HALMAHERA Timur adalah salah satu wilayah yang dikenal dengan wilayah yang akan kaya sumber daya alam. Wilayah Halmahera Timur kaya akan budaya local. Pekerjaan para orang tua pada masa sebelum datangnya investasi pertambangan di wilayah pertanian misalnya daerah wasile dan daerah maba. Didaerah sendiri yang diketahui oleh masyarakat Halmahera Timur adalah wilayah subaim. Sedangkan untuk wilayah maba itu berada di wilayah maba tengah dan maba utara.
Kehadiran Tambang. Halmahera tan tuba. Masyarakat local dengan hadirnya investasi tambang di wilayah Halmahera Timur sangat mempengaruhi mata pencarian masyarakat local yang pada sebelumnya mata pencariannya petani dan nelayan dengan hadirnya investasi tambang masyarakat local dan mulai redup mata pencariannya misalnya, nelayan yang ada di maba yang dulunya penghasil udang, ikan dan tumbuhan laut lainnya terbaik kini mulai tergeser karena pengaruh dengan hadirnya investasi pertambangan. Hal ini bukan hanya terjadi di wilayah maba hal demikian juga terjadi di wilayah subaim. Hadirnya investasi pertambangan dapat mempengaruhi pendapatan petani local.
Pada gambar 1.1 adalah gambar proses pelepasan daging kelapa dari batoknya (bakore kalapa). Bakore kalapa adalah salah satu kebiasaan atau tradisi masyarakat maba yang khusus petani kelapa. Hal ini mempunyai giliran apabila hal ini di lakukan oleh masyarakat petani maka dengan sendirinya masyarakat setempat atau tetangga rumah itu saling tolong menolong dalam mengerjakan hal tersebut dalam Bahasa daerah atau Bahasa local disebut dengan Babari.
Tidak ada yang sempurna, masing-masing memiliki kekurangan dan semua itu akan tertutupi Ketika kita bekerja sama dan saling tolong menolong. (Abdul Samad Addin 2023)
Babari (gotong royong) merupakan salah satu kebiasaan masyarakat maba dalam setiap menyelesaikan suatu pekerjaan baik secara kelompok maupun secara individual. Dalam proses pelepasan daging kelapa dari batoknya menurut penulis hal demikian mempunyai nilai filosofis. Nilai filosofisnya apa? Pertama, pelepasan daging kelapa harus mempunyai nilai kesabaran karena satu demi satu yang di ambil. Kedua, tanggung jawab. Nilai tanggung jawab ini terpatri dalam setiap petani kelapa karena hal ini sudah menjadi pada masyarakat maba.
Hubungan Sosial
Ngaku re Rasai adalah salah satu filosofi dari fagogoro. Ngaku re rasai mempunyai nilai yang sangat tinggi di wilayah maba karena hal ini menurut penulis sudah seperti darah daging yang ada sejak masyarakat maba lahir kemuka bumi ini.
Hubungan sosial sebelum hadirnya pertambangan
Masyarakat maba khusus petani kelapa mempunyai kebiasaan sebelum melakukan pekerjaan di waktu pagi para tetua sebelum berangkat bekerja mereka melakukan persiapan baik itu kebutuhan makanan maupun alat yang akan di gunakan di saat di kebun. Misalnya sebelum berangkat minum the atau sarapan yang telah di siapkan oleh orang dirumah maupun anak atau istri. Hal demikian terjadi sudah turun temurun dari para tetua yang ada di wilayah maba.
Baku togor (menyapa) merupakan kebiasaan masyarakat maba sebelum datangnya investasi pertambangan di wilayah maba, hal ini terjadi secara terus menerus dan bahkan menurut penulis ini sudah menjadi tradisi masyarakat maba. Baku togos bukan hanya terjadi di perkampungan, hal ini terjadi juga di kobong (Kebun atau lahan) disebut dengan “Ba Uloo”. Ba Ulo merupakan kebiasaan masyarakat petani yang ada di wilayah maba ini, Ba Ulo juga merupakan salah satu bentuk silaturahmi antar tetangga kobong (Kebun atau Lahan), Ba Ulo juga menandakan bahwa apakah ada orang atau tidak? Apabila ada yang membalas dengan Ba Ulo maka itu menandakan bahwa di sekitar kebun ada orang yang melakukan pekerjaan.
Setelah pertambangan
Kebiasaan masyarakat maba pada sebelumnya adanya pertambangan itu masih terjaga dengan baik sejak dari tetua yang ada sampai sekarang. Setelah adanya investasi pertambangan yang beroperasi di wilayah maba ini maka dengan sendirinya kebiasaan masyarakat maba mulai pelan-pelan terkikis atau tergilas dengan kebiasaan yang dibangun oleh investasi tersebut.
Perjalan untuk bekerja dengan sendirinya juga berbeda, kebiasaannya pergi bekerja itu bako togor hal ini mulai terkikis penyebabnya apa? Pertama, karena para pekerja pergi bekerja tidak pada waktu yang seperti biasa yanh dilakukan sebelum adanya investasi pertambangan. Kedua, para pekerja juga sudah tidak lagi melakukan kebiasaan yang dilakukan di kebun seperti biasanya karena yang mereka kerjakan sekarang bukan lagi pekerjaan sebelum adanya investasi. Kebiasaan Ba Ulo juga hilang dimakan oleh jaman.(*)






