DIES Natalis dilaksanakan bukan sekedar merayakan usia 60 tahun hari kelahiran atau menandai berdirinya suatu lembaga pendidikan tinggi Keagamaan, tetapi sekaligus sebagai momentum untuk melakukan refleksi dan introspeksi terhadap perjalanan panjang institusi ini secara menyeluruh. Enam dekade merupakan waktu yang cukup lama menjalani masa kematangan sehingga harus digunakan seefektif mungkin untuk memotret apa saja dampak signifikan kontribusi akademik kampus IAIN terhadap perkembangan pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, membangun karakter generasi muda, dan kehidupan keagamaan masyarakat Maluku Utara selama ini.
60 tahun IAIN Ternate menapaktilasi sejarah panjang juga bukan sekedar bernostalgia mengenang perjuangan jasa-jasa para the founding father dalam meletakan fondasi awal bagi berdirinya Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Ujung Pandang d Ternate. Namun jauh lebih penting adalah bagaimana kemampuan kita mengartikulasikan nilai-nilai moral, kepemimpinan, kepedulian, tanggungjawab, dan kesadaran memiliki oleh para pendahulu. Karena nilai-nilai ini menjadi penting diteladani untuk meneruskan perjuangan dan cita-cita mereka sehingga kita nanti tidak dicap sebagai generasi penikmat hasil-hasil pembangunan semata.
Perjuangan panjang penuh liku, suka dan duka, mendaki bukit terjal dan curam, bahkan seluruh tenaga, waktu, dan pikiran telah mereka curahkan hanya untuk mendedikasikan darma baktinya kepada kemajuan pendidikan tinggi Keagamaan di Maluku Utara. Tanpa dukungan dana, sumberdaya manusia, dan berbagai fasilitas lain yang memadai sekalipun, tidak mengendor semangat mereka tetap bertekad agar Fakultas Tarbiyah segara dibuka. Apalagi mereka sudah terinspirasi oleh gagasan kritis dan inklusif tentang cara berpikir pembangunan Nusantara centeris bukan Jawa centeris yang dilontarkan salah seorang tokoh Nasional, Prof K.H Saifuddin Zuhri, kebetulan pada saat itu menjabat Menteri Agama RI. Sehingga nama beliau terkenal sangat familiar ketika kita berbicara tentang perjalanan sejarah pendirian IAIN Ternate.
Karena itu, sebagai generasi penerus tentu ada panggilan kesadaran akan tugas dan tanggungjawab yang tidak boleh diabaikan. Mungkin dirasakan cukup berat, sebab kita juga belum tahu pasti apakah kita mampu menjaga dan memelihara keberlanjutan lembaga pendidikan tinggi ini sesuai harapan dan cita-cita mereka atau tidak, hanya waktu yang bisa menjawab semua ini. Itulah sebabnya, tulisan ini sengaja disajikan ke ruang publik hanya bersaifat memotret kilas perjalanan sejarah Fakultas Tarbiyah IAIN Ternate. Dengan maksud mengingatkan kita akan capaian keberhasilan yang mungkin pernah diraih sebelumnya, dan senantiasa berusaha untuk terus-menerus melakukan perubahan (continue improvement) dan perbaikan terhadap manajemen kelembagaan bila menemukan kegagalan.
Memelihara Tradisi
Dalam konteks peringatan Dies Natalis ke-60 IAIN Ternate, diskursus mengenai terminology “memelihara tradisi” jangan dipahami sebatas bagaimana mempertahankan kegiatan seremonial atau mengeksplor kembali kebiasaan masa lalu untuk dikenang. Jadi ada semacam kesan yang begitu romantis terkait upaya untuk memelihara tradisi dalam artian menjaga nilai-nilai, identitas, ingatan sejarah, budaya akademik, karakter kepemimpinan, dan manajemen kelembagaan yang telah dibangun selama enam dekade, kemudian mentransformasikannya agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Momentum Dies Natalis diharapkan akan mampu membangun kesadaran kita untuk memelihara ingatan sejarah kelembagaan. Sebab kampus ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan berada ditengah geggap gembita perubahan sosial dan pembangunan peradaban masyarakat. Maka perjalanan panjang 60 tahun harus didudukan sebagai bentuk kolaborasi berbagai elemen kekuatan baik para pendiri, pimpinan, dosen, mahasiswa, tenaga kependidikan, alumni, dan dukungan partisipasi masyarakat secara luas.
Merawat ingatan kolektif tentang sejarah perguruan tinggi. Sejarah adalah kumpulan fakta dan peristiwa masa lalu yang tidak boleh hanya disimpan dalam dokumen nostalgia, kemudian diperingati setiap Dies Natalis. Tetapi harus menjadi sumber pembelajaran dan keteladanan bagi generasi baru. Pada titik ini tentu membuat kita gelisah untuk bertanya; darimana IAIN Ternate berasal, nilai apa yang diwariskan oleh generasi terdahulu, dan kemana lembaga hendak dibawa? Implikasi sejarah bukan sekedar nostalgia, melainkan modal moral untuk membangun masa depan.
Memelihara tradisi keilmuan
Tentu kita sadar, bahwa perguran tinggi Keagamaan Islam (IAIN Ternate) punya tradisi akademik yang berbasis pada keislaman, keilmuan, pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Memelihara tradisi keilmuan itu tercermin dari sikap dan kebiasaan membaca, menulis, melakukan eksperimen, riset inovatif untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karakter ini juga terlihat pula pada sikap menjunjung tinggi kebebasan akademik, membangun budaya berpikir kritis, menghargai perbedaan pendapat, dan mampu mengintegrasikan ilmu keislaman dan ilmu pengetahauan modern.
Tradisi semacam ini justru semakin penting ditumbuhkan dalam atmosfir akademik, agar kampus kita tidak ketinggalan mengupdate perkembangan ilmu pengetaahuan, terutama di tengah perubahan teknologi, kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, dan perubahan sosial yang sangat cepat. Jadi, memelihara tradisi bukan berarti menolak perubahan, tetapi memastikan bahwa perubahan tetap memiliki fondasi nilai.
Memelihara tradisi keislaman yang moderat
Identitas IAIN Ternate juga tidak bisa dieleminasi atau dilepas pisahkan dari tradisi keislaman dan bertautan erat dengan dinamika sosial masyarakat Maluku Utara. Memelihara tradisi berarti menjaga nilai-nilai Islam yang menekankan keadaban, toleransi, keseimbangan, kedamaian, penghormatan terhadap perbedaan, dan kemaslahatan sosial. Dalam konteks masyarakat kepulauan yang memiliki keragaman etnis, budaya, agama, dan tradisi, perguruan tinggi Islam mempunyai posisi strategis sebagai ruang untuk memperkuat kehidupan masyarakat yang harmonis.
Dengan demikian, tradisi keislaman tidak hanya diwujudkan dalam ritual keagamaan, tetapi juga dalam etika akademik, perilaku sosial, kepemimpinan, pelayanan public, dan pengabdian kepada masyarakat. Termasuk memelihara keharmonisan hubungan antara warga kampus dengan kebudayaan dan kearifan local Maluku Utara.
Perguruan tinggi tidak boleh menjadi institusi yang terisolir dari kehidupan masyarakat yang majemuk. IAIN Ternate harus mampu membaca berbagai nilai lokal seperti semangat kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap orang tua, hubungan manusia dengan alam, serta nilai-nilai sosial yang hidup dalam masyarakat Ternate khususnya dan Maluku Utara pada umumnya. Tradisi lokal tidak harus diterima secara mentah. Perguruan tinggi dapat melakukan kajian kritis, dokumentasi, reinterpretasi, dan pengembangan akademik terhadapnya, sehingga menjadi sumber ilmu pengetahuan.
Selama enam puluh tahun, keberadaan perguruan tinggi seharusnya tidak hanya diukur dari jumlah lulusan, gedung, program studi, atau capaian administratif, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat. Karena itu, memelihara tradisi berarti mempertahankan semangat bahwa aspek manfaat ilmu harus kembali kepada masyarakat. KKN, penelitian sosial-keagamaan, pendampingan masyarakat, pendidikan keagamaan, pemberdayaan ekonomi, pengembangan masyarakat pesisir dan kepulauan, serta berbagai bentuk pengabdian lainnya merupakan bagian dari tradisi yang perlu terus diperkuat. Tradisi pengabdian tersebut dapat diarahkan pada persoalan konkret masyarakat kepulauan: pendidikan, kemiskinan, lingkungan, ekonomi masyarakat, konflik sosial, literasi digital, kebudayaan, dan penguatan kehidupan keagamaan.
Ada dimensi lain yang masih sering terlupakan, yaitu memelihara tradisi keteladanan .Enam puluh tahun perjalanan IAIN Ternate tentu meninggalkan banyak figur yang memberikan teladan dalam bidang akademik, kepemimpinan, pengabdian, dan kehidupan sosial. Memelihara tradisi berarti tidak membiarkan keteladanan tersebut hilang bersama pergantian generasi. Generasi sekarang perlu mengenal para pendahulu bukan melalui nama yang tercatat dalam sejarah, tetapi mencontohi nilai-nilai perjuangan yang mereka wariskan: integritas, kesederhanaan, ketekunan, keberanian intelektual, pengabdian, dan tanggung jawab terhadap lembaga.
Memelihara tradisi tidak indentik dengan mempertahankan status quo. Ini merupakan bagian yang sangat penting. Merawat tradisi juga bukan dimaksudkan melanggengkan semua hal dari masa lalu. Tidak semua kebiasaan masa lalu harus dipertahankan. Tradisi yang dipelihara adalah yang mengandung nilai positif dan masih relevan. Maka kita dituntut agar mampu membedakan mana tradisi sebagai nilai, dan tradisi sebagai kebiasaan. Nilai seperti integritas, keilmuan, pengabdian, keislaman, persaudaraan, dan penghormatan terhadap ilmu harus dipertahankan.
Demikian pula sebaliknya, pola kerja yang tidak efektif, birokrasi yang lambat, budaya akademik yang tidak produktif, atau cara berpikir yang tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman harus diperbaiki. Disinilah kita meneropong hubungan antara “merawat tradisi” dan “meneguhkan transformasi” menjadi sangat urgen diperbincangkan.
Kalau diibaratkan tradisi sebagai akar, maka transformasi adalah perjalanan. Metafora yang menarik untuk memahami Dies Natalis ke-60 seperti pohon. Artinya yang kita bayangkan adalah kampus laksana sebuah pohon sudah berusia 60 tahun. Akar menggambarkan sejarah, nilai, tradisi dan identitas. Sementara batang menyangkut kelembagaan dan budaya akademik. Cabang adalah fakultas, program studi, pusat kajian, dan berbagai unit kelembagaan. Sedangkan daun merupakan inovasi dan kreativitas. Kemudian buah adalah lulusan, penelitian, pengabdian, dan sumbangsihnya kepada masyarakat. Pohon yang baik tidak memutus akarnya ketika tumbuh. Sebaliknya, semakin besar pohon, semakin kuat ia membutuhkan akar. IAIN semakin jauh melangkah menuju transformasi menjadi UIN SUBA, semakin penting fondasi sejarah dan nilai memperkuat akarnya.
Memelihara tradisi untuk menyongsong masa depan
Paradoksnya, tradisi yang sehat justru bukan tradisi yang membuat lembaga berjalan mundur, tetapi tradisi yang memberikan arah ketika menghadapi masa depan. IAIN Ternate menghadapi era generasi yang berbeda dengan jaman generasi sebelumnya. Teknologi digital telah mengubah cara belajar. Kecerdasan buatan mengubah cara manusia memperoleh dan memproduksi pengetahuan. Dunia kerja juga berubah dengan cepat. Dalam kondisi tersebut, IAIN Ternate membutuhkan kemampuan untuk melakukan transformasi tanpa kehilangan identitas. Dengan suatu kalimat sederhana tradisi meneguhkan akar, transformasi merubah gerak, dan masa depan memberikan harapan.
Selamat Memperingati Hari Ulang Tahun ke 60.(*)






