Penanganan Konflik Sosial Dengan Konsep Negeri Rempah

Oleh : Abdul Gani L/Pemerhati Sejarah dan Budaya Malut

SEJARAH panjang negeri rampah, dalam beberapa catatan sejarah dengan beragam versi begitu termasyhur seperti diabad ke 3 SM pada masa Dinasti Han di Tiongkok, apabila para pembesar – pembesar Istana bermaksud menghadap Kaisar, maka buah cengkih harus berada didalam mulutnya (Hendry N Ridley, 1912 : 155) Hendry merupakan seorang botanikus asal Inggris yang menerbitkan karya pentingnya terkait rempah – rempah, ia adalah botanikus berpengaruh dalam study pada tanaman tropis di Asia Tenggara.

Begitu juga Deinum seorang penulis/peneliti Belanda yang sering dikutip, berkaitan dengan studi sejarah pertanian/rempah, dalam tulisannya ia menceritakan tentang asal – usul negeri cengkih yang di rahasiakan selama berabad – abad, hal ini nampak pada catatan seorang Biarawan Bizantin Cosmas Indicopleustes saat berada di India sekitar abad ke 6 M yang memberitakan bahwa cengkih diimpor dari Cina dan Srilangka (Paramita, BSM, I, 1972 : 50), begitu juga dalam catatan Antonio Pigafetta, 1972 : 120, yang menyebutkan bahwa, cengkih itu ada pada lima pulau yaitu Bachan, Machian, Mutir, Tadore, dan Terenatte.

Menurut Gabriel Rebello, cengkih itu berasal dari Ternate, Makian, Tidore, dan Motir (Paramita, BSM, I, 1972 : 50). Cengkih memiliki beberapa penyebutan pada daerah yang berbeda, seperti di Makian Luar dikenal dengan Ada, Makian dalam disebut dengan Odai, di Tidore Gomode, di Ternate pada awalnya disebut dengan Gaumedia, sedangkan di Malaka cengkih di kenal dengan Chanche dan di Saranghai disebut dengan Bunga Lawan, (Hasan A Hamid, Aroma Sejarah dan Budaya Ternate 1999).

Ini menunjukkan bahwa, sebelum datangnya para pedagang dan menyebarkan agama pada masa sebelum kedatangan bangsa Eropa yang mencari sumber rempah – rempah bagi kebutuhan mereka, maupun pada masa kedatangan dan pendudukannya, negeri rempah – rempah sudah memiliki suatu komunitas kehidupan sosial masyarakat adat yang cukup kuat, seperti keberadaan Suku Sahu, Gamkonora, Wayoli, di Halmahera Barat, Suku Tobelo baik yang berada di pedalaman maupun pesisir, begitu juga berbagai suku yang berada di daratan Halmahera Tengah dan Timur yang kita kenal dengan sebutan Fogogoru, dan juga di Selatan Halmahera maupun Sula, keberadaan suku – suku tersebut, hidup berdampingan diantara satu dengan yang lain, hingga generasi saat ini.

Tanah, air, gunung dan lembah serta hutan adalah rumah dan sumber kehidupan secara turun temurun yang terjaga dengan baik, dengan satu kepercayaan yaitu alam dan manusia adalah ciptaanNYA, Jou Diki Amoi ataupun Jou Madubo dalam konteks bahasa Ternate, yaitu Sang Pencipta/Maha Tunggal, atau saat ini kita kenal dengan sebutan Tuhan Yang Maha Esa,

Kedatangan bangsa Eropa dengan misi utama bagaimana dapat menguasai lebih sumber rempah – rempah yang menjadi incaran berbagai negara, Investasi besar – besaranpun terjadi diantara mereka, pencaplokan tanah, misi terselubung dengan memikat hati para Pemimpin Kultur yang telah terbentuk puluhan bahkan ratusan tahun atau berabad – abad lalu, Para Kolano/Sultan, Para Sangaji dan Kapita diberi janji manis, para Sultan, Sangaji dan Kapita yang tidak berpihak maka politik adudombapun di lancarkan, kehidupan para pemilik negeri ini yang awalnya dalam kedamaian dengan aroma cengkih, kayu manis dan asap kelapa yang begitu harum, suara ombak dan nyanyian Baikole yang barsahutan bersama Calaibi kini berubah menjadi bau mesiu dimana – mana.

Suara letupan Meriam dan Bedil bersahutan, parang dan tombak untuk berburu kini menunjuk kepada sesama pemilik negeri rempah, kehidupan yang rukun dan damai mulai termakan hasutan para investor mata biru yang bermimpi mengumpulkan pundi – pundi uang dan emas dari hasil rempah – rempah, pemimpin Kultur mulai melemah karena perpecahan, setiap komunitas adat berjuang dengan kemampuannya sendiri untuk mempertahankan warisan leluhur walau nyawa taruhannya, tak dapat di pungkiri rempah – rempah dimasa lalu bagaikan Minyak Bumi yang menjadi rebutan berbagai bangsa di Selat Hormuz saat ini.

Apakah konflik sosial yang terjadi akhir – akhir ini memiliki kemiripan cerita yang sama dengan pendudukan dimasa colonial ? dan juga sering terjadi pada saat konstalasi politik pemilihan kepala daerah, ini merupakan tantangan bagi generasi muda penerus negeri rempah, sifat dan perilaku adudomba serta perpecahan sudah lama tertanam oleh para pengadudomba dimasa lalu, dan terbawa hingga saat ini dalam konteks yang berbeda dengan berbagai pola pikir yang beragam dan memakai idiologi dengan lebel tertentu, generasi muda tanah rempah harus mampu mengenal lebih dalam asal usul dirinya sebagai tameng dan semangat konsolidasi dalam menjaga marwah negeri rempah yang saat ini dalam ancaman perpecahan, agama di gunakan sebagai senjata yang mampu merobohkan sejarah suatu bangsa, dengan menghilangkan bahkan memakai cerita sejarah masa kini yang penuh versi dan fiksi, mereka berusaha agar anak muda negeri rempah melupakan cerita sejarah para leluhurnya yang begitu harmony di masa lampau, dan tak pernah nampak dalam kertas – kertas VOC.

Pemerintah Daerah dengan instrument yang dimiliki seharusnya mampu menjaga soliditas negeri rampah, kita bangga sebagai penguasa sepertiga Nusantara, namun saat ini justru kita lemah dalam literasi sejarah negeri sendiri, sebagai contoh, saat ini Maluku Utara keberadaan Institusi yang membidangi Sejarah dan Budaya seperti Balai Pelestarian Kebudayaan maupun Balai Bahasa yang merupakan perpanjangan tangan dari Pemerintah Pusat di Daerah melalui Kementerian Kebudayaan, dan pada tingkat Pemerintah Provinsi urusan Kebudayaan masih melekat pada Dinas Pendidikan dengan beban tugas yang begitu besar dari berbagai suku dan bahasa yang ada di Maluku Utara, begitu juga pada Kabupaten/Kota, hanya di Kota Ternate urusan Kebudayaan yang sebelumnya melekat pada Dinas Pariwisata maupun Dinas Pendidikan saat ini dapat berdiri sendiri, bagaimana dengan Kabupaten/Kota yang lain yang begitu banyak suku, bahasa, cagar budaya maupun warisan budaya tak benda, dan membutuhkan perhatian serius bagi literasi sejarah daerah saat ini.

Konflik sosial yang terjadi saat ini dan mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa, salah satu faktornya yaitu, minimnya literasi sejarah bagi generasi muda yang rentan dengan perkembangan modernisasi dengan berbagai idiologi tertentu, Pemerintah Daerah melalui instrumennya seperti Dinas Kebudayaan, Dinas Perpustakaan dan Arsip begitu juga Dinas Pendidikan bahkan Perguruan Tinggi, jangan hanya terfokus pada pelestarian warisan budaya tak benda seperti kuliner, pakaian adat, upacara adat, tarian, dan juga cagar budaya maupun festival dan pesta rakyat, namun bagaimana Pemerintah Daerah duduk bersama dengan lembaga adat dan berbagai elemen untuk menata kembali tatanan kehidupan adat dari Desa/Kelurahan sampai ke Kota.

Masyarakat adat dibiarkan untuk mempertahankan sejarah dan budaya mereka sendiri dalam keterbatasan ditengah gempuran globalisasi dan investasi, kolaborasi diantara Pemerintah Daerah, Masyarakat dan semua elemen untuk bersama merekonstruksi kembali sejarah negeri rempah, berbagai data sejarah dan tutur lisan suda saatnya didata dan dibukukan kembali, banyak cerita sejarah didominasi oleh konflik antara sesama dan minim cerita sejarah yang mencerminkan harmonisasi kehidupan sosial berbagai suku yang ada di Maluku Utara, hal ini sangat penting sebagai edukasi yang membentuk pola pikir kehidupan masyarakat yang aman dan damai, untuk mencapai suatu kesejahteraan yang berkeadilan.(*)

 

 

banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *