MALAM takbiran selalu menghadirkan suasana yang khas gema takbir bersahutan, langit malam terasa lebih hidup, dan umat Islam bersiap menyambut Idulfitri dengan penuh suka cita. Namun, di tengah kemeriahan itu, muncul satu fenomena yang patut direnungkan, pawai takbiran menggunakan motor yang kian hari kian menjauh dari nilai spiritual yang seharusnya dijunjung tinggi.
Alih-alih menjadi ruang refleksi dan pengagungan terhadap kebesaran Tuhan, pawai motor justru sering berubah menjadi ajang pelampiasan euforia. Jalanan dipenuhi deru knalpot bising, konvoi panjang yang tak terkendali, hingga aksi ugal-ugalan yang mengabaikan keselamatan. Takbir yang mestinya menenangkan jiwa, tenggelam dalam hiruk-pikuk yang lebih menyerupai perayaan tanpa arah.
Fenomena ini memperlihatkan adanya pergeseran makna dalam praktik keagamaan. Tradisi yang semula sakral kini cenderung direduksi menjadi tontonan. Bahkan, tidak jarang pawai tersebut disusupi perilaku yang jauh dari nilai religius mulai dari pelanggaran lalu lintas, penggunaan petasan berlebihan, hingga aksi pamer yang berorientasi pada eksistensi di media sosial.
Lebih dari itu, fenomena ini juga mencerminkan kegelisahan yang lebih dalam, sebagian pemuda Muslim mulai kehilangan sentuhan nilai spiritual dalam praktik keagamaannya. Euforia lebih diutamakan daripada esensi, keramaian lebih dicari dari pada ketenangan.
Dalam situasi ini, takbiran tidak lagi menjadi ruang kontemplasi, melainkan sekadar momentum ekspresi tanpa arah. Padahal, dalam ajaran Islam, spiritualitas tidak hanya diukur dari seberapa meriah perayaan, tetapi dari seberapa dalam kesadaran dan ketundukan hati kepada Tuhan.
Menariknya, tradisi takbiran memiliki akar sejarah yang kuat dalam ajaran Islam. Perintah untuk mengumandangkan takbir termaktub dalam Al-Qur’an, khususnya setelah menyelesaikan ibadah puasa di bulan Ramadan, sebagai ungkapan syukur atas petunjuk dan kekuatan yang diberikan Allah SWT. Dalam praktiknya, sejak masa Nabi Muhammad , umat Islam dianjurkan menghidupkan malam Idulfitri dengan memperbanyak takbir, baik di masjid maupun di rumah, dengan penuh kekhusyukan.
Seiring perkembangan zaman, tradisi ini mengalami akulturasi budaya di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Maluku Utara. Takbiran kemudian tidak hanya dilantunkan di masjid, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk pawai obor, bedug keliling, hingga konvoi kendaraan. Pada awalnya, ini menjadi simbol syiar menyebarkan semangat kemenangan dan kebersamaan kepada masyarakat luas. Namun, ketika nilai dasarnya mulai tergerus, bentuk luar ini berisiko kehilangan makna batinnya.
Dampak sosial yang ditimbulkan juga tidak bisa diabaikan. Kemacetan, kebisingan hingga larut malam, serta potensi kecelakaan menjadi risiko nyata yang harus ditanggung masyarakat luas. Di satu sisi, ada yang merayakan, tetapi di sisi lain, ada pula yang merasa terganggu dan tidak nyaman. Di titik ini, perayaan kehilangan substansi kebersamaan yang seharusnya menjadi ruh dari Idulfitri.
Sudah saatnya tradisi ini ditinjau ulang, bukan untuk dihapus, tetapi untuk diarahkan kembali. Takbiran tidak harus selalu identik dengan konvoi kendaraan. Ia bisa dihidupkan melalui kegiatan yang lebih bermakna lantunan takbir di masjid, pawai budaya yang tertib dan terorganisir, atau bahkan refleksi diri dalam suasana yang khusyuk.
Dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW mencontohkan bahwa malam takbiran diisi dengan memperbanyak takbir, tahmid, dan tahlil sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT. Nabi Muhammad SAW tidak pernah menjadikan perayaan itu sebagai ajang hura-hura atau perilaku yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. Bahkan, dalam banyak riwayat, beliau menekankan pentingnya menjaga ketenangan, ketertiban, dan adab dalam setiap ekspresi keagamaan.
Secara filosofis, takbiran bukan sekadar ucapan “Allahu Akbar” yang diulang-ulang, melainkan sebuah pernyataan eksistensial bahwa hanya Tuhan yang Maha Besar, sementara manusia adalah makhluk yang terbatas. Dalam pengakuan itu, tersimpan kesadaran untuk menundukkan ego, meredam kesombongan, dan mengakui bahwa segala capaian selama bulan Ramadan bukanlah semata hasil usaha manusia, melainkan anugerah Ilahi.
Takbiran juga mengandung dimensi pembebasan. Ia menjadi simbol kemenangan, bukan atas orang lain, melainkan atas diri sendiri atas hawa nafsu, amarah, dan segala bentuk kelemahan batin. Karena itu, gema takbir sejatinya adalah gema kesadaran, bahwa kemenangan sejati adalah ketika manusia mampu kembali kepada fitrahnya, menjadi pribadi yang lebih bersih, lebih sabar, dan lebih berempati.
Lebih dalam lagi, takbiran adalah jembatan antara spiritualitas dan sosialitas. Ia mengajak manusia untuk tidak hanya mengagungkan Tuhan secara vertikal, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai ketuhanan dalam hubungan horizontal untuk menghormati sesama, menjaga ketertiban, dan menghadirkan kedamaian di ruang publik. Dalam konteks ini, takbiran kehilangan makna ketika justru melahirkan kegaduhan dan mengganggu orang lain.
Jika esensi takbiran adalah kemenangan spiritual, maka perayaannya pun seharusnya mencerminkan kedewasaan dan ketenangan. Bukan sekadar euforia sesaat di jalanan, tetapi kesadaran kolektif untuk menjaga makna, ketertiban, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Tanpa itu, takbiran hanya akan menjadi tradisi yang ramai, tetapi kosong makna.(*)






