Dengan Semangat Paskah, Kita Hidupkan Toleransi sebagai Kekuatan Kemanusiaan dalam Bingkai Hibualamo, Rumah Besar Pemersatu Perbedaan

MENJELANG perayaan Paskah 2026, denyut kehidupan masyarakat di Kota Tobelo terasa berbeda. Paskah tidak lagi sekadar perayaan keagamaan, tetapi telah menjelma menjadi momentum sosial yang menampilkan wajah kebersamaan di tengah keberagaman.

Pada Sabtu (4/4/2026), Bupati Halmahera Utara, Dr. Piet Hein Babua bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) meninjau sejumlah lokasi taman Paskah di berbagai titik. Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan mencerminkan bagaimana ruang-ruang iman turut berkembang menjadi ruang publik yang inklusif dan terbuka bagi semua.

Lima lokasi taman Paskah—mulai dari Kokotajaya, Tanjung Pilawang, hingga Gosoma dan Gamhoku—menjadi simbol kreativitas jemaat sekaligus bukti keterlibatan aktif masyarakat dalam merawat tradisi. Lebih dari itu, taman-taman ini hadir sebagai ruang perjumpaan lintas warga, tempat nilai-nilai kemanusiaan dipraktikkan secara nyata.

Bupati menegaskan bahwa makna Paskah tidak boleh berhenti pada ritual tahunan. Kebangkitan Kristus, menurutnya, harus menjadi energi moral yang hidup dalam keseharian, terutama dalam membangun kepedulian sosial dan menjaga harmoni di tengah masyarakat yang majemuk.

Namun, di balik semangat tersebut, ada tantangan yang tidak bisa diabaikan. Di era digital, kerukunan tidak hanya diuji dalam kehidupan nyata, tetapi juga di ruang virtual. Arus informasi yang tidak terkendali berpotensi memicu perpecahan jika tidak disikapi dengan bijak. Karena itu, masyarakat diingatkan untuk lebih cermat dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang beredar di media sosial.

Kehadiran TNI-Polri, Kejaksaan, Kementerian Agama, serta Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dalam peninjauan ini menunjukkan bahwa menjaga keamanan dan kenyamanan ibadah merupakan tanggung jawab bersama. Meski demikian, peran masyarakat tetap menjadi fondasi utama dalam merawat kedamaian.

Perayaan Paskah tahun ini juga menghadirkan pendekatan berbeda dengan melibatkan unsur lintas agama dalam peninjauan lokasi ibadah. Langkah ini menjadi upaya konkret untuk memperluas makna toleransi—tidak hanya sebagai wacana, tetapi sebagai praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Ketua Panitia PHBG, Yudhiahart Noya, menilai bahwa keterlibatan lintas pihak tersebut penting untuk memperkuat rasa kebersamaan antarumat beragama. Dalam konteks Halmahera Utara yang menjunjung tinggi nilai Hibualamo sebagai “rumah besar”, semangat ini menjadi fondasi penting dalam menjaga kohesi sosial.

Meski demikian, tantangan ke depan tetap membutuhkan komitmen bersama. Kerukunan tidak cukup dibangun melalui momentum perayaan, tetapi harus terus dirawat dalam kehidupan sehari-hari. Paskah menjadi pengingat bahwa nilai pengorbanan, kebangkitan, dan pembaruan harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Dengan demikian, perayaan Paskah di Tobelo tahun ini bukan hanya menjadi agenda keagamaan, tetapi juga refleksi kolektif tentang bagaimana masyarakat dan pemerintah berbagi peran dalam menjaga kedamaian. Jika semangat Hibualamo terus dihidupkan, maka “rumah besar” ini akan tetap kokoh sebagai ruang bersama bagi semua perbedaan.(*)

Penulis : Cheni

Editor.   : S.S.Suhara

banner banner banner banner banner banner banner banner banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *