Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi di Indonesia, Mengapa Maluku Utara Masih Dihantui Kemiskinan?

Oleh: Askal Samiudin /Pegiat Literasi

MALUKU Utara tercatat sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pada tahun 2023 mencapai angka fantastis 20,49 persen, jauh di atas rata-rata nasional. Bahkan, Kementerian ESDM menyebut pertumbuhan ini sebagai yang tertinggi di dunia. Namun, di balik gemerlap angka pertumbuhan, masih ada ironi yang menyayat: jumlah penduduk miskin di provinsi ini masih terbilang tinggi, mencapai 83.800 jiwa pada tahun 2024.

Lalu, mengapa pertumbuhan ekonomi yang begitu tinggi tidak mampu mengangkat kesejahteraan masyarakat secara merata? Sebuah penelitian yang mencoba mengupas fenomena ini dengan meneliti Pengaruh Tenaga Kerja, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT), Dan Pengeluaran Per Kapita Riil Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara selama periode 2018-2023, dengan menggunakan alat bantu eviews untuk menganalisis data.

Tenaga Kerja Melimpah, Kualitas Masih Kurang

Salah satu temuan menarik dari penelitian ini adalah bahwa peningkatan jumlah tenaga kerja ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara. Penelitian yang dilakukan penulis menemukan bahwa tenaga kerja memiliki nilai t-hitung 1.684, lebih kecil dari t-tabel 2.919, yang berarti secara statistik tidak terdapat pengaruh yang berarti.

Mengapa demikian? Karena tenaga kerja yang melimpah tidak serta-merta mendorong pertumbuhan jika tidak diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia yang memadai.Data BPS menunjukkan bahwa tenaga kerja yang terserap di Maluku Utara masih didominasi oleh lulusan pendidikan dasar dan menengah atas. Sebagaimana terdapat pada gambar dibawah ini:

Gambar.2: Persentase Serapan Tenaga Kerja

Akibatnya, upah yang diterima belum mampu meningkatkan daya beli dan permintaan barang serta jasa secara ideal. Padahal, dalam teori ekonomi, tenaga kerja yang berkualitas akan mendorong produktivitas, yang pada akhirnya berdampak pada pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Pertambangan Tumbuh, Namun Pengangguran Tak Turun Signifikan

Fenomena lain yang menarik adalah tingkat pengangguran terbuka (TPT) yang justru tidak berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Dimana variabel TPT dalam penelitian ini menunjukkan nilai t-hitung -3.394, lebih kecil dari t-tabel 2.919, dengan probabilitas 0.0769 yang lebih besar dari 0,05.

Meski TPT di Maluku Utara sempat menurun dari 5,15 persen pada 2020 menjadi 3,98 persen di 2022, angka ini kembali melonjak ke 4,31 persen pada 2023. Sebagaimana dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar.1: Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)

Fluktuasi ini menunjukkan bahwa lapangan kerja yang tercipta belum mampu menampung seluruh angkatan kerja secara stabil.

Yang lebih memprihatinkan, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara selama ini sangat bergantung pada sektor pertambangan dan penggalian yang menyumbang pertumbuhan hingga 49,07 persen. Sektor ini dikenal sebagai sektor yang padat modal, bukan padat karya, sehingga tidak mampu menyerap tenaga kerja terlatih dan terdidik dalam jumlah besar. Pertumbuhan ekonomi yang ada seharusnya bersifat inklusif agar dapat membantu mengatasi masalah kemiskinan dan ketimpangan sosial.

Pengeluaran Per Kapita Rendah, Pertumbuhan Tak Dirasakan

Salah satu temuan paling mencengangkan adalah rata-rata pengeluaran per kapita masyarakat Maluku Utara yang hanya mencapai Rp 8.834.000 per tahun atau sekitar Rp 736.000 per bulan dan jika dibagi dengan tiga puluh hari maka pengeluaran perharinya di angka Rp. 24.533, angka yang sangat miris jika uang dua puluh empat ribu di bagi dengan satu keluarga kecil. Angka ini sangat timpang juga jika dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi provinsi yang mencapai 20,49 persen.

Penelitian ini menemukan bahwa pengeluaran per kapita riil (PPR) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan nilai t-hitung -0.761424. Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak diikuti oleh peningkatan daya beli masyarakat secara keseluruhan.

Jika pengeluaran yang tinggi hanya tertuju pada kelompok kecil, sementara sebagian besar masyarakat memiliki tingkat pengeluaran yang rendah, maka pertumbuhan ekonomi yang terjadi cenderung tidak mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya dan manfaatnya tidak dirasakan secara merata.

Mencari Solusi, Pertumbuhan Inklusif Dan Berkelanjutan

Menghadapi realitas ini, peneliti memberikan sejumlah rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah. Pertama, diperlukan langkah-langkah untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dengan mengembangkan produk pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan secara mandiri dan berkelanjutan.

Kedua, pemerintah perlu fokus pada peningkatan kualitas tenaga kerja melalui investasi di sektor pendidikan dan pelatihan keterampilan. Hal ini penting mengingat kemajuan teknologi yang pesat hanya dapat dimanfaatkan secara optimal oleh tenaga kerja yang terampil dan terlatih.

Ketiga, pemerataan pendapatan menjadi agenda yang tidak kalah penting. Pertumbuhan ekonomi yang hanya dinikmati oleh segelintir pihak tidak akan menyelesaikan masalah kemiskinan yang masih menghantui masyarakat Maluku Utara.

Keempat, pengendalian inflasi harus menjadi perhatian serius, terutama karena ketergantungan Maluku Utara pada impor komoditas pangan. Pengembangan produk pangan lokal dapat menjadi solusi untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat.

Tantangan Ke Depan

Maluku Utara berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, provinsi ini menikmati bonus demografi dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, terutama di sektor pertambangan. Namun di sisi lain, ketimpangan ekonomi dan kualitas sumber daya manusia yang masih rendah menjadi pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan. Walaupun tidak semuanya, namun data BPS menunjukan hal tersebut.

Muhammad, (2023) seorang akademisi dari Universitas Khairun, sebelumnya juga menyoroti bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi belum mampu menciptakan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan yang terjadi masih bersifat eksklusif dan belum menyentuh lapisan masyarakat bawah.

Pemerintah daerah di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota perlu memanfaatkan momentum pertumbuhan ini untuk menciptakan nilai tambah bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Jangan sampai euforia pertumbuhan angka hanya menjadi pajangan statistik tanpa makna.

Dengan berbagai temuan ini, diharapkan pemerintah daerah dapat merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat Maluku Utara. penulis percayakan sepenuhnya kepada Gubernur dan jajarannya dalam menciptakan kerja sama dengan berbagai pihak termasuk perusahaan dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan kualitas sumberdaya manusia Maluku Utara.

DAFTAR PUSTAKA

Adha, A. A., & Andiny, P. (2022). Pengaruh tenaga kerja dan investasi di sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi sektor pertanian di indonesia. 6(1), 40–50.

BPS. (2023). Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara. https://malut.bps.go.id/id/pressrelease/2024/02/05/757/pertumbuhan-ekonomi-maluku-utara-triwulan-iv-2023-sebesar-20-49-persen–c-to-c-.html

Databoks. (2024). Data Historis Jumlah Penduduk Miskin di Maluku Utara Periode 2019-2024. Databok. https://databoks.katadata.co.id/demografi/statistik/45f0924a1ef8224/bps-jumlah-penduduk-miskin-di-maluku-utara-turun-0-85-data-juni-2024-#:~:text=Angka ini berkurang 0%2C14,bulan untuk kebutuhan non-makanan.&text=Garis kemiskinan untuk daerah perdesaan,/bulan untuk non-makanan.

ESDM. (2024). Berkat Hilirisasi, Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara Tahun 2023 Menjadi Tertinggi di DuniaNo Title. https://www.esdm.go.id/en/media-center/news-archives/berkat-hilirisasi-pertumbuhan-ekonomi-maluku-utara-tahun-2023-menjadi-tertinggi-di-dunia-#:~:text=Dengan melakukan hilirisasi%2C sambung Yuliot,pada angka lebih dari 22%25.

Fitria, D. R., Alfiyan Nur Ahmada, M. A., Putri Imaretha, V., & Syahrul Munir, A. A. (2023). Pengaruh Pengeluaran Perkapita Dan Indeks Pembangunan Manusia Terhadap Produk Domestik Regional Bruto Di Jawa Timur. SINDA: Comprehensive Journal of Islamic Social Studies, 3(3), 81–86. https://doi.org/10.28926/sinda.v3i3.1172

Giri, N. K. O., Yasa, P. N. S., & Jayawarsa, A. A. K. (2022). Pengaruh Komponen Indeks Pembangunan manusia Terhadap Pertumbuhan ekonomi Kabupaten / Kota di Bali Tahun 2012-2019. Warmadewa Economic Development Journal (WEDJ), 5(2), 31–39. https://doi.org/10.22225/wedj.5.2.2022.31-39

Harnita, Astuty, S., & Samsir, A. (2020). Pengaruh Tenaga Kerja, dan Pengeluaran Pemerintah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan. EcceS (Economics, Social, and Development Studies), 6(1), 72. https://doi.org/10.24252/ecc.v6i1.9544

Iqbal, M., Junaidi, J., & Hardiani, H. (2018). Analisis pengaruh tingkat pengangguran, pertumbuhan penduduk, tingkat kemiskinan dan indeks pembangunan manusia terhadap pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Tanjung Jabung Barat. E-Jurnal Ekonomi Sumberdaya Dan Lingkungan, 7(3), 144–157. https://doi.org/10.22437/jels.v7i3.11941

Muda, R., Koleangan, R., & Kalangi, J. B. (2019). Pengaruh angka harapan hidup, tingkat pendidikan dan pengeluaran perkapita terhadap pertumbuhan ekonomi di sulawesi utara pada tahun 2003-2017. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi, 19(01), 44–55. https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/jbie/article/view/22368

Muhammad, N. (2023). Akademisi Unkhair Soroti Pertumbuhan Ekonomi Maluku Utara. Kabar Halmahera. https://www.kabarhalmahera.com/2023/08/akademisi-unkhair-soroti-pertumbuhan.html

Rambe, R. C., Prihanto, P. H., & Hardiani. (2018). Faktor-faktor yang mempengaruhi pengangguran terbuka di Provinsi Jambi. E-Jurnal Perspektif Ekonomi Dan Pembangunan Daerah, 7(3), 137–146. https://doi.org/10.22437/pdpd.v7i3.5512

Rinaldi, M., & Nanang Prayudyanto, M. (2021). Persepsi Masyarakat Terhadap Tingkat Kepuasan Pelayanan Bus Transjabodetabek Dengan Metode Uji Asumsi Klasik Dan Uji Regresi Linear Berganda. Seminar Nasional Ketekniksipilan, 1(1), 2021.

Siburian, E. S., Syafitri, M. D., Muliana, R. S., Maipita, I., & Rinaldy, M. (2024). Pengaruh Tingkat Pendidikan, Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Pengangguran di Indonesia. JALAKOTEK: Journal of Accounting Law Communication and Technology, 1(2), 706–713. https://doi.org/10.57235/jalakotek.v1i2.2586.(*)

banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *