Sampah Plastik “Meriahkan” Karnaval Hardiknas 2026 di Morotai

Nampak sampah berserakan di ruas jalan utama berlangsungnya kegiatan

PERAYAAN Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Kabupaten Pulau Morotai melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) yang dikemas dalam Lomba Gerak Jalan Kreasi sejatinya menjadi ruang ekspresi kreativitas pelajar. Ratusan siswa dari tingkat SD hingga SMA turun ke jalan, menampilkan atraksi penuh warna dan semangat kebersamaan.

Kegiatan yang digelar melalui Dikbud ini dipusatkan di kawasan Jalan Siswa, mulai dari sekitar Patung Soekarno hingga samping kediaman Bupati, dan resmi dibuka oleh Asisten II Sekretariat Daerah, Ahdad Hi. Hasan, pada Rabu (29/4/2026). Antusiasme peserta dan masyarakat tampak tinggi, memadati sepanjang jalur karnaval.

Namun, kemeriahan itu tak berlangsung tanpa noda. Di balik sorak-sorai dan barisan kreatif pelajar, jalanan justru berubah menjadi lautan sampah plastik. Gelas air mineral sekali pakai berserakan hampir di setiap sudut, menciptakan pemandangan yang jauh dari nilai edukatif yang seharusnya diusung dalam peringatan Hardiknas.

Pantauan di lapangan menunjukkan, tumpukan sampah tidak hanya mengotori jalur utama, tetapi juga menumpuk di titik-titik strategis seperti depan Polres Morotai hingga area sekitar kediaman Bupati. Ironisnya, tidak terlihat respons cepat dari panitia maupun instansi terkait, baik saat kegiatan berlangsung maupun setelahnya.

Kondisi ini bukan sekadar kelalaian teknis ini adalah kegagalan manajerial yang nyata. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sebagai penyelenggara kegiatan terlihat tidak memiliki perencanaan matang dalam aspek paling mendasar, seperti pengelolaan sampah. Tidak ada sistem yang jelas, tidak ada edukasi lapangan, bahkan penyediaan tempat sampah pun minim.

Lebih memprihatinkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga kebersihan dan pengendalian limbah, justru nyaris tak terlihat perannya. Karnaval pelajar yang seharusnya menjadi ruang pembelajaran justru berubah menjadi ironi pendidikan. Bagaimana mungkin institusi yang bertugas membentuk karakter generasi muda gagal memberi contoh paling sederhana, menjaga kebersihan lingkungan.

Sahri, salah satu warga, mengaku kecewa dengan kondisi tersebut. Kata dia, panitia terkesan abai terhadap persoalan yang seharusnya bisa diantisipasi sejak awal.

“Sampah plastik banyak sekali, kenapa panitia tidak siapkan tempat sampah,” ujarnya.

Kritik ini bukan tanpa dasar. Minimnya fasilitas, lemahnya koordinasi antarinstansi, serta absennya pengawasan menunjukkan bahwa kegiatan ini lebih mengedepankan seremoni ketimbang substansi. Hardiknas yang seharusnya sarat nilai justru kehilangan maknanya di tengah tumpukan sampah plastik.

Jika pola seperti ini terus dipertahankan, maka jangan heran jika generasi muda tumbuh dengan pemahaman bahwa acara besar boleh meriah, meski meninggalkan masalah.

Hingga berita ini tayang, belum ada pernyataan resmi dari Dikbud dan DLH Pulau Morotai.(*)

Penulis : Moh

editor   : S.S.Suhara

banner banner banner banner banner banner banner banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *