Ini Pesan Menag Nasaruddin Umar pada Alumni FoSSEI

Audiensi Korps Alumi Forum Silaturahim Studi Ekonomi Syariah (FoSSEI) dengan Menteri Agama. Foto: (Istimewa)

MENTERI Agama (Menag) Nasaruddin Umar menekankan pentingnya penguatan kesadaran berekonomi Islam di tingkat akar rumput. Hal tersebut disampaikan Menag saat menerima audiensi Korps Alumni Forum Silaturahim Studi Ekonomi Syariah (FoSSEI) di kantor pusat Kementerian Agama, Jakarta.

“Kesadaran berekonomi Islam di tingkat akar rumput perlu terus ditingkatkan secara konkret. Kita tidak boleh hanya berhenti pada kegiatan FGD atau workshop. Tantangan utama kita hari ini adalah siapa yang mengeksekusi gagasan-gagasan tersebut,” tegas Menag, Kamis (5/11/2026).

Menag yang juga Ketua DPP IAEI Periode 2025-2030 menjelaskan, kesadaran syariah yang tengah menjadi tren di kalangan generasi muda dapat dijadikan kekuatan untuk memperkokoh kehadiran FoSSEI sebagai mediator ekosistem ekonomi Islam.

Dalam pertemuan yang dipimpin oleh Ketua Korps Alumni FoSSEI Ahmad Fauzie Nur tersebut, Menag menyoroti tantangan mendasar ekonomi syariah di Indonesia. Meskipun memiliki populasi muslim terbesar, pangsa pasar perbankan syariah nasional saat ini baru berkisar di angka 7,4%, jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga.

Untuk menjawab tantangan itu, Menag meminta FoSSEI turut mengoptimalkan potensi ekonomi syariah berbasis rumah ibadah dan lembaga pendidikan keagamaan. Mengingat potensi besar Indonesia yang memiliki 800.000 masjid dan 40.000 pondok pesantren, Menag mengusulkan pendirian unit usaha ritel berbasis masjid (Masjid Mart/Koperasi Masjid) dan pesantren dengan memanfaatkan lahan yang ada.

“Jika 70% dari masjid di Indonesia yang memiliki lahan memadai difasilitasi dengan mini-supermarket berbasis koperasi masjid dan pesantren, kebutuhan pokok masyarakat dapat terpenuhi secara mandiri sekaligus membangkitkan ekonomi umat di tingkat lokal,” jelas Menag. Langkah ini dinilai efektif untuk merebut pangsa pasar ritel masyarakat yang mencapai puluhan triliun rupiah per tahun.

Menag juga menyambut positif peran FoSSEI sebagai forum independen yang mampu menjembatani berbagai lembaga ekonomi Islam di Indonesia. Keberadaan FoSSEI sebagai wadah yang fleksibel dinilai dapat memediasi peran Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) di ranah konsep dan regulasi, serta Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) di tataran operasional.

Ketua Korps Alumni FoSSEI Ahmad Fauzie Nur menuturkan bahwa sejak berdiri pada tahun 2000, FoSSEI telah menghimpun lebih dari 100.000 alumni yang tersebar di berbagai sektor strategis, mulai dari direksi BUMN, akademisi, hingga pengusaha sektor riil.

Menurut Fauzie, potensi besar alumni terletak pada kapasitas individu pengambil kebijakan untuk berkontribusi meningkatkan market share ekonomi syariah, seperti pembiayaan proyek kawasan industri, manufaktur, hingga infrastruktur.

“Kekuatan FoSSEI bukan sekadar pada plang nama organisasinya, melainkan pada ekosistem individu yang bergerak secara nyata. Kami siap mensinergikan potensi alumni dengan lembaga konseptual seperti Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) dan lembaga operasional seperti Masyarakat Ekonomi Syariah (MES),” ujar Fauzie yang juga menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Danareksa (Persero).(*)

banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *