Kepada Yth.
Ketua Umum dan Jajaran Komite Eksekutif Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia
Di Jakarta
Dengan hormat,
SEPAK bola Indonesia adalah milik publik. Ia bukan sekadar kompetisi olahraga, tetapi juga ruang sosial tempat nilai keadilan, sportivitas dan integritas dipertaruhkan di hadapan jutaan mata. Dalam konteks itulah kami memandang penting untuk menyampaikan permohonan peninjauan kembali terhadap sanksi yang dijatuhkan kepada Saudara Asghar Saleh, Wakil Manajer Malut United.
Kami memahami bahwa federasi memiliki kewenangan etik untuk menjaga marwah kompetisi. Disiplin adalah elemen penting dalam tata kelola sepak bola modern. Namun dalam prinsip tata kelola yang baik (good governance), kewenangan selalu berdampingan dengan akuntabilitas, proporsionalitas, serta keterbukaan terhadap evaluasi.
Kritik yang disampaikan Saudara Asghar Saleh pasca pertandingan lahir dari kegelisahan terhadap kepemimpinan wasit dan integritas pertandingan: isu yang secara substansial menyangkut kepentingan publik sepak bola. Dalam kerangka demokrasi olahraga, kritik merupakan bagian dari mekanisme korektif yang menjaga sistem tetap sehat dan responsif.
Kami tidak dalam posisi membenarkan setiap pilihan kata yang digunakan. Namun esensi kritik perlu dipisahkan dari ekspresinya. Jika terdapat kekhilafan dalam penyampaian, maka pendekatan klarifikasi dan pembinaan akan lebih konstruktif dibandingkan pembatasan aktivitas yang bersifat menyeluruh. Sanksi yang terlalu berat berpotensi memunculkan persepsi pembungkaman, yang pada akhirnya dapat mengikis kepercayaan publik terhadap tata kelola kompetisi.
Lebih jauh, dalam perspektif etika komunikasi publik, penting bagi federasi memastikan bahwa setiap keputusan disipliner memenuhi asas keadilan prosedural (procedural fairness) dan proporsionalitas sanksi. Sepak bola Indonesia sedang berproses menuju tata kelola yang lebih profesional dan transparan.
Dalam momentum tersebut, peninjauan kembali sanksi terhadap Saudara Asghar Saleh justru akan memperlihatkan kematangan institusi. Revisi keputusan bukanlah tanda kelemahan, melainkan simbol kebesaran hati organisasi yang siap bercermin dan memperbaiki diri.
Kami percaya bahwa PSSI memiliki komitmen terhadap kemajuan sepak bola nasional. Oleh karena itu, kami berharap federasi dapat membuka ruang evaluasi atas keputusan yang telah diambil, demi menjaga kepercayaan publik dan memperkuat legitimasi kompetisi.
Demikian surat terbuka ini kami sampaikan dalam semangat konstruktif dan itikad baik. Sepak bola Indonesia membutuhkan disiplin, tetapi juga membutuhkan ruang dialog. Ia membutuhkan aturan, tetapi juga kebijaksanaan. Karena masa depan sepak bola nasional tidak hanya ditentukan oleh gol yang tercipta, melainkan oleh keadilan yang ditegakkan.(Morotai 16 Februari 2026)






