MENGAPA Kita Perlu Dua Kacamata Sekaligus.
Sekarang ini, hidup di tengah kota besar atau bahkan di desa yang mulai tersentuh internet tentu tidak sederhana. Jika kita hanya memperhatikan apa yang tampak di permukaan, seperti gedung, kendaraan, atau pakaian orang, kita akan kehilangan pemahaman yang utuh. Ada dua alat bantu yang sesungguhnya sangat berguna untuk mengurai kekompleksan zaman modern. Alat pertama adalah sistem sosial, yaitu segala susunan hubungan antar manusia yang terlihat nyata, seperti tempat kerja, pemerintahan, sekolah, dan kelompok pertemanan. Alat kedua adalah sistem budaya, yaitu kumpulan gagasan tak kasat mata yang hidup di benak setiap orang, seperti apa yang mereka anggap pantas, penting, indah, atau memalukan. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Coba bayangkan sebuah pertunjukan wayang: sistem sosial adalah para pemain, dalang, dan panggungnya, sedangkan sistem budaya adalah cerita yang membuat penonton menangis atau tertawa. Tanpa cerita, gerakan pemain hanya sekadar gerak kosong.
Tanpa pemain, cerita tak pernah tersampaikan.
Wajah Sistem Sosial di Zaman Serba Cepat.
Kalau kita amati lebih dekat, sistem sosial masa kini memiliki ciri yang sangat berbeda dibandingkan lima puluh tahun lalu. Dulu, posisi seseorang dalam masyarakat hampir sepenuhnya ditentukan oleh keluarga tempat ia dilahirkan. Sekarang, seorang anak tukang ojek pun bisa menjadi manajer di perusahaan besar asalkan ia memiliki kemampuan dan jaringan yang tepat. Namun, jangan salah, kemudahan berpindah posisi ini tidak membuat sistem sosial menjadi adil bagi semua orang. Di kota-kota besar misalnya, kita bisa melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana seorang pegawai kantoran yang duduk di lantai dua puluh sebuah gedung mewah memiliki gaya hidup yang jauh berbeda dengan petugas kebersihan di gedung yang sama. Mereka berada dalam satu sistem sosial yang sama karena sama-sama bekerja di perusahaan itu, tetapi akses terhadap fasilitas, penghargaan, dan kekuasaan sungguh berbeda jauh. Sistem sosial modern juga dicirikan oleh spesialisasi peran yang sangat rinci. Tidak ada lagi seorang petani yang sekaligus menjadi pandai besi dan guru ngaji. Sekarang ada dokter gigi spesialis saraf, ada teknisi yang hanya memperbaiki satu merek mesin fotokopi, ada penulis yang hanya membuat judul berita tanpa menulis isinya. Setiap peran ini membawa harapan tertentu dari orang-orang di sekitarnya. Ketika seorang guru tidak datang tepat waktu, misalnya, sistem sosial akan memberinya teguran, baik secara halus melalui desas-desus maupun secara resmi melalui peringatan tertulis.
Sistem Budaya sebagai Kode Rahasia Perilaku Manusia.
Jika sistem sosial adalah kerangka luar yang kasat mata, maka sistem budaya adalah perangkat lunak yang mengendalikan semuanya dari dalam. Sistem budaya mencakup kepercayaan dasar tentang hal-hal yang layak diperjuangkan dan hal-hal yang harus dihindari. Di masyarakat yang sudah sangat terpengaruh oleh modernitas, kita bisa menemukan satu nilai yang paling menonjol, yaitu kebebasan individu untuk menentukan jalannya sendiri. Orang didorong untuk tidak terlalu bergantung pada keluarga atau kampung halaman. Mereka diajarkan bahwa sukses adalah sesuatu yang harus diraih sendiri, bukan warisan. Namun di sisi lain, nilai-nilai lama seperti gotong royong dan rasa hormat kepada yang lebih tua masih tersisa, meskipun bentuknya sudah banyak berubah. Misalnya, gotong royong sekarang lebih sering muncul dalam bentuk sumbangan daring untuk korban bencana, bukan lagi kerja bakti membersihkan selokan bersama-sama. Sistem budaya juga menciptakan simbol-simbol yang sangat kuat. Sebuah tas bermerek atau ponsel generasi terbaru tidak lagi sekadar alat, ia sudah berubah menjadi pernyataan tentang siapa pemiliknya di mata publik. Karena semua ini berlangsung begitu cepat, seringkali kita tidak sadar bahwa budaya telah membentuk keinginan kita. Kita mengira kita bebas memilih, padahal pilihan kita sudah sangat dipengaruhi oleh apa yang dianggap keren, modern, atau berkelas oleh lingkungan sekitar.
Saling Kejar Antara Struktur dan Makna.
Sistem sosial dan sistem budaya tidak pernah diam. Mereka seperti dua orang penari yang terus mengubah gerakan berdasarkan gerakan pasangannya. Kadang sistem sosial berubah lebih dulu, kemudian sistem budaya mengikutinya. Contohnya, ketika sebuah kantor memutuskan untuk menghapus ruang tertutup para direktur dan menggantinya dengan meja panjang terbuka, maka struktur kekuasaan yang kaku perlahan mencair. Karyawan yang dulu takut berbicara kini mulai berani menyampaikan pendapat. Budaya kerja menjadi lebih egaliter, dan loyalitas tidak lagi diukur dari jam kedatangan tetapi dari hasil kerja. Pada kesempatan lain, perubahan justru datang dari sistem budaya. Bayangkan bagaimana gerakan kesetaraan gender yang tumbuh dari perubahan cara pandang di media sosial dan diskusi publik. Setelah nilai-nilai ini mulai menguat di kepala banyak orang, perlahan sistem sosial pun berubah. Perusahaan yang dulu hanya merekrut laki-laki untuk posisi tertentu mulai membuka peluang bagi perempuan. Partai politik yang sebelumnya enggan mencalonkan perempuan kini berlomba-lomba menampilkan kader perempuan. Namun seringkali proses ini tidak berjalan mulus. Terkadang sistem sosial yang baru bertabrakan dengan sistem budaya yang masih setia pada nilai lama. Dalam kondisi seperti ini, muncullah apa yang sering kita sebut kegelisahan sosial, misalnya ketika orang tua merasa anaknya terlalu individualistis, atau ketika seorang pemimpin muda dianggap kurang ajar karena tidak mengikuti protokol lama.
Ciri Khas Masyarakat Modern dari Dua Sudut Pandang.
Dari penjelasan di atas, kita bisa menarik beberapa ciri yang sangat khas dari masyarakat modern. Pertama, sistem sosial modern sangat terintegrasi tetapi juga sangat rapuh. Seorang petani di lereng gunung, sopir truk pengangkut sayur, pedagang di pasar induk, dan pembeli di supermarket ternyata terhubung dalam satu rantai yang panjang. Jika satu mata rantai putus, semua yang lain merasakan dampaknya. Kedua, sistem budaya modern sangat menghargai bukti dan logika. Hal-hal yang tidak bisa diukur atau dihitung sering dianggap kurang penting. Inilah mengapa nasihat nenek-nenek tentang ramalan berdasarkan weton mulai ditinggalkan, digantikan oleh prediksi cuaca dari aplikasi di ponsel. Ketiga, masyarakat modern memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap perbedaan, tetapi juga sering kehilangan pegangan moral yang jelas. Dulu, hampir semua orang di satu desa sepakat tentang mana yang benar dan mana yang salah. Sekarang, di kota besar yang dihuni pendatang dari berbagai latar belakang, kebenaran menjadi sesuatu yang bisa ditawar. Hal ini melahirkan sikap terbuka yang luar biasa, tetapi juga membuat banyak orang merasa bingung dan cemas karena tidak ada satu standar pun yang bisa dipegang bersama.
Analisis Fenomena Perilaku Membeli Berlebihan di Pusat Perbelanjaan dan Dunia Maya. Sekarang mari kita gunakan kedua pisau analisis ini untuk membedah satu fenomena yang sudah sangat biasa kita lihat, yaitu kebiasaan berbelanja secara berlebihan, terutama di kalangan penduduk kota dan pengguna media sosial. Jangan-jangan kita sendiri pernah melakukannya tanpa benar-benar sadar alasannya. Dari kacamata sistem sosial, kebiasaan ini muncul karena struktur kehidupan perkotaan telah menyediakan jalur yang mulus untuk berbelanja. Ada mal di setiap sudut, ada toko daring yang buka dua puluh empat jam, ada layanan pesan antar yang mengantar barang dalam hitungan jam, dan yang paling penting, ada sistem kredit dan cicilan yang membuat barang mahal terasa murah karena dibayar sedikitsedikit. Sistem sosial juga menciptakan tekanan untuk tampil setara dengan lingkungan. Di kantor, orang secara halus saling menilai dari sepatu, jam tangan, atau telepon genggam yang digunakan. Jika seseorang tidak mengikuti standar penampilan kelompoknya, ia berisiko mendapatkan julukan kuno atau pelit. Inilah sebabnya mengapa gaji bulanan sering habis sebelum tanggal tua, bukan untuk kebutuhan pokok, tetapi untuk menjaga penampilan di hadapan rekan kerja.
Dari kacamata sistem budaya, perilaku konsumtif ini disirami setiap hari oleh nilai-nilai yang mengubah arti kebahagiaan. Kebahagiaan sekarang sering dipahami sebagai kepuasan yang bisa diraih dengan cepat, dan membeli sesuatu adalah cara paling instan untuk merasakan kepuasan itu. Sebuah unggahan di media sosial secara terus-menerus menampilkan orang lain yang tampak bahagia setelah membeli barang baru, sehingga pemirsa merasa bahwa mereka juga perlu melakukan hal yang sama untuk mencapai perasaan serupa. Lebih dalam lagi, sistem budaya modern menciptakan identitas melalui kepemilikan. Seseorang bukan lagi sekadar guru atau insinyur, ia adalah “guru yang memiliki mobil listrik” atau “insinyur yang berlibur ke luar negeri”.
Barang-barang yang dibeli menjadi simbol yang mengatakan kepada dunia, saya berhasil, saya berkelas, saya pantas dihormati. Begitu simbol ini diterima secara luas, maka berlombala setiap orang untuk mengumpulkan simbol sebanyak mungkin, tanpa pernah merasa cukup. Siklus ini menjadi tidak pernah berakhir karena setiap kali satu barang berhasil dimiliki, akan muncul barang lain yang lebih baru dan lebih mahal sebagai target berikutnya.
Dampak dan Jalan Keluar dari Jerat Gaya Hidup Boros
Tentu saja, semua ini memiliki harga yang harus dibayar. Dampak sosial yang paling jelas adalah melebarnya jurang antara mereka yang bisa mengikuti permainan simbol ini dan mereka yang tidak. Mereka yang tidak mampu membeli barang-baram tertentu seringkali menarik diri dari pergaulan, merasa malu, atau bahkan terdepresi. Dalam kasus yang lebih ekstrem, tekanan untuk memiliki barang tertentu mendorong orang melakukan tindakan nekat seperti mencuri atau mencari pinjaman dari rentenir yang bunganya mencekik. Dampak budayanya tidak kalah serius. Hubungan antarmanusia menjadi dangkal karena pertemanan lebih didasarkan pada gaya hidup yang sama, bukan pada kesamaan nilai batin atau dukungan emosional. Kebahagiaan sejati yang berasal dari hubungan yang hangat dengan keluarga dan tetangga sering dikorbankan demi kepuasan sesaat dari sebuah pembelian baru.
Namun, di tengah arus besar ini, selalu ada kelompok yang melawan. Lihatlah gerakan hidup minimalis yang semakin banyak pengikutnya. Mereka secara sadar membangun sistem sosial kecil sendiri, mungkin sebuah grup diskusi daring atau komunitas pertemuan rutin, yang nilai utamanya adalah kebebasan dari barang-barang berlebihan. Dalam kelompok ini, seseorang dihormati bukan karena apa yang ia miliki, tetapi karena seberapa sedikit ia bisa hidup dengan nyaman. Perlawanan semacam ini menunjukkan bahwa tidak ada sistem sosial dan sistem budaya yang bersifat permanen. Manusia, dengan kesadarannya, selalu bisa memilih untuk tidak ikut arus utama dan membangun dunianya sendiri.
Belajar Hidup dengan Dua Kacamata Sekaligus
Akhirnya, memahami masyarakat modern bukanlah tentang memenangkan perdebatan mana yang lebih penting antara sistem sosial dan sistem budaya. Keduanya sama-sama penting dan sama-sama saling mengisi. Ketika kita hanya melihat sistem sosial, kita akan melihat manusia sebagai pion yang hanya bergerak mengikuti papan catur kehidupan. Ketika kita hanya melihat sistem budaya, kita akan melihat manusia sebagai makhluk ideal yang sepenuhnya bebas menentukan nilai-nilainya sendiri, padahal kenyataannya mereka sangat dibatasi oleh struktur di sekitarnya. Kekuatan sebenarnya terletak pada kemampuan untuk memegang kedua kacamata ini secara bergantian. Dengan begitu, kita bisa melihat mengapa seseorang yang tinggal di kamar kos sempit tetap memaksakan diri membeli ponsel mahal. Bukan karena ia bodoh atau lemah iman, tetapi karena sistem sosial mendorongnya dan sistem budaya menjebaknya secara bersamaan. Kesadaran ini tidak akan menghentikan konsumtif dalam semalam, tetapi setidaknya memberi kita ruang untuk bernapas, bertanya, dan di saat-saat tertentu berani berkata: saya tidak perlu ikut semua ini. Di situlah letak kebebasan yang sesungguhnya di tengah hiruk-pikuk dunia modern.(*)
Tugas ujian tengah semester, mata kuliah Sistem Sosial Budaya Indonesia.






