Berani Aman, Berani Bicara: PSGA dan Satgas PPKS IAIN Ternate Nyalakan Semangat Kampus Inklusif di PBAK 2026

Kompak : Kedua narasumber foto bersama ratusan mahasiswa baru usai menyampaikan materi

RANGKAIAN kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) IAIN Ternate 2026 menghadirkan sesi materi bertema “Membangun Kampus yang Aman, Nyaman, dan Inklusif” yang disampaikan secara bersama oleh Kepala Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Ternate, Masfa Malan, S.H.I., M.S.I., dan Ketua Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) IAIN Ternate, Dr. Nila Khairu, di hadapan ratusan mahasiswa baru. Yang berlangsung di aula IAIN Ternate, pada Senin (24/8/2026).

Kolaborasi dua unit ini menegaskan bahwa isu kampus aman bukan tanggung jawab satu pihak saja, melainkan kerja bersama antara fungsi edukasi-pencegahan dan fungsi penanganan.

Dalam paparannya, Masfa Malan menegaskan bahwa kampus merupakan ruang hidup mahasiswa untuk tumbuh secara utuh, baik dalam belajar, membangun relasi, berorganisasi, mengembangkan kreativitas, mengenal keberagaman, maupun membentuk karakter. Ia menjelaskan bahwa konsep aman di lingkungan kampus bersifat menyeluruh, mencakup aman secara fisik, aman secara psikis, serta bebas dari kekerasan verbal, intimidasi, perundungan (bullying), dan diskriminasi. “Rasa aman bukan bonus, melainkan fondasi belajar,” demikian salah satu pesan kunci yang ia sampaikan. Masfa turut memaparkan makna kampus yang inklusif, yakni lingkungan yang menghargai keberagaman, memberikan kesempatan yang setara, serta membuat setiap mahasiswa merasa diterima sebagai bagian dari komunitas akademik.

Sementara itu, Dr. Nila Khairu memberikan penekanan pada sisi pengenalan bentuk kekerasan seksual dan mekanisme penanganan. Merujuk pada Keputusan Dirjen Pendidikan Islam Nomor 1143 Tahun 2024 tentang Juknis PPKS PTKI, ia memaparkan empat kategori besar kekerasan seksual yang perlu dikenali mahasiswa, yaitu kekerasan verbal, kekerasan non-fisik, kekerasan fisik, serta kekerasan digital . Ia menegaskan bahwa kekerasan seksual kerap terjadi dalam relasi kuasa yang timpang, seperti dosen–mahasiswa atau senior–junior, sehingga korban kerap merasa takut atau segan melapor. “Diam bukan berarti setuju,” tegasnya, mengingatkan bahwa membiarkan kekerasan seksual terjadi pun termasuk bentuk kekerasan seksual.

Dr. Nila Khairu turut memaparkan kanal pengaduan yang dapat diakses mahasiswa apabila mengalami atau menyaksikan tindak kekerasan seksual, baik dengan melapor secara langsung ke Satgas PPKS IAIN Ternate maupun melalui kanal daring berupa tautan/barcode pengaduan yang telah disediakan. Ia menegaskan bahwa setiap laporan akan mendapat pendampingan dan perlindungan, kerahasiaan identitas pelapor dijamin, dan proses pelaporan tidak akan mengganggu status studi maupun pekerjaan pelapor. Ia mengajak mahasiswa baru untuk tidak memendam sendiri persoalan yang dialami maupun disaksikan, serta memahami bahwa Satgas PPKS siap mendengarkan dan mendampingi kapan pun dibutuhkan.

Kolaborasi PSGA dan PPKS dalam sesi ini menegaskan komitmen bersama IAIN Ternate untuk memastikan mahasiswa memiliki pemahaman yang utuh: PSGA berperan kuat di sisi promosi, edukasi, dan pencegahan, sementara PPKS memperkuat sisi penanganan, pendampingan, dan perlindungan ketika persoalan benar-benar terjadi. Dua fungsi ini saling melengkapi dalam satu ekosistem kampus yang aman.

Sesi materi juga turut diisi dengan refleksi interaktif bersama mahasiswa baru, yang diajak merenungkan bagaimana kampus yang membuat mereka merasa aman, cara menghargai teman yang berbeda, serta sikap yang perlu diambil ketika melihat teman diperlakukan tidak semestinya.

Antusiasme mahasiswa baru turut terlihat jelas dalam sesi dialog yang mengiringi paparan materi. Sejumlah pertanyaan dilontarkan secara aktif kepada kedua narasumber, mulai dari cara mengenali batas relasi yang sehat hingga langkah konkret jika mendapati teman mengalami kekerasan seksual. Antusiasme ini menjadi indikator positif bahwa isu kampus aman bukan sekadar materi seremonial, melainkan topik yang benar-benar menyentuh keresahan dan rasa ingin tahu mahasiswa baru.

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya konkret IAIN Ternate dalam menanamkan kesadaran tentang pentingnya lingkungan kampus yang aman, nyaman, dan inklusif sejak mahasiswa baru mengenal dunia perguruan tinggi, sejalan dengan semangat PBAK IAIN Ternate 2026: “Membangun Kampus yang Aman, Nyaman, dan Inklusif.”(*)

banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner banner

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *