upah yang ia terima. Selisih itu menjadi keuntungan bagi pemilik modal. Teori itu lahir dari abad yang jauh, tetapi gema persoalannya masih terasa hari ini: kerja keras yang tidak selalu berbanding lurus dengan kesejahteraan.
Gubernur Maluku Utara yang sangat kami hormati,
Izinkan tulisan ini menjadi surat yang memajang sepenggal realitas dan kejujuran. Di tanah yang Ibu pimpin, industri tambang tumbuh cepat. Maluku Utara kini disebut-sebut sebagai masa depan maritim, emas dan nikel Indonesia. Pabrik berdiri, investasi datang dan ekonomi bergerak. Dari jauh, semua tampak menjanjikan.
Namun dari dekat, ceritanya tidak selalu seindah itu. Ada seorang buruh, sebut saja Berto. Ia seorang pendatang dari luar Maluku Utara. Datang dengan harapan sederhana: bekerja, bertahan dan mungkin suatu hari pulang dengan kehidupan yang lebih baik. Setiap pagi ia mengenakan helm dan sepatu keselamatan, berjalan masuk ke ruang kerja yang dipenuhi debu dan suara mesin.
Ia bekerja keras. Upahnya terlihat cukup di atas kertas, tetapi pelan-pelan terkikis oleh realitas: kos-kosan yang mahal, harga makanan yang tinggi, BBM yang tidak selalu mudah dijangkau dan kebutuhan sehari-hari yang melonjak di sekitar kawasan pertambangan. Yang tersisa di tangannya, seringkali jauh lebih kecil dari yang dibayangkan.
Dulu, sebelum kawasan itu berkembang, masyarakat sekitar masih memiliki tanah kebun yang tak pernah diganggu, sungai dan pantai yang jernih. Airnya mengalir tenang, ikan mudah didapat. Itu bukan sekadar sumber pangan, tetapi bagian dari kehidupan. Hari ini, tanah di seroboti, dipatuk sebagai area perluasan tambang, ada sungai dan pantai itu berubah. Airnya keruh, kadang berwarna kuning atau coklat. Ikan makin sulit ditemukan. Jika airnya bening itupun tak akan bertahan lama, dan mungkin anak-anak tak lagi bermain di sana.
Industri datang membawa janji. Tetapi perlahan, ia juga membawa konsekuensi. Tanah warga disuarakan tapi berakhir di meja persidangan, Sungai dan Pantai yang rusak, ruang hidup yang menyempit dan buruh seperti Berto yang tetap berdiri di tempat yang sama, bekerja keras tanpa benar-benar bergerak naik. Di titik ini, kita harus jujur: yang tergerus bukan hanya lingkungan, tetapi juga martabat. Apa artinya pertumbuhan ekonomi jika sumber air mati?
Apa artinya investasi besar jika buruh tetap kecil? Mayday seharusnya menjadi ruang untuk bertanya dan berani menjawab. Bahwa buruh bukan sekadar alat produksi. Mereka adalah manusia dengan harapan, dengan keluarga, dengan masa depan yang ingin dijaga. Mereka bukan pelengkap dari industri, tetapi fondasi dari berdirinya industri itu sendiri.
Karena itu, negara tidak boleh hadir setengah hati. Negara tidak cukup menjadi pencatat investasi. Ia harus menjadi penjaga keadilan. Kebijakan tidak boleh hanya menghitung angka produksi, tetapi juga menghitung kerusakan yang ditinggalkan. Tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi memastikan pemerataan.
Gubernur yang sangat kami hormati,
Surat ini bukan penolakan terhadap pembangunan. Ia adalah ajakan untuk merawat keseimbangan. Agar kemajuan tidak berdiri di atas kerusakan. Agar industri tidak tumbuh dengan mengorbankan ekosistem. Dan agar buruh tidak terus menjadi pihak yang paling sabar, tetapi paling sedikit mendapat.
Di lain sisi, gerakan buruh juga harus tetap merawat nalar. Demonstrasi bukan sekadar luapan emosi, tetapi ruang untuk menyampaikan gagasan. Suara yang kuat adalah suara yang tidak hanya keras, tetapi juga jelas dan beralasan. Sebab, kita semua sedang diuji oleh satu hal yang sama, yaitu keadilan.
Selamat Hari Buruh Internasional, 01 Mei 2026.
Semoga keringat anda tidak lagi dianggap biasa. Semoga kerja anda tidak lagi dipandang sekadar kewajiban. Dan semoga keadilan tidak terus menjadi tuntutan, tetapi perlahan menjadi kenyataan. Karena bangsa yang besar bukan hanya diukur dari tingginya pabrik dan banyaknya investasi.
Tetapi dari satu hal yang paling substansial: bagaimana negara memperlakukan mereka yang bekerja dalam diam dan bagaimana ia menjaga tanah tempat mereka berpijak untuk selalu harmonis, kini, esok dan selamanya.(*)






