Misi Kemanusiaan di Lereng Dukono, 36 Personel SAR Brimob Malut Evakuasi Pendaki di Tengah Ancaman Erupsi

Proses evakuasi para pendaki yang menjadi korban erupsi gunung Dukono Galela Halmahera Utara

ERUPSI besar Gunung Dukono terjadi sekitar pukul 07.41 WIT. Berdasarkan hasil pemantauan, terlihat kolom abu berwarna putih, kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal mengarah ke utara. Letusan tersebut menghasilkan semburan abu vulkanik mencapai sekitar 10.000 meter di atas puncak atau sekitar 11.087 meter di atas permukaan laut, Sabtu (9/5/2025).

Dalam insiden itu, dilaporkan sekelompok pendaki yang terdiri dari 9 warga negara asing (WNA) asal Singapura dan 11 warga negara Indonesia (WNI) terjebak akibat aktivitas erupsi saat berada di sekitar kawah gunung. Menindaklanjuti laporan tersebut, Dansat Brimob Polda Malut, Kombes Pol Handri Wira Suriyana, segera memerintahkan 36 personel Tim SAR Brimob untuk diterjunkan ke lokasi.

Personel yang dikerahkan terdiri dari:

30 personel tim pencarian dan penyelamatan; 6 personel tim pendukung, meliputi tim drone dan tim kesehatan lapangan. Selain itu, satu unit kendaraan khusus (Ransus) Tata SAR Brimob juga dikerahkan menuju lokasi erupsi guna mendukung proses evakuasi.

“Sebagai bentuk kesigapan dan respons cepat dalam membantu pertolongan serta evakuasi para pendaki yang terjebak erupsi Gunung Dukono, Brimob hadir bersinergi dengan TNI dan pemerintah, serta berkolaborasi bersama masyarakat dalam melaksanakan misi kemanusiaan,” ujar Kombes Pol Handri Wira Suriyana.

Tim SAR Brimob bersama unsur TNI, Basarnas, dan stakeholder terkait kemudian melakukan pendakian menuju titik lokasi korban. Tim menempuh jarak sekitar 7 kilometer dengan estimasi perjalanan kaki kurang lebih tiga jam.

Dari operasi tersebut, tim gabungan berhasil menyelamatkan 7 WNA asal Singapura dan 10 WNI. Seluruh korban kemudian dievakuasi menggunakan kendaraan Brimob dan Basarnas menuju RSUD Tobelo untuk mendapatkan penanganan medis.

Namun, hingga saat ini masih terdapat tiga pendaki yang terdiri dari 2 WNA dan 1 WNI yang belum berhasil dievakuasi karena berada di radius rawan erupsi. Lokasi tersebut masih dipenuhi luapan abu vulkanik disertai material batu yang membahayakan keselamatan tim penyelamat.

Atas pertimbangan keselamatan, proses pencarian dan evakuasi dihentikan sementara dan dijadwalkan kembali dilanjutkan pada Sabtu, 9 Mei 2026. Saat ini Tim SAR Brimob Polda Malut masih bersiaga di Posko SAR Terpadu di Desa Mamuya, Kecamatan Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara.

“Tim drone akan dikerahkan untuk membantu pemantauan udara guna menemukan titik lokasi tiga pendaki yang belum ditemukan. Ransus SAR juga telah berada di lokasi untuk mengoptimalkan proses pencarian dan penyelamatan korban. Kami berharap seluruh korban segera dievakuasi dan proses pencarian berjalan lancar,” tutup Kombes Pol Handri Wira Suriyana.(Red)

Editor : S.S.Suhara

banner banner banner banner banner banner banner banner banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *