DI antara banyak profesi yang sering kita jumpai setiap hari, tukang parkir mungkin termasuk pekerjaan yang paling sederhana dan jarang dijadikan sumber inspirasi kehidupan. Namun, justru dari kesederhanaan itu tersimpan pelajaran filosofis yang sangat mendalam.
Tukang parkir setiap hari berhadapan dengan kendaraan mewah, mobil mahal, sepeda motor baru, bahkan aset bernilai miliaran rupiah. Ia mengatur, menjaga, dan mengawasinya, tetapi tidak pernah menganggap semua itu sebagai miliknya. Ia sadar bahwa semua yang ada di hadapannya hanyalah titipan yang suatu saat akan diambil kembali oleh pemiliknya.
Ketika saya merenungkan pekerjaan tukang parkir, saya menemukan sebuah refleksi besar tentang hakikat kehidupan manusia. Bukankah pangkat, jabatan, kekayaan, kekuasaan, dan berbagai bentuk kemewahan yang kita miliki saat ini sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan kendaraan yang dititipkan kepada tukang parkir? Kita mengelolanya, menjaganya, menikmatinya, tetapi pada akhirnya tidak pernah benar-benar memilikinya secara mutlak.
Dalam filsafat, salah satu persoalan mendasar kehidupan manusia adalah persoalan kepemilikan. Sejak lahir, manusia datang ke dunia tanpa membawa apa-apa. Ketika meninggal dunia, ia juga pergi tanpa membawa apa-apa. Namun, di antara dua titik itu manusia sering terjebak dalam ilusi bahwa dirinya adalah pemilik sejati dari segala sesuatu.
Padahal, sebagaimana dikemukakan para filsuf eksistensialis, manusia sesungguhnya hanya “sedang berada” di dunia ini. Semua yang melekat pada dirinya bersifat sementara. Rumah, tanah, kendaraan, jabatan, bahkan tubuh yang kita miliki hari ini suatu saat akan ditinggalkan.
Tukang parkir memahami filosofi ini tanpa harus membaca buku filsafat. Ia tahu batas antara menjaga dan memiliki. Ia sadar bahwa tugasnya adalah mengelola, bukan menguasai. Kesadaran seperti inilah yang sering hilang dalam kehidupan modern. Banyak orang sibuk mengumpulkan harta dan mengejar kekuasaan seolah-olah akan hidup selamanya, padahal seluruh kepemilikan itu hanya bersifat sementara.
Karena itu, inspirasi terbesar dari tukang parkir adalah kesadaran bahwa hidup bukan tentang memiliki sebanyak-banyaknya, tetapi tentang menjaga apa yang dipercayakan kepada kita dengan sebaik-baiknya.
Dalam perspektif sosiologi, setiap individu menempati posisi dan peran tertentu dalam struktur masyarakat. Seorang kepala daerah, anggota legislatif, birokrat, pengusaha, akademisi, maupun tokoh agama memiliki fungsi sosial yang berbeda-beda. Namun semuanya memiliki kesamaan, mereka menerima kepercayaan dari masyarakat.
Masalah muncul ketika seseorang tidak lagi memandang jabatan sebagai amanah sosial, melainkan sebagai hak milik pribadi. Dari sinilah lahir penyalahgunaan wewenang, korupsi, nepotisme, dan berbagai bentuk ketidakadilan sosial.
Sosiolog Jerman, Max Weber, menjelaskan bahwa kekuasaan hanya memperoleh legitimasi ketika digunakan untuk kepentingan bersama. Ketika kekuasaan berubah menjadi alat memperkaya diri sendiri, maka kepercayaan publik perlahan akan hilang.
Di sinilah tukang parkir memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi para pemimpin. Ia menjaga kendaraan yang bukan miliknya tanpa mengklaim kepemilikan atasnya. Sementara dalam kehidupan sosial, tidak sedikit orang yang justru menganggap fasilitas publik, anggaran negara, dan jabatan yang diamanahkan kepadanya sebagai milik pribadi.
Jika setiap pejabat publik memiliki kesadaran seperti tukang parkir, maka orientasi pelayanan akan lebih kuat daripada orientasi kekuasaan. Mereka akan memahami bahwa jabatan hanyalah titipan rakyat yang suatu saat harus dikembalikan dengan pertanggungjawaban yang jujur.
Dalam perspektif tasawuf, inspirasi tukang parkir menjadi lebih mendalam lagi. Para sufi mengajarkan bahwa akar dari berbagai penderitaan manusia adalah keterikatan yang berlebihan terhadap dunia. Ketika seseorang merasa memiliki sesuatu secara mutlak, ia akan takut kehilangan, cemas mempertahankan, dan bersedih ketika semuanya pergi.
Padahal para sufi mengajarkan konsep zuhud, yaitu menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Dunia boleh dimiliki, tetapi jangan sampai menguasai jiwa.
Tokoh sufi besar, Jalaluddin Rumi, pernah menggambarkan bahwa manusia hanyalah musafir yang singgah sementara di dunia. Apa yang dimiliki selama perjalanan hanyalah bekal yang sewaktu-waktu harus ditinggalkan.
Tukang parkir mengajarkan nilai zuhud itu secara praktis. Setiap hari ia melihat kendaraan datang dan pergi. Tidak ada yang menetap. Tidak ada yang benar-benar menjadi miliknya. Ia hanya menjaga selama waktu yang ditentukan.
Bukankah demikian pula kehidupan manusia?…. Anak adalah titipan. Jabatan adalah titipan. Kekayaan adalah titipan. Kesehatan adalah titipan. Bahkan usia yang sedang kita nikmati saat ini adalah titipan.
Kesadaran sufistik mengajarkan bahwa semakin kita menyadari semua hanyalah titipan, semakin ringan hati kita menjalani kehidupan. Kita tidak mudah sombong ketika memperoleh nikmat dan tidak mudah hancur ketika kehilangan sesuatu.
Belajar Menjadi “Tukang Parkir” Kehidupan, saya melihat bahwa dunia saat ini membutuhkan lebih banyak orang yang memiliki mentalitas tukang parkir. Orang-orang yang sadar bahwa mereka hanya penjaga amanah, bukan pemilik mutlak. Orang-orang yang mampu mengelola kekuasaan tanpa diperbudak kekuasaan, mengelola kekayaan tanpa diperbudak kekayaan, dan memegang jabatan tanpa kehilangan kerendahan hati.
Dalam bahasa sufistik, manusia adalah penjaga amanah Tuhan di bumi. Dalam bahasa sosiologi, manusia adalah pelaku yang memikul tanggung jawab sosial. Dalam bahasa filsafat, manusia hanyalah pengembara yang sedang singgah dalam perjalanan panjang kehidupan.
Karena itu, inspirasi terbesar dari tukang parkir bukanlah pada peluit yang ia pegang atau kendaraan yang ia jaga, melainkan pada kesadarannya bahwa segala sesuatu yang berada di tangannya hanyalah titipan yang suatu saat harus dikembalikan kepada pemiliknya.
Dan mungkin, ketika kita mampu memahami pelajaran sederhana ini, kita akan lebih bijaksana memandang dunia, bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa baik kita menjaga amanah yang dititipkan kepada kita. Wallahu’alam bissawab.(*)






