Perempuan dan Rahim Peradaban Yang Dilupakan

Oleh : Muhammad Wahyudin/Mahasiswa Pendidikan Pancasila Dan Kewarganegaraan FKIP Unkhair Ternate

SETIAP kali dunia memperingati Hari Perempuan, kita sering disuguhi kalimat-kalimat indah tentang kemuliaan perempuan. Poster-poster dipenuhi kata “ibu”, “cinta”, dan “pengorbanan”.

Perempuan dipuji sebagai tiang keluarga, sebagai sumber kasih sayang, bahkan sebagai simbol kehidupan. Namun di balik pujian-pujian itu, ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur: jika perempuan begitu dimuliakan, mengapa dalam kenyataan sosial ia justru sering dipinggirkan? Di sinilah paradoks peradaban manusia.

Perempuan adalah rahim tempat sejarah manusia bermula. Setiap manusia yang hidup di dunia ini lahir melalui tubuh seorang perempuan. Tidak ada negara, tidak ada agama, tidak ada peradaban yang bisa berdiri tanpa proses kelahiran itu. Namun ironinya, dalam perjalanan sejarah yang panjang, perempuan sering kali tidak diberi tempat yang setara dalam menentukan arah kehidupan bersama.

Peradaban modern suka membanggakan dirinya sebagai puncak kemajuan manusia. Kita mengukur kemajuan melalui teknologi, ekonomi, dan kekuatan negara. Namun ukuran-ukuran itu sering kali melupakan satu fondasi yang paling mendasar: nilai-nilai kemanusiaan yang pertama kali diajarkan dalam ruang paling kecil bernama keluarga. Dan di ruang itu, perempuan hampir selalu menjadi pusatnya.

Seorang anak pertama kali belajar tentang dunia dari seorang perempuan. Dari ibunya ia belajar bahasa pertama, rasa pertama, bahkan cara pertama memahami cinta. Sebelum ia mengenal sekolah, negara, atau ideologi, ia terlebih dahulu mengenal kelembutan tangan seorang ibu. Dari sanalah manusia belajar tentang empati, kesabaran, dan kepedulian terhadap sesama.

Dengan kata lain, perempuan bukan hanya melahirkan manusia secara biologis. Ia juga melahirkan nilai-nilai yang membuat manusia tetap menjadi manusia. Namun dalam sistem sosial yang patriarkal, kontribusi besar itu sering kali tidak dianggap sebagai kekuatan politik atau sosial. Ia dipandang hanya sebagai tugas domestik yang “alami”. Akibatnya, perempuan sering kali disingkirkan dari ruang-ruang pengambilan keputusan yang menentukan arah masyarakat.

Patriarki bekerja bukan hanya melalui kekuasaan formal, tetapi juga melalui cara pandang yang menormalisasi ketimpangan. Kita diajarkan untuk menghormati ibu, tetapi tidak selalu diajarkan untuk menghormati hak-hak perempuan sebagai warga negara. Kita memuji pengorbanan perempuan, tetapi jarang mempertanyakan sistem sosial yang membuat pengorbanan itu terus-menerus diperlukan.

Dalam banyak kasus, perempuan bahkan harus berjuang melawan struktur yang mengekang mereka sejak awal kehidupan. Akses pendidikan yang terbatas, ketimpangan ekonomi, kekerasan berbasis gender, hingga minimnya keterwakilan dalam politik adalah bukti bahwa peradaban modern belum sepenuhnya adil terhadap perempuan. Padahal jika kita benar-benar serius berbicara tentang masa depan peradaban, maka persoalan perempuan tidak bisa dianggap sebagai isu sampingan. Ia adalah persoalan inti dari kualitas kemanusiaan kita.

Peradaban yang besar bukan hanya diukur dari kemajuan teknologinya, tetapi dari cara ia memperlakukan kehidupan. Dan perempuan adalah penjaga kehidupan itu sejak awal. Ketika perempuan dipinggirkan, yang sesungguhnya sedang dilemahkan bukan hanya satu kelompok sosial, tetapi fondasi moral dari peradaban itu sendiri.
Karena itu, memuliakan perempuan tidak cukup dengan retorika. Ia harus diwujudkan dalam perubahan nyata: dalam kebijakan pendidikan yang adil, dalam kesempatan ekonomi yang setara, dalam perlindungan terhadap kekerasan, dan dalam ruang politik yang terbuka bagi perempuan untuk berpartisipasi secara penuh.

Lebih dari itu, masyarakat juga perlu mengubah cara pandangnya tentang kekuatan. Selama ini kekuatan sering diasosiasikan dengan dominasi, kontrol, dan kekerasan. Namun perempuan menunjukkan bentuk kekuatan yang berbeda—kekuatan yang merawat, melindungi, dan menjaga kehidupan tetap bertumbuh.

Dalam dunia yang semakin keras oleh konflik, ketimpangan ekonomi, dan krisis ekologis, perspektif seperti ini justru menjadi semakin penting. Dunia membutuhkan cara pandang yang lebih manusiawi, lebih empatik, dan lebih berorientasi pada keberlanjutan kehidupan. Nilai-nilai itu selama berabad-abad justru hidup dalam pengalaman perempuan.
Itulah sebabnya perjuangan perempuan bukan sekadar perjuangan identitas, tetapi perjuangan untuk memperluas makna kemanusiaan itu sendiri. Ketika perempuan menuntut keadilan, yang mereka tuntut sesungguhnya bukan hanya hak untuk diri mereka sendiri, tetapi juga masa depan yang lebih bermartabat bagi semua manusia.

Hari Perempuan seharusnya menjadi pengingat bahwa peradaban tidak hanya dibangun oleh mereka yang memegang kekuasaan, tetapi juga oleh mereka yang merawat kehidupan dengan sabar dan sunyi. Perempuan telah lama melakukan pekerjaan itu—melahirkan, merawat, dan membesarkan generasi demi generasi manusia.

Maka jika kita benar-benar ingin membangun peradaban yang lebih adil dan manusiawi, kita harus mulai dari pengakuan yang sederhana tetapi mendasar: bahwa masa depan dunia tidak bisa dibangun dengan menyingkirkan setengah dari manusianya. Sebab di dalam rahim perempuan, kehidupan pertama kali belajar bernafas.
Dan dari hatinya, manusia pertama kali belajar tentang cinta.(*)

banner banner banner banner banner banner banner banner banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *