GEDUNG Morotai Cristian Center (MCC) atau Oikoumene yang berada di kawasan pusat pasar CBD, Desa Gotalamo, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, kini terlihat sangat memprihatinkan, kamis, (12/3/2026).
Fasilitas yang diresmikan pada tahun 2022 dengan anggaran sekitar Rp 13 miliar dari dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) itu sebelumnya dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan keagamaan dan pertemuan resmi di daerah tersebut. Namun, kondisi fisik bangunan kini mulai menunjukkan tanda-tanda kurangnya perawatan dan terlihat tidak terurus dalam waktu yang cukup lama.
Pantauan di lokasi pada kamis (12/3/2026) memperlihatkan sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan. Pada bagian depan gedung misalnya, tangga utama yang menjadi akses masuk tampak retak dan sebagian lantainya pecah.6 Bahkan di sela-sela celah lantai tangga mulai ditumbuhi rumput liar, yang mengindikasikan area tersebut sudah lama tidak dibersihkan maupun diperbaiki.
Kondisi serupa juga terlihat pada dinding luar bangunan. Cat berwarna putih yang sebelumnya tampak bersih kini terlihat kusam. Bekas aliran air hujan membentuk garis-garis hitam memanjang dari bagian atas hingga ke bawah dinding, memperlihatkan bahwa bangunan tersebut telah lama tidak mendapat perawatan.
Di area samping hingga bagian belakang gedung, lingkungan sekitar juga dipenuhi semak dan tanaman liar. Rumput yang tumbuh tinggi tanpa pemangkasan membuat kawasan di sekitar bangunan terkesan terbengkalai dan semakin memperkuat kesan bahwa gedung tersebut sudah cukup lama tidak ditata maupun dirawat secara berkala.
Padahal, secara desain gedung MCC dibangun dengan konsep bangunan pertemuan berskala besar yang cukup representatif. Bagian depan gedung dihiasi jendela kaca berukuran besar yang membentang vertikal serta struktur dinding tinggi yang sebelumnya memberi kesan megah sebagai salah satu fasilitas publik penting di Kabupaten Pulau Morotai.
Melihat kondisi tersebut, pemerintah daerah segera melakukan perawatan dan penataan kembali, Karena tanpa perawatan rutin, bangunan yang dibangun dengan anggaran besar itu berpotensi mengalami kerusakan lebih parah dan tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat.(*)






