JELANG 31 Agustus 2026 nanti, IAIN Ternate akan berulang tahun ke 60. Esai sederhana ini bukanlah reward, sebab dedikasi kampus ini tidak bisa dikonversi dalam wujud penghargaan apapun. Anggaplah ini sekadar unggahan apresiasi moral terhadap lembaga yang telah menapaki jalan integrasi dakwah dan sains selama enam dekade di Dufa-Dufa – Ternate, Maluku Utara.
Enam puluh tahun silam, di tanah kepulauan tempat rempah-rempah pernah mendikte kompas dunia, sebuah mimpi besar disemai. Lahir dari kegelisahan batin para tetua dan tokoh masyarakat akan minimnya pengajar agama, sebuah lentera akademik dinyalakan di bawah langit Ternate. IAIN Ternate di Dufa-Dufa, layak disebut dalam latin sebagai in lumine tuo videbimus lumen, “pada cahayamu, kami akan melihat cahaya”, atau dalam lazim, sebagai minadzulumati ilannur, “dari kegelapan menuju cahaya”. Demikian, ungkapan yang pantas pada keberadaannya, saat mana Maluku Utara sedang dahaga ilmu Islam, juga suram akan cahaya pendidikan, sehingga hadirnya menerangi jalan peradaban, seturut dalam bait hymne IAIN sebagai “Api Islam yang hak dan sejati”.
Enam dekade lebih dari sekadar masa, napak tilasnya meretas jejak panjang penuh tantangan. Disetiap fase perjalanannya, ada keterlibatan banyak pikiran, waktu dan tenaga dari orang-orang hebat yang mau mendedikasikan diri dalam proses pendirian IAIN Ternate. Penuturan Bapak Drs. Yasin Muhammad dalam (Solemen L. Azis, 1986), gagasan pendirian Institut Agama Islam Negeri (IAIN) di Maluku dimulai sejak tahun 1965, bermula dari ide Menteri Agama RI saat itu, Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, yang disampaikan kepada Panglima Pusogiri di Ambon. Karena masyarakat Ambon kurang antusias terhadap rencana tersebut, gagasan itu kemudian dibawa ke Ternate melalui Komandan Kodim Maluku Utara, Letkol Suwignyo, untuk mendirikan IAIN di Kota Ternate. Gagasan tersebut selanjutnya disampaikan kepada Bupati Kepala Daerah Maluku Utara, M.S. Jahir, yang saat itu kebetulan bersama Drs. Jasin Muhammad. Drs. Jasin Muhammad kemudian menyarankan agar terlebih dahulu dibuka Fakultas Tarbiyah sebagai salah satu fakultas IAIN, guna memenuhi kebutuhan tenaga guru agama Islam yang berpendidikan tinggi.
Berangkat dari gagasan tersebutlah, dibentuk sebuah Yayasan Pembina Fakultas Tarbiyah IAIN Ternate. Pada Yayasan ini berderet tokoh-tokoh termashur yang dikenal cerdik pandai dalam mempolopori lahirnya lembaga pendidikan tinggi di Maluku Utara, diantaranya; M.S. Jahir selaku Bupati Kepala Daerah Maluku Utara; Drs. Jasin Muhammad (Dosen IKIP Manado), Drs. Salim Assagaf, Baharuddin Lopa, SH (Kepala Kejaksaan Negeri Ternate), Muhammad Albugis, (Kepala Kantor Urusan Agama Kabupaten Maluku Utara), M. Adnan Amal, SH, H.A. Drakel dan beberapa tokoh lain yang sebelumnya juga memprakarsai pendirian Universitas Khairun Ternate.
Setelah Yayasan terbentuk, disusun laporan mengenai kemungkinan pembukaan Fakultas Tarbiyah IAIN di Ternate. Pada September 1965, M.S. Jahir bersama Drs. Jasin Muhammad dan Drs. Salim Assagaf membawa laporan tersebut ke Jakarta untuk disampaikan kepada Menteri Agama RI, Prof. K.H. Saifuddin Zuhri. Karena tidak sempat bertemu Menteri Agama, delegasi diterima oleh Anton Timur Jailani, M.A., Kepala Biro Perguruan Tinggi Departemen Agama RI. Ia menyambut baik rencana tersebut dan menyarankan agar dilakukan konsultasi dengan pimpinan IAIN Alauddin Makassar yang saat itu baru diresmikan.
Menindaklanjuti saran tersebut, ketiga tokoh kemudian mengutus Baharuddin Lopa, S.H. ke Ujungpandang untuk merundingkan kemungkinan Fakultas Tarbiyah Ternate menjadi cabang IAIN Alauddin Makassar. Melalui ketekunan dan upayanya, rencana tersebut semakin memperoleh titik terang. Selanjutnya, disusun laporan lengkap mengenai berdirinya Fakultas Tarbiyah IAIN Ternate untuk diajukan kepada Menteri Agama sekaligus memohon penegerian. Baharuddin Lopa, S.H. ditunjuk sebagai Pjs. Dekan kemudian diutus ke Jakarta untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat Maluku Utara, hingga akhirnya Fakultas Tarbiyah IAIN Ternate memperoleh persetujuan untuk dinegerikan sebagai cabang IAIN Alauddin Makassar.
Meskipun telah memperoleh persetujuan untuk dinegerikan, dalam perkembangannya Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Ternate masih berstatus swasta selama kurang lebih satu tahun. Berkat perhatian dan dukungan Pemerintah terhadap upaya penegerian tersebut, akhirnya diterbitkan SK Menteri Agama RI Nomor 45 Tahun 1966 tanggal 21 Juli 1966 tentang Pembentukan Panitia Persiapan Penegerian Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Ternate.
Setelah Panitia Persiapan Penegerian menyelesaikan seluruh persiapan, Menteri Agama RI Prof. K.H. Saifuddin Zuhri bersama Rektor IAIN Alauddin Makassar, H. Aupala, dan rombongan tiba di Ternate. Pada 3 November 1966, Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Makassar Cabang Ternate resmi dinegerikan, sekaligus dilantik Drs. Husen Alhadar sebagai Pjs. Dekan menggantikan Baharuddin Lopa, S.H. berdasarkan SK Menteri Agama RI Nomor 55 Tahun 1966 tertanggal 31 Agustus 1966. Peresmian ini menjadi tonggak penting karena Fakultas Tarbiyah Ternate tercatat sebagai cabang pertama IAIN Alauddin Makassar di kawasan Indonesia Timur. Momentum 31 Agustus 1996 selanjutnya ditetapkan dalam STATUTA sebagai hari lahirnya IAIN Ternate, namun demikian secara informal gagasan dan upaya pendirian IAIN Ternate telah dilakukan sejak tahun 1995.
Meskipun sempat berpindah-pindah tempat kuliah diawal pendiriannya karena belum memiliki gedung permanen, Fakultas Tarbiyah IAIN Alauddin Ujung Pandang di Ternate akhirnya mengokohkan eksistensinya di Dufa-Dufa Ternate, hingga perkembangannya saat ini. Jika Ternate adalah tubuh, maka Dufa-Dufa merupakan detak jantung akademiknya. Di atas lahan dua hektar, kampus hijau ini berdiri kokoh, menatap selat Halmahera, membelakangi Gamalama. Dufa-Dufa bukan sekadar titik koordinat dalam peta kelurahan; ia adalah lokus memori – ruang geografi yang menyimpan ribuan jejak kaki para pengebara ilmu (mahasiswa) dari seantero Maluku, Papua, hingga Sulawesi.
Di sinilah, gemuruh ombak pantai utara bertalu bersama dialektika di dalam ruang kelas. Di bawah naungan pohon-pohon dan gedung kampus, pemikiran Islam yang inklusif didebatkan, dirumuskan, dan dihidupkan. Dufa-Dufa telah menjadi saksi bagaimana metamorfosis sosial terjadi: dari pemukiman pantai yang sunyi, menjadi episentrum intelektual yang mendidik manusia-manusia kepulauan lintas generasi. Angin laut yang asin sering kali menyusup melalui celah jendela, mendinginkan kepala yang panas karena perdebatan teologis serta ujian metodologis.
Enam puluh tahun bukanlah jalan setapak yang rata. Perjalanan IAIN Ternate adalah sebuah kronik tentang resiliensi. Kampus ini telah melewati berbagai musim makro-sejarah: melintasi masa-masa sulit keterbatasan dana di awal berdirinya, bertahan di tengah badai konflik sosial yang pernah menguji kohesi kemanusiaan Maluku Utara, hingga tegak berdiri menghadapi disrupsi zaman modern.
Secara kelembagaan, institusi ini adalah penyintas yang tangguh. Diawali fase-fase transisinya: dari sebuah Fakultas Cabang, mandiri menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) pada tahun 1997, merekah menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) pada tahun 2014, hingga hari ini, di usia yang ke-60, ia tengah mengetuk gerbang takdir baru yang lebih megah: berbenah diri dan bertaruh syarat demi terwujudnya keinginan masyarakat Maluku Utara menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Babullah Ternate. Mengapa penting?, sebab perubahan status bukan sekadar pergantian papan nama di gerbang kampus, melainkan lompatan epistemologis untuk menjawab tuntutan zaman serta memperluas cakrawala keilmuan tanpa kehilangan akar spiritualitas Islam. Menyongsong transformasi menjadi UIN SUBA, IAIN Ternate memikul amanah besar: mengawinkan sains modern dengan nilai keislaman dan nilai luhur kearifan lokal sebagai distingsi yang nantinya menjadi tubuh keilmuan (body of knowledge) UIN SUBA Ternate.
Kini 2026, ketika IAIN Ternate merayakan Dies Natalis keenam puluh, langkah kaki akademik kampus ini mulai melebar menuju wilayah Ternate Selatan dengan pembangunan Kampus II. Ruang-ruang kelas di Dufa-Dufa mungkin mulai terasa sesak oleh limpahan generasi baru, namun jiwanya tetap membubung tinggi. Tidak dapat dipungkiri, dari rahim Dufa-Dufa, telah lahir puluhan ribu alumni yang kini menjadi birokrat, politisi, akademisi, dan benteng moral masyarakat di seluruh Indonesia timur. Institusi ini telah membuktikan diri bukan sebagai menara gading yang angkuh, melainkan sebagai oase tempat masyarakat meminum air pengetahuan. Enam puluh tahun telah berlalu, angin sepoi Dufa-Dufa masih setia semilir di ruang-ruang kampus, berbisik memanggil masa lalu, sekaligus mengantarkan doa-doa terbaik menuju masa depan peradaban.
Terimakasih atas andil besar para pendahulu yang telah berdedikasi mengembangkan kampus ini hingga mencapai usia enam dekade. Di tengah segala dinamika yang mengitarinya, para pendidik dan tenaga kependidikan terdahulu telah berdedikasi tanpa pamrih, mengabdi tanpa uang lembur, tanpa uang makan, bahkan tanpa tunjangan kinerja maupun sertifikasi. Para pendahulu yang menjadi tauladan bagi bagi setiap generasi bangsa. Jejak juang dan tauladan ini mesti menjadi inspirasi bagi siapapun yang mengabdi di IAIN Ternate, agar terusan visi para pendahulu di jalan dakwah dan ilmu pengetahuan tetap terjaga.
Syukur dofu-dofu dihaturkan kepada segenap warga Dufa-Dufa yang telah menyediakan lahan bagi tegaknya bangunan kampus. Syukur Dofu atas perkenanannya menerima setiap mahasiswa untuk berdomisili, datang silih berganti untuk menuntut ilmu, sekaligus menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembangnya dialektika keilmuan di IAIN Ternate. “Ngom mote sanang, kalu toma waktu rimoi Ngon bosa sanang” (Torang iko sanang kalau suatu saat nanti ngoni so sanang/sukses)”. Ungkapan tulus dari warga yang sulit dilupakan setiap mahasiswa yang pernah tinggal di Dufa-Dufa.
Akhirnya, setiap sudut di kampus ini menyimpan cerita yang enggan luruh oleh waktu. Bagi siapa pun yang pernah tumbuh di dalamnya, ingatan tentang 60 tahun perjalanan IAIN Ternate bukan sekadar angka, melainkan potongan-potongan peristiwa sederhana yang sangat manusiawi. Jayalah IAIN Ternate dalam “Menenun ilmu, iman dan amal sholeh”. “IAIN Bakti Nyata”. Suba Jo.; Wajo, AR., – Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Ternate/Alumni STAIN Ternate – 1998-.(*)






