DI tengah budaya euforia dan perayaan hura-hura yang kerap mewarnai malam pergantian tahun, Pemuda Al-Khaiiraat Morotai justru memilih jalan berbeda. Berkolaborasi dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI Cabang Morotai) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII Cabang Morotai), mereka mengisi malam pergantian Tahun Baru 2025 dengan zikir, solawat, serta aksi solidaritas kemanusiaan untuk korban bencana alam di Sumatra dan Aceh.
Kegiatan yang digelar di Taman Kota Daruba, Kecamatan Morotai Selatan, Selasa malam (31/12/2025), berlangsung khidmat dan penuh makna. Ratusan masyarakat, kalangan pemuda, hingga unsur Pemerintah Daerah turut hadir dan larut dalam suasana religius yang menyejukkan.
Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan zikir dan solawat bersama yang dipimpin Pemuda Al-Khaiiraat. Suasana malam yang biasanya riuh justru berubah menjadi reflektif, mengajak peserta merenungi makna pergantian tahun sebagai momentum perbaikan diri dan sosial.
Tak hanya bernuansa spiritual, kegiatan ini juga memuat Open Donasi untuk korban bencana alam di Sumatra dan Aceh. Respons masyarakat Morotai terbilang tinggi. Dari hasil penggalangan dana, terkumpul donasi sebesar Rp3.481.000, ditambah kontribusi dari HMI Cabang Pulau Morotai sebesar Rp2.685.000. Total donasi yang berhasil dihimpun mencapai Rp6.166.000, dan akan segera disalurkan kepada para korban.
Ketua Pemuda Al-Khaiiraat Morotai sekaligus Ketua panitia kegiatan menegaskan, kegiatan ini merupakan upaya menghadirkan alternatif positif bagi generasi muda di malam pergantian tahun.
“Pemuda seharusnya menjadi pilar utama pembaruan nilai-nilai Islam, bukan larut dalam euforia yang tidak membawa manfaat,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat.”Terima kasih kepada semua yang telah berpartisipasi. Semoga Allah SWT membalas setiap kebaikan yang telah diberikan.”ujarnya.
Rangkaian acara ditutup dengan doa bersama menjelang detik-detik pergantian tahun. Saat tahun baru tiba, lantunan takbir, zikir, dan solawat menggema, disambut pekikan gembira masyarakat sebagai simbol harapan baru yang lebih religius, peduli, dan bermakna.(*)
Penulis : Moh
Editor. : S.S.Suhara






